- Pengamat militer Igor Korotchenko menyatakan cadangan rudal Amerika Serikat menipis akibat tingginya intensitas serangan terhadap Iran sejak April 2026.
- Strategi pertahanan mosaik Iran berhasil mempertahankan posisi strategis dan membuat tujuan militer Amerika Serikat sulit tercapai secara efektif.
- Ketegangan muncul karena Israel menolak berpartisipasi dalam operasi darat, memicu dilema politik bagi Amerika Serikat dalam melanjutkan konflik.
Presiden Donald Trump kini disebut-sebut berada dalam dilema besar: ia ingin segera keluar dari konflik Iran, namun tidak memiliki jalur keluar yang jelas tanpa terlihat kalah secara politik.
Analisis militer menunjukkan AS kini berada di persimpangan jalan. Washington harus memilih antara meningkatkan eskalasi dengan risiko politik yang besar—termasuk potensi kekalahan dalam pemilu paruh waktu—atau menarik diri dan membiarkan sekutu utamanya, Israel, menghadapi Iran sendirian.
Pecahnya Solidaritas: Israel Tolak Operasi Darat
Ketegangan diplomatik antara Washington dan Tel Aviv mulai muncul ke permukaan. Laporan media Israel, Channel 12, menyebutkan bahwa pasukan Israel tidak akan ikut serta dalam operasi darat apa pun yang diluncurkan AS di wilayah Iran.
Jika Gedung Putih memutuskan untuk mengirim pasukan infanteri, mereka harus melakukannya tanpa dukungan tentara Israel di lapangan.
“Tentara Israel tidak akan berpartisipasi di darat,” demikian bunyi laporan Channel 12 pada hari Minggu akhir pekan lalu.
Pernyataan ini memicu gelombang kemarahan di Amerika Serikat, terutama di kalangan pendukung gerakan "America First" dan kelompok anti-perang.
Mereka merasa Washington sedang didorong ke dalam konflik darat yang mematikan demi kepentingan Israel.
Sementara Israel sendiri menolak mengirim tentaranya untuk bertempur di dalam wilayah Iran.
Sentimen negatif ini meledak di media sosial. Salah satu pemberi pengaruh (influencer) terkemuka mengungkapkan kekesalannya terhadap sikap Israe, yang dianggap hanya ingin memetik keuntungan dari pengorbanan tentara Amerika.
“Bagaimana jika kita melakukan operasi darat di Israel saja dan mengambil kembali senjata nuklir mereka dan mengambil kembali uang kita???” tulis influencer tersebut sebagai bentuk protes atas penolakan Israel untuk berpartisipasi dalam serangan darat.
Bayang-bayang Vietnam di Timur Tengah
Para pakar militer memperingatkan bahwa invasi darat ke Iran akan menjadi blunder strategis yang setara dengan Perang Vietnam.
Robert Pape, Profesor Ilmu Politik dari Universitas Chicago yang ahli dalam urusan keamanan, memberikan peringatan keras bahwa sinyal-sinyal kegagalan yang sama kini mulai muncul.
“Vietnam menunjukkan dengan tepat kapan perang udara menjadi perang darat,” kata Robert Pape.