- Polda Metro Jaya mengidentifikasi dua terduga pelaku berinisial BHC dan MAK kasus penyiraman air keras Andrie Yunus KontraS.
- Penyidik telah memeriksa 15 saksi dan mendalami 86 rekaman CCTV untuk memetakan kronologi dan pergerakan pelaku.
- Kepolisian mengharapkan partisipasi masyarakat melalui hotline untuk mempercepat pengungkapan kasus yang menjadi atensi Kapolri.
Polisi telah merilis gambar terduga pelaku dan menyediakan saluran komunikasi khusus bagi siapa saja yang memiliki informasi relevan.
Iman juga menyampaikan pihaknya sudah membuka layanan pengaduan hotline 110 dan nomor 081285599191 terkait kasus tersebut.
"Kami buka layanan kepada masyarakat untuk memberikan atau menyampaikan informasi yang mengetahui atau mengenal dari gambar pelaku yang tadi kami sampaikan dapat menjadi penguatan keterangan bagi kami," katanya.
Partisipasi publik dianggap sangat krusial mengingat mobilitas pelaku di wilayah perkotaan yang cukup tinggi.
Selain bukti fisik dan keterangan saksi, kepolisian juga mengandalkan metode scientific crime investigation.
Iman juga menyebutkan pihaknya sedang menganalisis terhadap bukti-bukti scientific yang lain dalam rangka mendukung proses pengungkapan perkara dimaksud ini.
Pendekatan ilmiah ini diharapkan dapat memberikan bukti yang tidak terbantahkan di persidangan nantinya.
Kasus yang menimpa tokoh aktivis HAM ini juga mendapatkan atensi langsung dari pimpinan tertinggi Polri. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memastikan bahwa kepolisian terus bekerja untuk menangani kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus.
Kapolri menegaskan bahwa instruksi untuk menuntaskan kasus ini datang langsung dari Kepala Negara.
"Kemarin, Bapak Presiden sudah jelas memerintahkan kita harus mengusut tuntas. Tentunya saat ini Polri sedang bekerja," kata Kapolri di Lapangan Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu.
Dalam upaya pencarian bukti digital, Polri melalui Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya sedang mendalam 86 kamera pengawas (CCTV) di tempat kejadian perkara (TKP).
Puluhan rekaman tersebut diperiksa secara mendetail untuk mengidentifikasi wajah, kendaraan, hingga gerak-gerik mencurigakan sebelum dan sesudah kejadian.
Kendati demikian, Kapolri menegaskan bahwa Polri tidak akan berhenti pada rekaman CCTV dan akan mencari sumber-sumber informasi serta alat bukti lainnya.
Integrasi seluruh temuan di lapangan menjadi prioritas utama tim penyidik saat ini.
"Yang kemudian semua kita satukan untuk betul-betul bisa membuat kasus ini menjadi terungkap ataupun paling tidak menjadi terang benderang," ucapnya.