- Eskalasi militer AS-Israel melawan Iran sejak 28 Februari menyebabkan harga minyak mentah melampaui $100 per barel karena ancaman stabilitas Selat Hormuz.
- Selat Hormuz, jalur 20 persen pasokan minyak dunia, kini terancam serangan drone asimetris, membahayakan pasar Asia yang mengimpor 89 persen minyaknya.
- Dampak kenaikan minyak mengancam inflasi logistik dan pembengkakan subsidi energi di Indonesia, meskipun diversifikasi pasokan sedang diupayakan.
Suara.com - Ketidakpastian energi global kini berada pada titik nadir. Untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022, harga minyak mentah dunia meroket melampaui angka psikologis $100 per barel pekan ini.
Gelombang kejut ini dipicu oleh eskalasi militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu, menciptakan efek domino yang mengancam stabilitas ekonomi dari pasar global hingga pelaku usaha mikro di pelosok daerah.
Fokus dunia kini tertuju pada Selat Hormuz, sebuah arteri maritim yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Meski lebarnya hanya 39 kilometer di titik terpencil, jalur ini adalah urat nadi bagi 20 persen pasokan minyak dunia.
Data dari US Energy Information Administration (EIA) menyebutkan lebih dari 20 juta barel minyak melintas di sini setiap harinya.
Angka tersebut mewakili seperlima konsumsi minyak global dan seperempat dari seluruh perdagangan minyak via laut. Tanpa kelancaran arus di titik ini, rantai pasok global dipastikan lumpuh.
Analisis dari Ismayil Jabiyev, pakar rantai pasok CarbonChain, menyebut bahwa risiko saat ini bukan terletak pada blokade fisik.
"Iran tidak membangun tembok di tengah laut. Namun, penggunaan drone murah menjadi ancaman asimetris yang mematikan. Meskipun situs peluncuran dihancurkan, serangan tersembunyi bisa berlangsung berbulan-bulan, menjaga level risiko tetap tinggi di mata investor," jelas Jabiyev, yang dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (12/3/2026).
Asia di Garis Depan Kerentanan
Sekitar 89 persen minyak yang melalui Selat Hormuz mengalir ke pasar Asia, dengan China, India, Jepang, dan Korea Selatan, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Jubir Militer Houthi Yaman: Iran Akan Hancurkan AS dan Rezim Zionis Israel!
Meskipun terdapat jalur alternatif seperti pipa transmisi East-West milik Saudi Aramco dan pipa Habshan-Fujairah di UEA, kapasitasnya hanya mampu menampung sekitar 4,7 juta barel per hari.
Jumlah tersebut jauh dari cukup untuk menambal defisit 15 juta barel per hari jika lalu lintas kapal tanker benar-benar terhenti total.
Dunia kini menghadapi ancaman nyata akan kekurangan pasokan yang masif, serupa dengan guncangan saat Perang Teluk 1990-1991.
Dari Bahan Bakar hingga Meja Makan: Efek Berantai ke UMKM
Dampak kenaikan harga minyak tidak hanya berhenti di SPBU. Minyak mentah adalah bahan dasar dari ribuan produk esensial, mulai dari plastik, serat sintetis (poliester dan nilon), hingga deterjen dan cat.
Bahkan, keamanan pangan global bergantung pada gas alam dan minyak untuk produksi pupuk.
Ekonom David McWilliams menegaskan bahwa transportasi adalah "darah" ekonomi global. Ketika biaya logistik naik, harga pangan akan mengekor secara instan.
Ketakutan akan stagflasi—kondisi di mana inflasi meroket sementara angka pengangguran meningkat—kini membayangi banyak negara, terutama negara berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada impor gandum dan pupuk.
Meskipun Indonesia adalah negara penghasil minyak, negara ini sudah lama menjadi net importer (lebih banyak membeli daripada menjual). Indonesia adalah bangsa yang gemar membeli minyak meski dianugerahi minyak.
Hingga awal tahun ini, sekitar 25% hingga 30% kebutuhan minyak mentah Indonesia diimpor dari kawasan Timur Tengah, dengan Arab Saudi sebagai pemasok utama.
Minyak jenis Arab Light sangat krusial karena spesifikasinya cocok dengan kilang-kilang besar kita seperti Kilang Cilacap.
Sebagian besar BBM (Pertalite/Solar) kita impor dari Singapura atau Malaysia. Masalahnya, kilang di negara tetangga tersebut juga mengolah minyak yang mayoritas berasal dari Timur Tengah.
Jika Selat Hormuz tersumbat, pasokan ke kilang-kilang tersebut terganggu, dan harga jual ke Indonesia otomatis meroket.
Meski kini harga minyak sudah turun di angka USD 90 per barel, Indonesia diproyeksi akan menghadapi tiga hantaman utama jika harga minyak masih belum stabil di bawah level USD 80, seperti:
- Pembengkakan Subsidi APBN: Setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar USD 1, beban subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG) di APBN akan meningkat triliunan rupiah.
- Inflasi Sektor Logistik: Harga BBM yang naik akan memicu kenaikan biaya angkut barang. Hal ini langsung berdampak pada harga bahan pokok di pasar.
- Defisit Dagang: Nilai impor migas yang membengkak akan menekan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS (seperti fenomena pelemahan ke level Rp16.800+ yang kita bahas sebelumnya).
Bagaimana Indonesia Menghadapi Krisis Ini?
Pemerintah dan Pertamina telah menyiapkan beberapa "sekoci" darurat untuk meredam dampak krisis di Selat Hormuz, seperti melakukan diversifikasi pasokan, Pertamina mulai mengalihkan pembelian minyak mentah ke negara-negara di luar kawasan Teluk, seperti Afrika Barat (Nigeria), Kazakhstan, hingga Amerika Serikat. Tujuannya agar jika Hormuz ditutup, pasokan fisik ke kilang domestik tidak berhenti total.
Selain itu, sebagai "raja" sawit, pemerintah Indonesia kian getol Dengan mencampur minyak sawit ke dalam Solar (program B35 atau B40), Indonesia bisa menghemat devisa impor solar hingga ratusan triliun rupiah per tahun. Ini adalah perisai utama kita saat harga minyak dunia tak terkendali.
Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan bahwa perang "sudah hampir usai", pasar tetap skeptis. Selama stabilitas di Selat Hormuz belum terjamin, Indonesia harus bersiap menghadapi periode ekonomi yang menantang.