- Jurgen Habermas, filsuf dan sosiolog Jerman terkemuka, meninggal dunia pada usia 96 tahun di Starnberg, Sabtu (14/3/2026).
- Karya utamanya meliputi "Transformasi Struktural Ruang Publik" dan "Teori Tindakan Komunikatif" yang berpengaruh besar.
- Sebagai generasi kedua Mazhab Frankfurt, ia dikenal sebagai intelektual publik yang aktif membahas isu demokrasi modern.
Melalui teori ini, Habermas berargumen bahwa kunci dari kemajuan sosial bukanlah kekuasaan atau dominasi, melainkan kemampuan manusia untuk mencapai kesepahaman melalui dialog yang bebas dari paksaan.
Bahkan pada usia yang sangat senja, produktivitas Habermas tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Tahun 2019, di usia 90 tahun, ia merilis karya raksasa setebal 1.750 halaman berjudul Auch eine Geschichte der Philosophie—'Juga Sebuah Sejarah Filsafat'.
Buku ini mengeksplorasi ketegangan antara iman dan pengetahuan. Dunia akademik menilai karya ini sebagai "karya hari tua yang mengesankan", "nyaris tidak tertandingi dalam kekuatan desain sistematisnya", namun juga sekaligus menjadi "tantangan bagi setiap pembaca".
Ketajaman berpikirnya juga sering ia salurkan untuk merespons isu-isu politik kontemporer.
Ia tidak ragu bersuara mengenai Perang Kosovo, perkembangan riset otak, hingga konflik agama global.
Karakteristik khasnya saat berbicara, yang dipengaruhi oleh kondisi sumbing langit-langit bawaan, justru menjadi simbol dari keteguhan intelektualnya yang tidak pernah surut oleh hambatan fisik.
Pada ulang tahunnya yang ke-80, Habermas memutuskan untuk menyerahkan seluruh arsip pribadinya kepada Universitas Frankfurt, yang kemudian mulai dapat diakses oleh para peneliti sejak ia berusia 85 tahun.
Warisan ini kini menjadi harta karun bagi generasi muda yang ingin mendalami bagaimana pikiran seorang manusia dapat memengaruhi arah perjalanan sebuah bangsa dan sistem demokrasi global.
Baca Juga: Membedah Makna Damai di Buku Seneca Filsafat Hidup Bahagia
Kepergian Jürgen Habermas meninggalkan lubang besar dalam diskursus filsafat dan sosiologi.
Di tengah dunia yang kian terpolarisasi, seruannya tentang pentingnya "ruang publik" dan "tindakan komunikatif" tetap menjadi mercusuar bagi siapa saja yang masih percaya pada kekuatan akal budi dan dialog dalam memecahkan masalah kemanusiaan.