Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.715.000
Beli Rp2.570.000
IHSG 5.902,376
LQ45 589,478
Srikehati 287,394
JII 351,837
USD/IDR 17.966

Dari Kilang ke Meja Makan: Bagaimana Konflik Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Pangan

M Nurhadi

Kamis, 12 Maret 2026 | 14:18 WIB
Dari Kilang ke Meja Makan: Bagaimana Konflik Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Pangan
Ilustrasi konflik AS-Israel-Iran di selat hormuz picu kenaikan pangan internasional [Suara.com]
  • Eskalasi militer AS-Israel melawan Iran sejak 28 Februari menyebabkan harga minyak mentah melampaui $100 per barel karena ancaman stabilitas Selat Hormuz.
  • Selat Hormuz, jalur 20 persen pasokan minyak dunia, kini terancam serangan drone asimetris, membahayakan pasar Asia yang mengimpor 89 persen minyaknya.
  • Dampak kenaikan minyak mengancam inflasi logistik dan pembengkakan subsidi energi di Indonesia, meskipun diversifikasi pasokan sedang diupayakan.

Suara.com - Ketidakpastian energi global kini berada pada titik nadir. Untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022, harga minyak mentah dunia meroket melampaui angka psikologis $100 per barel pekan ini.

Gelombang kejut ini dipicu oleh eskalasi militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu, menciptakan efek domino yang mengancam stabilitas ekonomi dari pasar global hingga pelaku usaha mikro di pelosok daerah.

Fokus dunia kini tertuju pada Selat Hormuz, sebuah arteri maritim yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Meski lebarnya hanya 39 kilometer di titik terpencil, jalur ini adalah urat nadi bagi 20 persen pasokan minyak dunia.

Data dari US Energy Information Administration (EIA) menyebutkan lebih dari 20 juta barel minyak melintas di sini setiap harinya.

Angka tersebut mewakili seperlima konsumsi minyak global dan seperempat dari seluruh perdagangan minyak via laut. Tanpa kelancaran arus di titik ini, rantai pasok global dipastikan lumpuh.

Analisis dari Ismayil Jabiyev, pakar rantai pasok CarbonChain, menyebut bahwa risiko saat ini bukan terletak pada blokade fisik.

"Iran tidak membangun tembok di tengah laut. Namun, penggunaan drone murah menjadi ancaman asimetris yang mematikan. Meskipun situs peluncuran dihancurkan, serangan tersembunyi bisa berlangsung berbulan-bulan, menjaga level risiko tetap tinggi di mata investor," jelas Jabiyev, yang dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (12/3/2026).

Asia di Garis Depan Kerentanan

Sekitar 89 persen minyak yang melalui Selat Hormuz mengalir ke pasar Asia, dengan China, India, Jepang, dan Korea Selatan, termasuk Indonesia.

Meskipun terdapat jalur alternatif seperti pipa transmisi East-West milik Saudi Aramco dan pipa Habshan-Fujairah di UEA, kapasitasnya hanya mampu menampung sekitar 4,7 juta barel per hari.

Jumlah tersebut jauh dari cukup untuk menambal defisit 15 juta barel per hari jika lalu lintas kapal tanker benar-benar terhenti total.

Dunia kini menghadapi ancaman nyata akan kekurangan pasokan yang masif, serupa dengan guncangan saat Perang Teluk 1990-1991.

Dari Bahan Bakar hingga Meja Makan: Efek Berantai ke UMKM

Dampak kenaikan harga minyak tidak hanya berhenti di SPBU. Minyak mentah adalah bahan dasar dari ribuan produk esensial, mulai dari plastik, serat sintetis (poliester dan nilon), hingga deterjen dan cat.

Bahkan, keamanan pangan global bergantung pada gas alam dan minyak untuk produksi pupuk.

Ekonom David McWilliams menegaskan bahwa transportasi adalah "darah" ekonomi global. Ketika biaya logistik naik, harga pangan akan mengekor secara instan.

Ketakutan akan stagflasi—kondisi di mana inflasi meroket sementara angka pengangguran meningkat—kini membayangi banyak negara, terutama negara berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada impor gandum dan pupuk.

Meskipun Indonesia adalah negara penghasil minyak, negara ini sudah lama menjadi net importer (lebih banyak membeli daripada menjual). Indonesia adalah bangsa yang gemar membeli minyak meski dianugerahi minyak.

Hingga awal tahun ini, sekitar 25% hingga 30% kebutuhan minyak mentah Indonesia diimpor dari kawasan Timur Tengah, dengan Arab Saudi sebagai pemasok utama.

Minyak jenis Arab Light sangat krusial karena spesifikasinya cocok dengan kilang-kilang besar kita seperti Kilang Cilacap.

Sebagian besar BBM (Pertalite/Solar) kita impor dari Singapura atau Malaysia. Masalahnya, kilang di negara tetangga tersebut juga mengolah minyak yang mayoritas berasal dari Timur Tengah.

Jika Selat Hormuz tersumbat, pasokan ke kilang-kilang tersebut terganggu, dan harga jual ke Indonesia otomatis meroket.

Meski kini harga minyak sudah turun di angka USD 90 per barel, Indonesia diproyeksi akan menghadapi tiga hantaman utama jika harga minyak masih belum stabil di bawah level USD 80, seperti:

  1. Pembengkakan Subsidi APBN: Setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar USD 1, beban subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG) di APBN akan meningkat triliunan rupiah.
  2. Inflasi Sektor Logistik: Harga BBM yang naik akan memicu kenaikan biaya angkut barang. Hal ini langsung berdampak pada harga bahan pokok di pasar.
  3. Defisit Dagang: Nilai impor migas yang membengkak akan menekan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS (seperti fenomena pelemahan ke level Rp16.800+ yang kita bahas sebelumnya).

