- Puncak arus mudik Lebaran 2026 terjadi 18 Maret dengan volume kendaraan 270 ribu, meningkat 4,26 persen.
- Rekayasa lalu lintas seperti *one way* nasional berhasil mengendalikan lonjakan kepadatan dan telah dihentikan.
- Fokus selanjutnya adalah arus balik yang puncaknya diprediksi 24 Maret serta 28–29 Maret, didukung kebijakan WFA.
Suara.com - Puncak arus mudik Lebaran 2026 dipastikan telah terlewati dengan kondisi tetap terkendali. Meski jumlah pemudik meningkat 4,26 persen dibanding tahun lalu, rekayasa lalu lintas dinilai efektif menahan lonjakan kepadatan.
Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho mengatakan puncak arus mudik Lebaran 2026 terjadi pada 18 Maret dengan volume kendaraan mencapai sekitar 270 ribu. Angka tersebut meningkat 4,26 persen dibanding periode yang sama pada Operasi Ketupat 2025.
“Puncak arus mudik adalah tanggal 18 dengan jumlah 270.000, meningkat 4,26 persen dibanding tahun lalu,” ujar Agus di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (20/3/2026).
Menurut Agus, rekayasa lalu lintas seperti contraflow dan one way nasional menjadi kunci kelancaran. Seiring kondisi arus yang mulai landai, kebijakan one way nasional resmi dihentikan pada siang hari tadi.
“Karena traffic sudah landai, one way nasional sudah kita lakukan pembersihan pada pukul 14.22,” kata Agus
Ia menegaskan Operasi Ketupat 2026 tidak hanya fokus pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat selama mudik.
Dalam kesempatan yang sama, Asisten Utama Operasi Kapolri Komjen Mohammad Fadil Imran menyebut pemantauan arus mudik dilakukan secara langsung melalui koordinasi lintas instansi pada malam takbiran.
“Dilaksanakan pengecekan dan pemantauan situasi malam takbir sekaligus laporan arus mudik,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah, Kementerian Perhubungan menilai pelaksanaan arus mudik tahun ini berjalan baik secara umum. Apresiasi diberikan kepada masyarakat dan seluruh pihak yang terlibat dalam pengamanan dan pengaturan arus.
Dirjen Perhubungan Darat Aan Suhanan mengatakan tantangan berikutnya adalah arus wisata dan arus balik. Puncak arus balik diprediksi terjadi pada 24 Maret serta 28–29 Maret 2026.
Untuk mengurai kepadatan, pemerintah mendorong masyarakat memanfaatkan kebijakan work from anywhere (WFA) pada 25–27 Maret agar perjalanan tidak menumpuk di hari puncak.
Selain itu, pembatasan angkutan barang sumbu tiga ke atas tetap diberlakukan selama periode arus balik guna menjaga kelancaran lalu lintas.
Dengan puncak arus mudik telah terlewati, aparat kini memfokuskan pengamanan pada perayaan Idulfitri serta menyiapkan skenario menghadapi arus balik.