Nasib 21 Ribu Motor Listrik Era Dadan, Jadi Besi Tua atau Dipaksa Jalan Demi MBG?

Bangun Santoso, Lilis Varwati

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:33 WIB
Nasib 21 Ribu Motor Listrik Era Dadan, Jadi Besi Tua atau Dipaksa Jalan Demi MBG?
Nasib 21 Ribu Motor Listrik Era Dadan, Jadi Besi Tua atau Dipaksa Jalan Demi MBG?. (Foto dibuat dengan AI)
baca 10 detik
  • Pemerintah tetap melanjutkan pengadaan 21.801 unit motor listrik senilai Rp1,03 triliun meski terindikasi korupsi dan mark-up harga.
  • Kejaksaan Agung sedang menyidik dugaan korupsi pengadaan motor listrik oleh Badan Gizi Nasional dengan potensi kerugian ratusan miliar.
  • Pemerintah kini mengevaluasi fungsi aset tersebut karena orientasi Program Makan Bergizi Gratis telah bergeser ke wilayah 3T.

Suara.com - Di tengah penyidikan dugaan korupsi yang menyeret mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan sejumlah pejabat lainnya, pemerintah memastikan pengadaan kendaraan tersebut tidak serta merta dihentikan.

Sebagian motor bahkan disebut sudah dibayar dan masih dalam proses perakitan. Namun persoalannya bukan lagi sekadar soal keberadaan motor-motor itu.

Pertanyaan yang kini mengemuka justru lebih mendasar, apakah puluhan ribu kendaraan tersebut memang dibutuhkan untuk menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), atau negara sedang berupaya mencari fungsi baru bagi barang yang sejak awal belum jelas urgensinya?

Perdebatan itu menguat setelah Istana memberi sinyal akan melakukan penataan ulang terhadap berbagai komponen program MBG, termasuk motor listrik yang kini menjadi bagian dari perkara yang sedang disidik Kejaksaan Agung.

Sudah Dibeli, Tapi Mau Dipakai untuk Apa?

Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman mengungkapkan proyek pengadaan motor listrik yang nilainya mencapai sekitar Rp1,03 triliun tetap berjalan meski ditemukan indikasi markup dalam proses pengadaannya.

Menurut Dudung, sebanyak 21.801 unit motor telah dipesan dan sebagian masih dalam tahap perakitan.

Karena pembayaran juga telah dilakukan oleh pejabat BGN periode sebelumnya, pemerintah kini dihadapkan pada pilihan sulit mengenai nasib aset tersebut.

"Sudah dibayar (pengadaan motor listrik), ini kan sudah dirakit. Nanti keputusan terserah Kepala BGN. Kalau misalnya nanti ada keputusan dari presiden dialihkan ke mana yang bermanfaat," kata Dudung dalam konferensi pers di KSP, Jakarta Pusat, Rabu (10/6).

baca juga

Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan dilema yang sedang dihadapi pemerintah. Di satu sisi, proyek telah berjalan dan anggaran sudah keluar.

Di sisi lain, proses hukum masih berlangsung setelah muncul dugaan selisih nilai pengadaan yang menurut Dudung diperkirakan mencapai Rp200 miliar, sementara perhitungan BPK disebut mencapai sekitar Rp400 miliar.

Ironisnya, Dudung sendiri mengakui motor listrik bukan kebutuhan utama dalam operasional dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ketika Fokus MBG Bergeser ke Daerah 3T

Pertanyaan mengenai relevansi motor listrik semakin menguat setelah pemerintah memutuskan melakukan penataan ulang program MBG.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan evaluasi tidak hanya menyasar motor listrik, tetapi juga berbagai aspek lain dalam pelaksanaan program.

"Semua nanti akan kita lihat. Tidak hanya masalah motor, yang lain-lain juga semua kita lihat," kata Prasetyo.

Ringkasan kasus korupsi pengadaan motor listrik MBG. (foto dibuat dengan AI)
Ringkasan kasus korupsi pengadaan motor listrik MBG. (foto dibuat dengan AI)

Evaluasi itu dilakukan bersamaan dengan refocusing sasaran program. Pemerintah kini lebih memprioritaskan masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Perubahan orientasi ini memunculkan keraguan, bahkan oleh DPR sendiri, mengenai asumsi dasar yang digunakan saat pengadaan motor listrik dilakukan.

Ketua Banggar DPR Said Abdullah menilai program MBG semestinya fokus pada pemenuhan gizi masyarakat, bukan pada pengadaan barang yang tidak berkaitan langsung dengan tujuan program.

Sementara Anggota Komisi IX DPR Irma Suryani Chaniago mengaku pihaknya bahkan tidak pernah mengetahui adanya pengadaan motor listrik tersebut.

"Jika konsultasi atau diajukan di RKA pasti kami tolak," kata Irma.

Negara Sedang Menyelamatkan Aset atau Menyelamatkan Keputusan?

Bagi anggota MBG Watch Agus Sarwono, inti persoalan motor listrik BGN tidak terletak pada bagaimana kendaraan itu akan dimanfaatkan.

