Rusia dan China Bersatu Bantu Iran Lawan Amerika Serikat Pakai Satelit Canggih Hingga Rudal Pembunuh

Pebriansyah Ariefana

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:46 WIB
Rusia dan China Bersatu Bantu Iran Lawan Amerika Serikat Pakai Satelit Canggih Hingga Rudal Pembunuh
Rusia dan China bantu Iran lawan AS dengan intelijen satelit dan radar canggih. (Kantor Berita Iran)
  • Rusia dan China bantu Iran lawan AS dengan intelijen satelit dan radar canggih.

  • Iran bakal miliki rudal supersonik CM-302 yang mampu hancurkan kapal induk Amerika Serikat.

  • China dukung kepemimpinan Mojtaba Khamenei dan menolak segala bentuk intervensi asing di Iran.

Suara.com - Konfrontasi bersenjata perang yang melibatkan Iran melawan kekuatan Amerika Serikat serta Israel kini memasuki babak baru yang lebih intens.

Dukungan strategis mulai mengalir deras dari dua kekuatan besar dunia yakni Rusia dan China untuk menyokong pertahanan Teheran.

Negara pimpinan Vladimir Putin tersebut dilaporkan telah mengambil langkah nyata sejak peperangan pecah pada akhir Februari 2026.

Salah satu aksi kemanusiaan yang terlihat adalah instruksi langsung Putin kepada Kementerian Situasi Darurat untuk mengirimkan logistik medis.

Sebanyak 13 ton obat-obatan telah diterbangkan menuju Azerbaijan sebagai titik transit sebelum diserahkan kepada otoritas resmi di Iran.

Pihak kementerian mengonfirmasi bahwa armada penerbangan mereka telah mengatur proses logistik bantuan kesehatan tersebut secara sistematis.

"Divisi penerbangan kementerian mengatur pengiriman obat-obatan ke Azerbaijan untuk diteruskan kepada perwakilan resmi pemerintah Iran," demikian pernyataan kementerian, dikutip Anadolu Agency.

Selain bantuan fisik, laporan dari intelijen Amerika Serikat menyebutkan adanya kerja sama informasi yang jauh lebih krusial.

Rusia diduga memberikan data rahasia mengenai koordinat presisi kapal perang dan armada udara AS yang bersiaga di kawasan tersebut.

Informasi ini menjadi kunci bagi Teheran untuk memetakan aset lawan yang selama ini sulit dideteksi secara mandiri.

Keunggulan Rusia dalam teknologi luar angkasa melalui satelit Kanopus-V kini menjadi tulang punggung bagi sistem pertahanan Iran.

Satelit pengintai ini memiliki kemampuan yang jauh melampaui perangkat orbit milik militer Iran yang sebelumnya sangat terbatas.

Di Teheran, teknologi ini dikenal luas dengan nama Khayyam yang berfungsi sebagai pusat saraf kendali serangan balik.

Melalui bantuan ini, Iran mampu menerapkan doktrin serangan presisi yang mematikan terhadap target-target strategis di medan perang.

Meskipun demikian, Vladimir Putin memberikan bantahan secara terbuka mengenai tuduhan pembagian informasi intelijen militer tersebut.

Putin tetap mendorong agar ketegangan di wilayah Timur Tengah dapat segera diredam melalui meja perundingan dan jalur formal.

Gagasan ini sempat disampaikan dalam diskusi bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai solusi mengakhiri pertumpahan darah.

Mantan agen KGB itu menekankan pentingnya keterlibatan para pemimpin negara-negara Teluk serta Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Interaksi diplomatik yang dilakukan Rusia diklaim telah menghasilkan beberapa poin pemikiran yang konstruktif bagi stabilitas kawasan.

Di sisi lain, China telah lama berkontribusi dalam memodernisasi perangkat perang elektronik yang digunakan oleh militer Iran.

Negeri Tirai Bambu secara konsisten mengekspor sistem radar generasi terbaru untuk mengubah peta kekuatan di udara.

Salah satu langkah paling signifikan adalah pengalihan navigasi militer Iran dari GPS milik Amerika Serikat ke sistem BeiDou-3.

