- KPK membantah pengalihan penahanan Gus Yaqut menjadi tahanan rumah dilakukan secara diam-diam pada 19 Maret 2026.
- Gus Yaqut, tersangka kasus haji, sempat dipindahkan ke tahanan rumah dan kembali ke Rutan KPK pada 24 Maret 2026.
- KPK mengklaim telah memberitahu pihak terkait mengenai status penahanan Gus Yaqut sesuai ketentuan undang-undang berlaku.
Suara.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membantah bahwa pengalihan penahanan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
KPK diketahui mengalihkan penahanan terhadap Gus Yaqut dari tahanan Rutan KPK menjadi tahanan rumah sejak Kamis (19/3/2026). Kemudian, KPK kembali memindahkan Gus Yaqut ke Rutan KPK pada Selasa (24/3/2026).
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menjelaskan bahwa lembaga antirasuah sudah menyampaikan informasi ini kepada pihak-pihak terkait.
Dia juga membantah adanya intervensi dari pihak eksternal untuk menjadikan Yaqut sebagai tahanan rumah.
“Sejauh ini tidak ada. Karena tidak sembunyi-sembunyi juga karena pihak-pihak yang menurut undang-undang harus menerima pemberitahuan sudah kami berikan pemberitahuan,” kata Asep di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis (26/3/2026).
Informasi publik dari KPK mengenai Yaqut menjadi tahanan rumah baru disampaikan pada Sabtu (21/3/2026). Padahal, pengalihan penahanan dilakukan sejak Kamis (19/3/2026).
Sebelumnya, KPK melakukan penahanan terhadap mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut diketahui menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi pada pembagian kuota dan penyelenggaraan haji di Kementerian Agama tahun 2023-2024.
“Pada hari ini, KPK melakukan penahanan terhadap Tersangka Saudara YCQ, untuk 20 hari pertama terhitung sejak tanggal 12 sampai dengan 31 Maret 2026,” kata Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis (12/3/2026).
“Penahanan dilakukan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Cabang Gedung Merah Putih KPK,” tambah dia.
Kemudian, KPK juga menahan tersangka lainnya, yaitu mantan staf khususnya, Ishfah Abidal Aziz (IAA) alias Gus Alex pada Selasa (17/3/2026).
Keduanya diduga melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.