Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Dari Kilang ke Meja Makan: Bagaimana Konflik Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Pangan

M Nurhadi

Kamis, 12 Maret 2026 | 14:18 WIB
Dari Kilang ke Meja Makan: Bagaimana Konflik Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Pangan
Ilustrasi konflik AS-Israel-Iran di selat hormuz picu kenaikan pangan internasional [Suara.com]
baca 10 detik
  • Eskalasi militer AS-Israel melawan Iran sejak 28 Februari menyebabkan harga minyak mentah melampaui $100 per barel karena ancaman stabilitas Selat Hormuz.
  • Selat Hormuz, jalur 20 persen pasokan minyak dunia, kini terancam serangan drone asimetris, membahayakan pasar Asia yang mengimpor 89 persen minyaknya.
  • Dampak kenaikan minyak mengancam inflasi logistik dan pembengkakan subsidi energi di Indonesia, meskipun diversifikasi pasokan sedang diupayakan.

Suara.com - Ketidakpastian energi global kini berada pada titik nadir. Untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022, harga minyak mentah dunia meroket melampaui angka psikologis $100 per barel pekan ini.

Gelombang kejut ini dipicu oleh eskalasi militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu, menciptakan efek domino yang mengancam stabilitas ekonomi dari pasar global hingga pelaku usaha mikro di pelosok daerah.

Fokus dunia kini tertuju pada Selat Hormuz, sebuah arteri maritim yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Meski lebarnya hanya 39 kilometer di titik terpencil, jalur ini adalah urat nadi bagi 20 persen pasokan minyak dunia.

Data dari US Energy Information Administration (EIA) menyebutkan lebih dari 20 juta barel minyak melintas di sini setiap harinya.

Angka tersebut mewakili seperlima konsumsi minyak global dan seperempat dari seluruh perdagangan minyak via laut. Tanpa kelancaran arus di titik ini, rantai pasok global dipastikan lumpuh.

Analisis dari Ismayil Jabiyev, pakar rantai pasok CarbonChain, menyebut bahwa risiko saat ini bukan terletak pada blokade fisik.

"Iran tidak membangun tembok di tengah laut. Namun, penggunaan drone murah menjadi ancaman asimetris yang mematikan. Meskipun situs peluncuran dihancurkan, serangan tersembunyi bisa berlangsung berbulan-bulan, menjaga level risiko tetap tinggi di mata investor," jelas Jabiyev, yang dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (12/3/2026).

Asia di Garis Depan Kerentanan

Sekitar 89 persen minyak yang melalui Selat Hormuz mengalir ke pasar Asia, dengan China, India, Jepang, dan Korea Selatan, termasuk Indonesia.

baca juga

Meskipun terdapat jalur alternatif seperti pipa transmisi East-West milik Saudi Aramco dan pipa Habshan-Fujairah di UEA, kapasitasnya hanya mampu menampung sekitar 4,7 juta barel per hari.

Jumlah tersebut jauh dari cukup untuk menambal defisit 15 juta barel per hari jika lalu lintas kapal tanker benar-benar terhenti total.

Dunia kini menghadapi ancaman nyata akan kekurangan pasokan yang masif, serupa dengan guncangan saat Perang Teluk 1990-1991.

Dari Bahan Bakar hingga Meja Makan: Efek Berantai ke UMKM

Dampak kenaikan harga minyak tidak hanya berhenti di SPBU. Minyak mentah adalah bahan dasar dari ribuan produk esensial, mulai dari plastik, serat sintetis (poliester dan nilon), hingga deterjen dan cat.

Bahkan, keamanan pangan global bergantung pada gas alam dan minyak untuk produksi pupuk.

Ekonom David McWilliams menegaskan bahwa transportasi adalah "darah" ekonomi global. Ketika biaya logistik naik, harga pangan akan mengekor secara instan.

Ketakutan akan stagflasi—kondisi di mana inflasi meroket sementara angka pengangguran meningkat—kini membayangi banyak negara, terutama negara berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada impor gandum dan pupuk.

Meskipun Indonesia adalah negara penghasil minyak, negara ini sudah lama menjadi net importer (lebih banyak membeli daripada menjual). Indonesia adalah bangsa yang gemar membeli minyak meski dianugerahi minyak.

Hingga awal tahun ini, sekitar 25% hingga 30% kebutuhan minyak mentah Indonesia diimpor dari kawasan Timur Tengah, dengan Arab Saudi sebagai pemasok utama.