Konstelasi satelit terenkripsi buatan China ini memberikan akurasi pemetaan medan yang luar biasa bagi pergerakan pasukan darat.

Efisiensi waktu dalam mendeteksi ancaman musuh kini menjadi keunggulan utama yang dimiliki oleh militer Iran di lapangan.

China tidak hanya memangkas durasi deteksi, tetapi juga membangun ulang seluruh sistem eksekusi target dalam pertempuran.

Kehadiran radar YLC-8B menjadi ancaman serius bagi keunggulan pesawat-pesawat siluman yang selama ini dibanggakan oleh pihak Barat.

Radar ini menggunakan frekuensi gelombang rendah yang mampu menembus lapisan penyerap radar pada jet tempur paling canggih sekalipun.

Bahkan pesawat pengebom B-21 Raider dan jet F-35C kini tidak lagi benar-benar tidak terlihat di mata radar China tersebut.

Keseimbangan kekuatan di langit Timur Tengah perlahan mulai bergeser seiring dengan diterapkannya teknologi pengintai anti-siluman ini.

Berita terbaru menyebutkan Iran tengah mematangkan proses akuisisi persenjataan mematikan berupa 50 unit rudal supersonik jenis CM-302.

Senjata ini merupakan versi ekspor dari rudal YJ-12 milik China yang mampu melesat cepat hingga kecepatan Mach 3.

Ketinggian terbangnya yang sangat rendah di atas permukaan laut membuat sistem pertahanan kapal lawan hampir tidak punya waktu bereaksi.

Para pakar militer menjuluki rudal ini sebagai instrumen penghancur kapal induk yang sangat efektif untuk melumpuhkan armada besar.

Saat ini, kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford berada dalam radius ancaman rudal mematikan tersebut.

China juga menunjukkan posisi politiknya dengan mendukung terpilihnya Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.

Beijing menganggap suksesi kepemimpinan ini sebagai langkah penting untuk melanjutkan visi dan perjuangan pemimpin sebelumnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa proses tersebut adalah hak kedaulatan penuh rakyat Iran.

"Ini adalah keputusan pihak Iran berdasarkan konstitusinya," kata juru bicara Kemlu China Guo Jiakun.

Negara tersebut meminta seluruh komunitas internasional untuk tidak mencampuri urusan domestik Iran dan menghormati integritas wilayahnya.

Pemerintah China secara tegas menentang segala bentuk tekanan luar yang menggunakan berbagai dalih untuk mengganggu keamanan Iran.

Penghormatan terhadap kedaulatan negara menjadi prinsip utama yang dijunjung tinggi oleh Beijing dalam menyikapi konflik global ini.

Dengan sokongan teknologi Rusia dan persenjataan China, Iran kini memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat di kawasan.

Situasi di Timur Tengah diprediksi akan terus memanas seiring dengan semakin terlibatnya kekuatan-kekuatan global dalam pusaran konflik tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Drone Murah Iran Shahed-136 Berhasil Bikin AS dan Israel Pusing Karena Boros Biaya Amunisi

Drone Murah Iran Shahed-136 Berhasil Bikin AS dan Israel Pusing Karena Boros Biaya Amunisi

News | Minggu, 15 Maret 2026 | 04:38 WIB

Merengek Ketakutan Putra Benjamin Netanyahu Kabur ke AS saat Israel Dihujani Rudal Iran

Merengek Ketakutan Putra Benjamin Netanyahu Kabur ke AS saat Israel Dihujani Rudal Iran

News | Minggu, 15 Maret 2026 | 00:21 WIB

Dompet Warga AS Tercekik, Harga BBM Meroket Cepat dalam Setahun, Trump Bisa Apa?

Dompet Warga AS Tercekik, Harga BBM Meroket Cepat dalam Setahun, Trump Bisa Apa?

News | Sabtu, 14 Maret 2026 | 23:05 WIB

Terkini

Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK

Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:33 WIB

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:15 WIB

Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama

Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 23:00 WIB

Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian

Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:23 WIB

'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran

'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:22 WIB

Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI

Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:18 WIB

Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'

Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 21:21 WIB

Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?

Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 21:12 WIB

Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu

Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:56 WIB

KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa

KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:54 WIB