Bagaimana Indonesia Menghadapi Krisis Ini?

Pemerintah dan Pertamina telah menyiapkan beberapa "sekoci" darurat untuk meredam dampak krisis di Selat Hormuz, seperti melakukan diversifikasi pasokan, Pertamina mulai mengalihkan pembelian minyak mentah ke negara-negara di luar kawasan Teluk, seperti Afrika Barat (Nigeria), Kazakhstan, hingga Amerika Serikat. Tujuannya agar jika Hormuz ditutup, pasokan fisik ke kilang domestik tidak berhenti total.

Selain itu, sebagai "raja" sawit, pemerintah Indonesia kian getol Dengan mencampur minyak sawit ke dalam Solar (program B35 atau B40), Indonesia bisa menghemat devisa impor solar hingga ratusan triliun rupiah per tahun. Ini adalah perisai utama kita saat harga minyak dunia tak terkendali.

Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan bahwa perang "sudah hampir usai", pasar tetap skeptis. Selama stabilitas di Selat Hormuz belum terjamin, Indonesia harus bersiap menghadapi periode ekonomi yang menantang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Eks Pilot F-16 Bongkar Skenario Kudeta CIA dan Mossad di Iran

Eks Pilot F-16 Bongkar Skenario Kudeta CIA dan Mossad di Iran

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 14:03 WIB

Tiarap! Eks Intel US Army Bongkar Jenis Drone Kamikaze Iran Bisa Hantam Jantung AS

Tiarap! Eks Intel US Army Bongkar Jenis Drone Kamikaze Iran Bisa Hantam Jantung AS

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 14:01 WIB

Iran Tak Juga Tumbang, Trump Dipukul Kasus Lama: Skandal Penipuan Rp7 T Masuki Babak Baru

Iran Tak Juga Tumbang, Trump Dipukul Kasus Lama: Skandal Penipuan Rp7 T Masuki Babak Baru

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 13:44 WIB

Atasi Darurat Sampah, Pemerintah Kejar Setoran 14 Proyek Waste to Energy

Atasi Darurat Sampah, Pemerintah Kejar Setoran 14 Proyek Waste to Energy

Bisnis | Kamis, 12 Maret 2026 | 13:23 WIB

Investigasi Militer Amerika Akui Kesalahan Fatal: Rudal Tomahawk Hantam Sekolah di Iran

Investigasi Militer Amerika Akui Kesalahan Fatal: Rudal Tomahawk Hantam Sekolah di Iran

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 13:05 WIB

Iran Resmi Mundur, Indonesia Sebaiknya Tak Ambil Kesempatan Meski Ada Peluang untuk Gantikan

Iran Resmi Mundur, Indonesia Sebaiknya Tak Ambil Kesempatan Meski Ada Peluang untuk Gantikan

Your Say | Kamis, 12 Maret 2026 | 12:45 WIB

Terkini

Survei Konsumen BI Laporkan Indeks Keyakinan Konsumen Menurun di Mei 2026

Survei Konsumen BI Laporkan Indeks Keyakinan Konsumen Menurun di Mei 2026

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 09:06 WIB

Emiten BMHS Gunakan Capex Bangun Skybridge, Berapa Besarannya?

Emiten BMHS Gunakan Capex Bangun Skybridge, Berapa Besarannya?

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 08:49 WIB

Inflasi Melejit ke 3,08 Persen, Apa Dampaknya?

Inflasi Melejit ke 3,08 Persen, Apa Dampaknya?

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 08:30 WIB

Intiland Tahan Dividen, Fokus Pangkas Utang dan Kejar Penjualan Rp1,95 Triliun

Intiland Tahan Dividen, Fokus Pangkas Utang dan Kejar Penjualan Rp1,95 Triliun

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 08:08 WIB

PMB 2026 Universitas Nusa Mandiri Gelombang 4 Dibuka! Daftar Program S1 Hingga Doktoral (S3)

PMB 2026 Universitas Nusa Mandiri Gelombang 4 Dibuka! Daftar Program S1 Hingga Doktoral (S3)

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 08:00 WIB

Kewajiban Neto Investasi Turun Jadi 227,6 Miliar Dolar AS, Ini Biang Keroknya

Kewajiban Neto Investasi Turun Jadi 227,6 Miliar Dolar AS, Ini Biang Keroknya

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 07:46 WIB

GSMS 2026 Soroti Tantangan Komunikasi Pemerintah di Tengah Fragmentasi Media

GSMS 2026 Soroti Tantangan Komunikasi Pemerintah di Tengah Fragmentasi Media

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 07:23 WIB

Jadi Aset Negara, Pemerintah Bakal Revitalisasi Kawasan Kemayoran Indah Golf

Jadi Aset Negara, Pemerintah Bakal Revitalisasi Kawasan Kemayoran Indah Golf

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 07:10 WIB

Pipa Cisem II Beroperasi Penuh, KITB Dapat Suntikan Energi Baru

Pipa Cisem II Beroperasi Penuh, KITB Dapat Suntikan Energi Baru

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 20:23 WIB

Borok Investasi Asing Mencuat, Sering Terlantarkan Hak Pekerja

Borok Investasi Asing Mencuat, Sering Terlantarkan Hak Pekerja

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 20:17 WIB