Minyak jenis Arab Light sangat krusial karena spesifikasinya cocok dengan kilang-kilang besar kita seperti Kilang Cilacap.

Sebagian besar BBM (Pertalite/Solar) kita impor dari Singapura atau Malaysia. Masalahnya, kilang di negara tetangga tersebut juga mengolah minyak yang mayoritas berasal dari Timur Tengah.

Jika Selat Hormuz tersumbat, pasokan ke kilang-kilang tersebut terganggu, dan harga jual ke Indonesia otomatis meroket.

Meski kini harga minyak sudah turun di angka USD 90 per barel, Indonesia diproyeksi akan menghadapi tiga hantaman utama jika harga minyak masih belum stabil di bawah level USD 80, seperti:

  1. Pembengkakan Subsidi APBN: Setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar USD 1, beban subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG) di APBN akan meningkat triliunan rupiah.
  2. Inflasi Sektor Logistik: Harga BBM yang naik akan memicu kenaikan biaya angkut barang. Hal ini langsung berdampak pada harga bahan pokok di pasar.
  3. Defisit Dagang: Nilai impor migas yang membengkak akan menekan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS (seperti fenomena pelemahan ke level Rp16.800+ yang kita bahas sebelumnya).

Bagaimana Indonesia Menghadapi Krisis Ini?

Pemerintah dan Pertamina telah menyiapkan beberapa "sekoci" darurat untuk meredam dampak krisis di Selat Hormuz, seperti melakukan diversifikasi pasokan, Pertamina mulai mengalihkan pembelian minyak mentah ke negara-negara di luar kawasan Teluk, seperti Afrika Barat (Nigeria), Kazakhstan, hingga Amerika Serikat. Tujuannya agar jika Hormuz ditutup, pasokan fisik ke kilang domestik tidak berhenti total.

Selain itu, sebagai "raja" sawit, pemerintah Indonesia kian getol Dengan mencampur minyak sawit ke dalam Solar (program B35 atau B40), Indonesia bisa menghemat devisa impor solar hingga ratusan triliun rupiah per tahun. Ini adalah perisai utama kita saat harga minyak dunia tak terkendali.

Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan bahwa perang "sudah hampir usai", pasar tetap skeptis. Selama stabilitas di Selat Hormuz belum terjamin, Indonesia harus bersiap menghadapi periode ekonomi yang menantang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Eks Pilot F-16 Bongkar Skenario Kudeta CIA dan Mossad di Iran

Eks Pilot F-16 Bongkar Skenario Kudeta CIA dan Mossad di Iran

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 14:03 WIB

Tiarap! Eks Intel US Army Bongkar Jenis Drone Kamikaze Iran Bisa Hantam Jantung AS

Tiarap! Eks Intel US Army Bongkar Jenis Drone Kamikaze Iran Bisa Hantam Jantung AS

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 14:01 WIB

Iran Tak Juga Tumbang, Trump Dipukul Kasus Lama: Skandal Penipuan Rp7 T Masuki Babak Baru

Iran Tak Juga Tumbang, Trump Dipukul Kasus Lama: Skandal Penipuan Rp7 T Masuki Babak Baru

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 13:44 WIB

Atasi Darurat Sampah, Pemerintah Kejar Setoran 14 Proyek Waste to Energy

Atasi Darurat Sampah, Pemerintah Kejar Setoran 14 Proyek Waste to Energy

Bisnis | Kamis, 12 Maret 2026 | 13:23 WIB

Investigasi Militer Amerika Akui Kesalahan Fatal: Rudal Tomahawk Hantam Sekolah di Iran

Investigasi Militer Amerika Akui Kesalahan Fatal: Rudal Tomahawk Hantam Sekolah di Iran

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 13:05 WIB

Iran Resmi Mundur, Indonesia Sebaiknya Tak Ambil Kesempatan Meski Ada Peluang untuk Gantikan

Iran Resmi Mundur, Indonesia Sebaiknya Tak Ambil Kesempatan Meski Ada Peluang untuk Gantikan

Your Say | Kamis, 12 Maret 2026 | 12:45 WIB

Terkini

Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih

Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih

Health | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:54 WIB

Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat,  Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional

Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional

Otomotif | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:50 WIB

Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026

Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026

Bola | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:42 WIB

Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah

Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:34 WIB

Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi

Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi

News | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:31 WIB

MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan

MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan

Otomotif | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:07 WIB

Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap

Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:38 WIB

Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta

Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta

Jatim | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:30 WIB

Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal

Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal

Sumbar | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:24 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda

Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda

Lampung | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:19 WIB

×