- Badan intelijen AS (CIA) dan Israel (Mossad) kesulitan melacak Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, pasca Nowruz.
- Mojtaba tidak tampil publik sejak 20 Maret 2026, memicu spekulasi luka akibat serangan 28 Februari.
- Muncul kabar perawatan di Rusia dibantah, membuat lokasi dan kondisi kesehatan Mojtaba menjadi tidak jelas.
Suara.com - Badan intelijen Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan kesulitan melacak keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei saat negara tersebut merayakan Tahun Baru Nowruz.
Laporan dari Axios menyebutkan bahwa sejumlah lembaga intelijen global, termasuk Central Intelligence Agency (CIA) dan Mossad, tengah berupaya keras menemukan keberadaan Mojtaba.
Ketidakhadirannya dalam perayaan Nowruz memicu tanda tanya besar, mengingat pemimpin Iran biasanya tampil di hadapan publik pada momen tersebut.
Pada Jumat (20/3/2026), Mojtaba tidak muncul sama sekali. Akun media sosial resminya hanya membagikan pesan tertulis yang berisi ajakan untuk menjaga persatuan nasional Iran.
Sejak ditunjuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu, Mojtaba memang belum pernah terlihat di ruang publik.
Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa ia mengalami luka dalam serangan tersebut.
Disebutkan, Mojtaba menderita patah tulang pada kaki serta luka robek di bagian wajah.
Media asal Kuwait, Al Jarida sempat mengutip sumber di Teheran yang mengklaim bahwa Mojtaba berada di Russia untuk menjalani perawatan medis.
Ia dikabarkan dibawa ke Moskow menggunakan pesawat militer Rusia atas permintaan Presiden Vladimir Putin.
Namun, kabar tersebut segera dibantah oleh Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali yang menegaskan bahwa Mojtaba tidak dirawat di Moskow.
Setelah bantahan itu, keberadaan Mojtaba semakin tidak jelas. Hingga kini, belum ada informasi pasti mengenai lokasi maupun kondisi kesehatannya.
Upaya pelacakan pun terus dilakukan. Seorang pejabat AS mengungkapkan kepada Axios bahwa CIA mencoba menelusuri keaslian foto-foto Mojtaba yang beredar di media sosial, guna memastikan apakah gambar tersebut merupakan dokumentasi terbaru atau lama.
"Kami berharap melihat Mojtaba juga dalam bentuk tertentu. Dia tidak memanfaatkan kesempatan dan tradisi tersebut," kata pejabat AS yang tak ingin diidentifikasi tersebut.
"Ini adalah pertanda buruk," ujar pejabat tersebut.