Menurut dia, persoalan yang lebih besar justru terletak pada logika yang kini digunakan pemerintah dalam menjelaskan proyek tersebut.

"Negara justru sibuk mencari fungsi untuk barang yang sudah dibeli, tanpa terlebih dahulu menjawab apakah pengadaan itu benar-benar berdasarkan kebutuhan nyata program," kata Agus kepada Suara.com.

Ia menilai argumen bahwa motor harus tetap digunakan karena sudah dibeli merupakan cara pandang yang keliru.

Menurut Agus, kerugian negara tidak hanya terjadi ketika barang mangkrak. Kerugian bisa muncul jauh sebelumnya, yakni ketika pengadaan dilakukan tanpa dasar kebutuhan yang jelas, ketika urgensinya dipertanyakan, atau ketika prosesnya kini bahkan menjadi objek penyidikan aparat penegak hukum.

"Belanja dilakukan lebih dulu, sementara fungsi dicari kemudian. Dalam negara yang sehat, kebutuhan program harus didahulukan, kemudian diikuti pengadaan, bukan sebaliknya," ujarnya.

Karena itu, Agus menilai langkah yang paling mendesak saat ini bukan mencari lokasi baru untuk menempatkan ribuan motor listrik tersebut.

Yang lebih penting, kata dia, adalah membuka kembali seluruh proses yang melatarbelakangi pengadaan, mulai dari kebutuhan program, desain kebijakan, spesifikasi barang, harga, hingga mekanisme pengambilan keputusan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Evaluasi MBG dan Krisis Regenerasi Petani Jadi Sorotan, Dudung Akui Program Perlu Ditata Ulang

Evaluasi MBG dan Krisis Regenerasi Petani Jadi Sorotan, Dudung Akui Program Perlu Ditata Ulang

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 09:20 WIB

Sebut Bukan Insiden Kebetulan, Nandang Sutisna Desak Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis

Sebut Bukan Insiden Kebetulan, Nandang Sutisna Desak Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:01 WIB

Sambil Menangis, Kepala BGN Ungkap Kekecewaan: Saya Tak Tega, Niat Baik Prabowo Dikhianati

Sambil Menangis, Kepala BGN Ungkap Kekecewaan: Saya Tak Tega, Niat Baik Prabowo Dikhianati

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 17:50 WIB

BGN Tegaskan Tuduhan Pembagian Dana MBG kepada Presiden adalah Hoaks

BGN Tegaskan Tuduhan Pembagian Dana MBG kepada Presiden adalah Hoaks

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:58 WIB

Connie Bakrie Sebut IKN Sekarang Kalah Tenar Sama Program MBG Rp1 Triliun Per Hari

Connie Bakrie Sebut IKN Sekarang Kalah Tenar Sama Program MBG Rp1 Triliun Per Hari

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:06 WIB

Triana ke Mahasiswa: Jangan Lupakan Reformasi Agraria, Tanpa Itu Indonesia Tak Akan Berubah

Triana ke Mahasiswa: Jangan Lupakan Reformasi Agraria, Tanpa Itu Indonesia Tak Akan Berubah

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:25 WIB

Komisaris Vendor Motor Listrik Jadi Tersangka Baru Korupsi MBG

Komisaris Vendor Motor Listrik Jadi Tersangka Baru Korupsi MBG

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:09 WIB

Terkini

Hybrid Fitness Race Khusus Perempuan Hadir di Indonesia

Hybrid Fitness Race Khusus Perempuan Hadir di Indonesia

Sport | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45 WIB

Sumsel United Tak Terkalahkan 4 Laga, Tegar Hening Absen Jelang Derby Sumatera

Sumsel United Tak Terkalahkan 4 Laga, Tegar Hening Absen Jelang Derby Sumatera

Sumsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Laba PTBA Tembus Rp4,41 Triliun, Pendapatan Naik 12 Persen hingga Kuartal III 2026

Laba PTBA Tembus Rp4,41 Triliun, Pendapatan Naik 12 Persen hingga Kuartal III 2026

Sumsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:31 WIB

Nugroho Herucahyono Dorong Talenta Indonesia Berani Bangun Teknologi untuk Dunia

Nugroho Herucahyono Dorong Talenta Indonesia Berani Bangun Teknologi untuk Dunia

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:17 WIB

35 Tahun Yugoslavia Bubar, Siapa Paling Untung di Sepak Bola? Kroasia dan Serbia Menonjol

35 Tahun Yugoslavia Bubar, Siapa Paling Untung di Sepak Bola? Kroasia dan Serbia Menonjol

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:10 WIB

Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi

Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi

Surakarta | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:06 WIB

Dari Urusan Kerja hingga Menyusui, Teknologi Makin Dekat dengan Rutinitas Harian Perempuan

Dari Urusan Kerja hingga Menyusui, Teknologi Makin Dekat dengan Rutinitas Harian Perempuan

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:57 WIB

Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran

Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Hashim Klaim Indonesia Negara Super Kaya, Sebut Mampu Biayai MBG & Kopdes Merah Putih

Hashim Klaim Indonesia Negara Super Kaya, Sebut Mampu Biayai MBG & Kopdes Merah Putih

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet

Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:36 WIB

×