- Dua kapal perusak AS memasuki Teluk melalui misi Project Freedom untuk memecah blokade Iran di Selat Hormuz.
- Konflik bersenjata di Selat Hormuz menyebabkan ratusan kapal komersial terjebak serta memicu kenaikan harga minyak global.
- Pemerintah Iran mengeluarkan ancaman serangan terhadap militer asing, sementara upaya diplomasi sedang dikaji melalui proposal perdamaian Pakistan.
Suara.com - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa dua kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut AS telah memasuki Teluk untuk memecah blokade Iran.
Langkah ini diambil guna mengawal dua kapal dagang Amerika melintasi Selat Hormuz, di tengah klaim Teheran yang menyatakan telah menghalau kapal perang AS dari wilayah tersebut.
Intervensi militer ini merupakan bagian dari operasi "Project Freedom" yang dicanangkan Presiden Donald Trump. Misi utamanya adalah memandu keluar ratusan kapal komersial yang terjebak di Teluk akibat perang antara AS-Israel melawan Iran, sekaligus melakukan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Kehadiran armada tempur AS ini secara signifikan meningkatkan risiko konfrontasi langsung dengan Iran di salah satu jalur pelayaran paling vital dunia.
Selat Hormuz biasanya mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas global, namun telah tersendat selama dua bulan terakhir akibat konflik bersenjata.
CENTCOM menegaskan bahwa pasukan Amerika secara aktif membantu upaya pemulihan transit bagi pengapalan komersial. Namun, di sisi lain, Teheran mengeklaim bahwa angkatan laut mereka berhasil memaksa kapal perang AS berbalik arah dengan "peringatan cepat dan tegas".
Media semi-resmi Iran, Fars, bahkan melaporkan adanya dua rudal yang menghantam kapal AS di dekat pelabuhan Jask, meskipun laporan ini segera dibantah oleh pihak CENTCOM.
Respons Keras Iran dan Kenaikan Harga Minyak
Menanggapi gerakan militer AS, komando terpadu Iran mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh kapal komersial dan tanker minyak.
Dilansir dari Reuters, Teheran menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz berada di bawah kendali mereka dan setiap pergerakan kapal asing harus dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata Iran.
"Kami memperingatkan bahwa setiap kekuatan militer asing, terutama tentara AS yang agresif, akan diserang jika mereka berniat mendekati dan memasuki Selat Hormuz," bunyi pernyataan resmi komando Iran.
Sejak perang dimulai, Iran telah memblokir hampir semua pelayaran masuk dan keluar Teluk, yang memicu lonjakan harga minyak hingga lebih dari 50%.
Harga minyak sempat melonjak 5% menyusul laporan pengusiran kapal perang AS, sebelum akhirnya kembali stabil setelah Washington mengeklaim kendali penuh atas selat tersebut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa AS memiliki kendali absolut, namun industri pelayaran global belum sepenuhnya yakin.
Raksasa logistik seperti Hapag-Lloyd menyatakan bahwa transit melalui selat tersebut masih dianggap tidak memungkinkan secara aman.