- Iran mengeluarkan peringatan keras kepada negara tetangga agar tidak mendukung rencana operasi militer AS merebut pulau strategis Iran.
- Ketua Parlemen Iran mengancam akan menyerang infrastruktur vital negara regional yang memfasilitasi provokasi AS.
- Militer AS memobilisasi 2.000 tentara ke Teluk, diduga menargetkan Pulau Kharg dengan potensi respons serangan Iran.
Mohamed Vall dari Al Jazeera melaporkan bahwa masyarakat Iran sangat memantau penumpukan armada perang serta pasukan darat AS di ambang pintu negara mereka, dan “mereka tahu apa akibatnya”.
“Jadi saat ini, mereka jauh lebih yakin akan berlanjutnya perang ini daripada berakhirnya, dan mereka mengatakan sedang mempersiapkannya,” kata Vall.
Spekulasi kuat menyebutkan bahwa pendaratan amfibi AS tersebut menargetkan urat nadi ekonomi Teheran.
“Mereka juga menyadari bahwa AS mengincar Pulau Kharg ,” ujar Vall.
Vall menambahkan, ancaman Ketua Parlemen Iran sebelumnya diyakini dialamatkan secara spesifik kepada Uni Emirat Arab (UEA).
“Menurut beberapa orang yang menjelaskan apa yang dia katakan, dia merujuk pada Uni Emirat Arab, yang mungkin bekerja sama dengan AS dan mendorongnya untuk merebut Pulau Kharg,” kata dia.
“Selama beberapa hari terakhir, warga Iran mengatakan bahwa mereka yakin jika ini terjadi, hal itu akan sangat merusak negara tersebut, Uni Emirat Arab, dan juga pasukan AS,” katanya.
Secara taktis, pendaratan AS di pulau ekspor minyak tersebut dinilai sebagai langkah bunuh diri.
“Kharg adalah pulau kecil yang terbuka dan sangat dekat dengan daratan Iran. Mereka mengancam bahwa jika pasukan AS mendarat di sana, itulah yang ditunggu-tunggu oleh Iran dan itu akan sangat merugikan keselamatan pasukan AS,” kata dia.
Tidak hanya bersiap mempertahankan Pulau Kharg, Teheran juga mengancam akan memperluas arena pertempuran hingga ke Laut Merah.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, pada Rabu mengutip sumber militer anonim yang menegaskan bahwa Iran siap membuka front baru jika agresi militer benar-benar menyentuh "pulau-pulau Iran atau di tempat lain di wilayah kami".
Sumber tersebut mengeklaim bahwa Iran memiliki kapasitas penuh untuk menciptakan "ancaman yang kredibel" di Selat Bab al-Mandeb yang membentang antara Yaman dan Djibouti.
Di tengah genderang perang yang makin kencang, upaya diplomasi masih berjalan tertatih di belakang layar.
Walau Teheran menampik adanya perundingan langsung dengan AS, para mediator kawasan terus bekerja menyampaikan pesan antara kedua belah pihak.
AS telah mengajukan proposal damai 15 poin, sementara seorang pejabat Iran yang dikutip media lokal menyebut Teheran juga telah merumuskan lima syarat mutlak sebagai harga untuk menghentikan permusuhan.