- Sistem listrik nasional Kuba runtuh kedua kalinya minggu ini, menyebabkan lebih dari 10 juta warga mengalami pemadaman total.
- Pemulihan listrik dilakukan bertahap oleh operator listrik UNE, dimulai dari fasilitas vital seperti rumah sakit dan sistem air.
- Krisis ini dipicu infrastruktur tua, kekurangan bahan bakar, dan pembatasan impor minyak, memicu protes publik di beberapa wilayah.
Suara.com - Lebih dari 10 juta warga di Kuba kembali terjerumus dalam kegelapan setelah sistem listrik nasional runtuh untuk kedua kalinya dalam sepekan.
Pemerintah Kuba melalui kementerian energi menyatakan terjadi “pemutusan total sistem kelistrikan nasional”.
Operator listrik UNE mengonfirmasi pemulihan dilakukan bertahap dengan prioritas pada fasilitas vital.
“Kami memulihkan listrik secara bertahap, dimulai dari rumah sakit dan sistem air,” kata pihak operator dilansir dari BBC.
Sebagian wilayah Havana mulai mendapatkan kembali listrik pada Minggu sore. Namun, jutaan warga lainnya masih menghadapi pemadaman panjang yang mengganggu aktivitas rumah tangga dan bisnis.
Krisis ini disebut sebagai bagian dari gangguan energi besar yang melanda Kuba sepanjang tahun ini.
Dalam sebulan terakhir, negara tersebut mengalami tiga kali blackout besar akibat kombinasi infrastruktur tua dan kekurangan bahan bakar.
Tekanan juga datang dari kebijakan luar negeri, termasuk pembatasan impor minyak yang memperburuk pasokan energi. Kondisi ini membuat pembangkit listrik tidak mampu beroperasi optimal dan memicu pemadaman berulang.
Di tengah krisis, gelombang ketidakpuasan publik mulai muncul di sejumlah wilayah. Warga dilaporkan memukul panci dan wajan sebagai bentuk protes, sementara di kota Morón, kantor Partai Komunis bahkan diserang dan dibakar.
“Situasinya benar-benar buruk,” ujar seorang warga Havana.
“Ada masalah politik dan ekonomi, krisis di segala sisi. Ini sudah berlangsung lama dan makin menumpuk.”
Keluhan serupa disampaikan warga lain yang menggambarkan kondisi hidup semakin sulit.
“Tidak ada tempat untuk hidup, tidak ada pekerjaan. Semuanya hilang perlahan,” katanya.
Pemerintah Kuba di bawah Presiden Miguel Díaz-Canel menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.
Díaz-Canel juga menegaskan kesiapan menghadapi potensi tekanan atau agresi dari luar.