-
Hamas melarang Iran menyerang wilayah negara Arab dalam perang melawan militer Amerika Serikat.
-
Kelompok Hamas mengakui bantuan besar Ali Khamenei bagi perjuangan militer dan politik Palestina.
-
Amerika Serikat dan Israel dianggap bertanggung jawab atas rusaknya stabilitas keamanan di Iran.
Mereka melabeli tindakan yang dilakukan oleh pihak Israel dan Amerika Serikat tersebut sebagai sebuah bentuk kriminalitas yang sangat keji.
Kecaman ini diarahkan langsung kepada pihak-pihak yang terlibat dalam upaya penghilangan nyawa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Hamas merasa kehilangan sosok yang selama ini konsisten berdiri di barisan terdepan dalam mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.
Solidaritas antara Hamas dan Teheran tetap terjaga kuat dalam koridor perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai fasisme.
Rasa syukur yang mendalam disampaikan oleh organisasi tersebut atas segala kontribusi nyata yang telah diberikan oleh Ali Khamenei.
Bantuan yang mengalir selama bertahun-tahun dianggap menjadi napas bagi keberlangsungan perlawanan bersenjata maupun gerakan politik di Palestina.
"Ia (Ali Khamenei) telah memberikan segala bentuk bantuan secara politik, diplomatik, dan militer kepada rakyat kami dan perjuangan kami," tutur Hamas.
Kutipan tersebut menggambarkan betapa vitalnya peran Iran dalam memperkuat posisi tawar Hamas di kancah konflik global selama ini.
Dukungan militer dari Teheran diakui secara terbuka sebagai pilar utama yang menjaga eksistensi perlawanan di tanah pendudukan.
Kritik tajam terus dilontarkan kepada Gedung Putih yang dianggap sebagai dalang utama di balik kekacauan yang terjadi sekarang.
Amerika Serikat dinilai telah memfasilitasi agresi yang merusak kedaulatan Iran dan memicu gelombang kemarahan di seluruh dunia Islam.
"AS dan pemerintah pendudukan fasis bertanggung jawab penuh atas agresi terang-terangan dan kejahatan keji terhadap kedaulatan Republik Islam Iran ini, serta atas dampak seriusnya terhadap keamanan dan stabilitas kawasan."
Hamas memperingatkan bahwa setiap tindakan provokasi terhadap Iran akan berdampak luas terhadap keamanan seluruh negara di kawasan tersebut.
Keterlibatan Washington dalam operasi militer di Timur Tengah dianggap hanya akan memperpanjang daftar penderitaan dan ketidakpastian keamanan global.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kini berada pada titik didih yang bisa meledak kapan saja menjadi perang terbuka.
Langkah Iran yang mengincar pangkalan militer asing adalah respons langsung atas tekanan ekonomi dan ancaman fisik terhadap pejabat mereka.
Namun, ketergantungan ekonomi banyak negara Arab terhadap stabilitas jalur perdagangan membuat permintaan Hamas menjadi sangat relevan saat ini.
Keamanan di Teluk merupakan prioritas bagi banyak pihak yang tidak ingin terseret dalam pusaran konflik bersenjata antara dua kekuatan besar.
Hamas mencoba memposisikan diri sebagai aktor yang rasional dengan memisahkan antara hak membalas dendam dan perlindungan tetangga.
Jika eskalasi ini tidak segera diredam, potensi munculnya konflik multinasional yang lebih besar akan semakin sulit untuk dihindari sama sekali.
Hamas terus mengupayakan adanya dukungan politik global agar tekanan militer terhadap Gaza dan Iran bisa segera dihentikan secara permanen.
Mereka berharap bahwa keadilan bagi rakyat Palestina bisa tercapai tanpa harus mengorbankan keamanan negara-negara Muslim tetangga di sekitarnya.
Kekuatan diplomasi saat ini sedang diuji untuk melihat apakah hukum internasional masih memiliki taji di hadapan agresi militer besar.
Hamas menutup pernyataannya dengan harapan agar perdamaian yang berkeadilan segera terwujud bagi seluruh bangsa di kawasan Timur Tengah.