Menghitung Amunisi Perang AS, Israel dan Iran, Siapa Duluan Habis?

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 12 Maret 2026 | 14:39 WIB
Menghitung Amunisi Perang AS, Israel dan Iran, Siapa Duluan Habis?
Rudal Iran
baca 10 detik
  • Donald Trump menyatakan Amerika Serikat memiliki stok senjata yang hampir tidak memiliki batas.

  • Intensitas serangan rudal balistik Iran dilaporkan menurun drastis hingga angka 86 persen.

  • Amerika Serikat mulai beralih menggunakan bom murah untuk menghancurkan sisa pertahanan Iran.

Suara.com - Ketegangan militer antara Israel, Amerika Serikat dan Iran kini memasuki babak baru yang sangat menentukan.

Presiden Donald Trump dengan percaya diri menyebutkan bahwa negaranya memiliki persediaan senjata yang hampir tidak ada habisnya.

Pernyataan ini muncul di tengah laporan mengenai intensitas serangan dari pihak Teheran yang mulai melandai.

Namun pihak kementerian pertahanan Iran tetap berdalih memiliki ketahanan yang jauh lebih kuat dari perkiraan Washington.

Data di lapangan menunjukkan bahwa kedua belah pihak telah menguras amunisi dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Institut Studi Keamanan Nasional mencatat ada ribuan serangan yang sudah dilancarkan oleh aliansi Amerika Serikat.

Setiap operasi tempur tersebut menghabiskan logistik militer dalam jumlah yang sangat masif dan mahal.

Di sisi lain Iran dilaporkan telah melepas ratusan rudal serta ribuan pesawat tanpa awak ke sasaran.

Meskipun kuantitasnya besar banyak dari kiriman senjata Iran tersebut yang berhasil dilumpuhkan di udara.

baca juga

Kondisi pertempuran yang sangat intens ini diprediksi akan sulit dipertahankan jika durasi konflik memanjang.

Laporan intelijen Barat mengindikasikan adanya penyusutan jumlah rudal yang dikirimkan oleh pihak Iran.

Pada awal konflik mereka mampu melepas ratusan unit namun kini hanya tersisa puluhan saja.

Padahal sebelumnya Iran diyakini menyimpan ribuan rudal balistik jarak pendek di dalam gudang rahasia mereka.

Jenderal Dan Caine menyebutkan peluncuran rudal balistik Iran merosot hingga 86 persen dibanding hari pertama.

"Peluncuran rudal balistik Iran turun 86% dibanding hari pertama pertempuran, Sabtu (28/02) lalu," ujar Dan Caine, dikutip dari BBC.

Iran diketahui sebagai produsen massal drone tempur jenis Shahed yang juga digunakan dalam konflik lain.

Namun data terbaru menunjukkan bahwa peluncuran pesawat tanpa awak tersebut juga mengalami penurunan 73 persen.

Penurunan ini diduga menjadi langkah strategis Iran untuk mengamankan sisa stok senjata yang ada.

Saat ini supremasi udara telah diambil alih sepenuhnya oleh jet tempur Amerika Serikat dan sekutunya.

Sistem pertahanan udara milik Iran dikabarkan sudah mengalami kerusakan parah akibat serangan bertubi-tubi.

Komando Pusat AS kini mulai mengalihkan fokus operasi pada penghancuran pabrik dan lokasi peluncuran.

Mereka berniat melumpuhkan kemampuan Iran untuk memproduksi kembali alat-alat tempur yang telah hancur.

Meskipun demikian upaya menyapu bersih seluruh senjata Iran bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah.

Luas wilayah Iran yang sangat besar memungkinkan mereka menyembunyikan aset militer di bawah tanah.

Belajar dari sejarah perang udara di wilayah lain penghancuran total kekuatan lawan memerlukan waktu lama.

Amerika Serikat tetap berdiri sebagai entitas militer dengan pendanaan dan teknologi paling maju di bumi.

Hanya saja mereka sangat bergantung pada penggunaan senjata presisi tinggi yang biaya produksinya selangit.

Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan para kontraktor pertahanan untuk membahas percepatan jalur produksi.

Saat ini militer AS mulai beralih menggunakan bom yang lebih ekonomis untuk serangan jarak dekat.

Langkah ini diambil setelah sistem pertahanan lawan dianggap sudah tidak lagi memberikan ancaman berarti.

Mark Cancian dari CSIS menyebutkan bahwa stok bom murah Amerika Serikat masih tersedia dalam jumlah puluhan ribu.

Masalah utama justru terletak pada ketersediaan rudal pencegat Patriot yang harganya mencapai puluhan miliar rupiah.

Produksi tahunan rudal jenis ini sangat terbatas sementara permintaannya sangat tinggi di seluruh dunia.

Jika Iran masih mampu memberikan perlawanan sisa stok rudal Patriot ini bisa terkuras dengan cepat.

"Jika Presiden Trump bersedia mengurangi jumlah [rudal] Patriot, saya pikir AS bisa bertahan lebih lama dari Iran—meski ada risiko potensi konflik di Pasifik," kata Cancian.

Pertemuan Trump dengan perusahaan pertahanan menunjukkan adanya kewaspadaan tinggi terkait logistik perang jangka panjang.

Namun pihak Pentagon merasa sangat optimis bahwa Iran tidak akan sanggup menandingi nafas panjang AS.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberikan penegasan kuat mengenai posisi dominan Amerika Serikat dalam konflik ini.

"Iran tidak bisa bertahan lebih lama dari kita," tegas Pete Hegseth dalam sebuah pernyataan resmi.

Dengan sumber daya yang ada kemenangan logistik tampaknya lebih condong berpihak pada Washington DC.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rudal Kiamat Iran Tembus Israel, Kecepatan Hipersonik Fattah dan Sejjil Jadi Ancaman Utama

Rudal Kiamat Iran Tembus Israel, Kecepatan Hipersonik Fattah dan Sejjil Jadi Ancaman Utama

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 14:26 WIB

Dari Kilang ke Meja Makan: Bagaimana Konflik Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Pangan

Dari Kilang ke Meja Makan: Bagaimana Konflik Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Pangan

Bisnis | Kamis, 12 Maret 2026 | 14:18 WIB

Kata-kata Tajam di Patung Mesra Trump-Epstein: Persahabatan yang Dibangun dari Pesta Liar

Kata-kata Tajam di Patung Mesra Trump-Epstein: Persahabatan yang Dibangun dari Pesta Liar

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 14:18 WIB

Terkini

Siswi Yang Diduga Hilang Ingatan Karena Keracunan MBG Dirujuk ke RSCM, Ahli Turun Tangan

Siswi Yang Diduga Hilang Ingatan Karena Keracunan MBG Dirujuk ke RSCM, Ahli Turun Tangan

News | Senin, 14 September 2026 | 19:58 WIB

Dukung Tumbuh Kembang Anak Sungai Rebo, Kilang Plaju Salurkan PMT di Posyandu Asparagus

Dukung Tumbuh Kembang Anak Sungai Rebo, Kilang Plaju Salurkan PMT di Posyandu Asparagus

Sumsel | Senin, 14 September 2026 | 19:56 WIB

Kenali Identitas Bangsa Lewat Manuskrip: Perpusnas Gelar Pameran Merawat Ingatan Sepanjang September

Kenali Identitas Bangsa Lewat Manuskrip: Perpusnas Gelar Pameran Merawat Ingatan Sepanjang September

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 19:54 WIB

Kesaksian Pengasuh Daycare Little Aresha Bongkar Penipuan Fasilitas Anak

Kesaksian Pengasuh Daycare Little Aresha Bongkar Penipuan Fasilitas Anak

News | Senin, 14 September 2026 | 19:51 WIB

Sederet Pekerjaan Rumah Menkeu Suahasil: Fiskal Daerah Terjepit, MBG-KDMP Disorot

Sederet Pekerjaan Rumah Menkeu Suahasil: Fiskal Daerah Terjepit, MBG-KDMP Disorot

News | Senin, 14 September 2026 | 19:49 WIB

Lebih dari Beasiswa, PNM Bekali Anak Nasabah Mekaar Jadi Future Changemaker

Lebih dari Beasiswa, PNM Bekali Anak Nasabah Mekaar Jadi Future Changemaker

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 19:48 WIB

Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'

Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 19:47 WIB

Asa Belum Padam, Operasi Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda Diperpanjang Tiga Hari

Asa Belum Padam, Operasi Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda Diperpanjang Tiga Hari

News | Senin, 14 September 2026 | 19:44 WIB

Gempa M 5,5 Guncang Banten: Benda Gantung Bergoyang, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

Gempa M 5,5 Guncang Banten: Benda Gantung Bergoyang, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

News | Senin, 14 September 2026 | 19:41 WIB

Suahasil ke Pelaku Pasar: Kebijakan Purbaya Soal APBN Tetap Dilanjut

Suahasil ke Pelaku Pasar: Kebijakan Purbaya Soal APBN Tetap Dilanjut

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 19:34 WIB

×