Trump Ancam Iran Hidup Menderita Jika Selat Hormuz Ditutup, Siapkan Serangan Besar

Pebriansyah Ariefana

Senin, 06 April 2026 | 09:03 WIB
Trump Ancam Iran Hidup Menderita Jika Selat Hormuz Ditutup, Siapkan Serangan Besar
Selat Hormuz (Suara.com)
baca 10 detik
  • Donald Trump mengancam serangan besar ke pembangkit listrik dan jembatan Iran pada Selasa.

  • Presiden AS menuntut pembukaan Selat Hormuz dengan ancaman penderitaan bagi rakyat Iran.

  • Eskalasi konflik AS-Israel vs Iran telah menewaskan ribuan orang sejak Februari 2026.

Suara.com - Perang di kawasan Timur Tengah kini memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya dan mengkhawatirkan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka melontarkan ancaman militer yang sangat spesifik terhadap kedaulatan Iran.

Fokus utama dari peringatan keras ini adalah penghancuran fasilitas energi dan jalur transportasi darat di sana.

Langkah ini diprediksi akan melumpuhkan total aktivitas ekonomi dan logistik masyarakat Iran dalam waktu singkat.

Konflik bersenjata yang melibatkan kekuatan AS dan Israel melawan Teheran memang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Melalui kanal komunikasinya di media sosial, Trump memberikan indikasi waktu serangan yang sangat segera dilakukan.

Dunia internasional kini menyoroti hari Selasa sebagai momen krusial bagi keamanan nasional wilayah Republik Islam tersebut.

Trump menegaskan bahwa target yang diincar mencakup sektor-sektor yang paling krusial bagi kehidupan warga sipil.

"Selasa akan menjadi Hari [kemungkinan serangan terhadap] Pembangkit Listrik, dan Hari [kemungkinan serangan terhadap] Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!!" kata Trump pada Minggu di platform Truth Social miliknya.

baca juga

Kalimat tersebut memberikan sinyal bahwa operasi militer skala besar sedang dipersiapkan oleh pihak Gedung Putih.

Selain ancaman fisik pada bangunan, aspek geopolitik laut juga menjadi poin utama dalam gertakan tersebut.

Trump menuntut agar akses pelayaran internasional di jalur minyak paling penting di dunia tetap terbuka.

Jika Teheran memutuskan untuk melakukan blokade, maka konsekuensi ekonomi yang sangat berat sudah menanti mereka.

Trump mengatakan Iran harus membuka Selat Hormuz atau mereka akan hidup menderita.

Hal ini menunjukkan ambisi Amerika Serikat untuk tetap memegang kendali penuh atas arus komoditas global.

Situasi panas ini sebenarnya berakar dari peristiwa besar yang terjadi pada akhir bulan Februari lalu.

Aksi militer gabungan antara Washington dan Tel Aviv telah memicu gelombang kekerasan yang luar biasa besar.

Tercatat lebih dari seribu orang kehilangan nyawa dalam rangkaian serangan udara yang sangat mematikan tersebut.

Bahkan sosok penting dalam struktur kepemimpinan tertinggi Iran turut menjadi korban dalam serangan yang mengejutkan dunia.

Angka kematian yang mencapai 1.340 jiwa menjadi bukti betapa destruktifnya perang yang sedang berlangsung saat ini.

Pihak Iran tidak tinggal diam melihat wilayah dan pemimpin mereka menjadi sasaran tembak pasukan asing.

Garda Revolusi segera meluncurkan berbagai proyektil canggih ke arah wilayah kedaulatan Israel sebagai aksi balas dendam.

Tidak hanya Israel, negara-negara tetangga yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat juga tidak luput dari serangan.

Yordania dan Irak menjadi wilayah yang terdampak akibat lintasan rudal dan pesawat tanpa awak milik Teheran.

Negara-negara di kawasan Teluk kini berada dalam posisi waspada tinggi mengantisipasi serangan susulan yang mungkin terjadi.

Laporan terbaru dari lapangan menyebutkan adanya serangan mematikan yang menghantam wilayah selatan negeri tersebut.

Provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad dilaporkan menjadi titik jatuhnya bom yang menewaskan sedikitnya sepuluh orang warga.

Operasi udara ini juga menyebabkan banyak warga mengalami luka-luka yang memerlukan perawatan medis segera di rumah sakit.

Media lokal terus memperbarui data mengenai jumlah korban yang terus bertambah seiring penyisiran di puing bangunan.

Kondisi psikologis masyarakat di wilayah selatan kini berada pada titik terendah akibat ancaman udara yang konstan.

Secara spesifik, wilayah pegunungan Kuh-e Siyah menjadi target rudal yang sangat menghancurkan pada tengah malam.

Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa lima nyawa melayang seketika saat proyektil tersebut menghantam pemukiman penduduk setempat.

Selain korban jiwa, delapan individu lainnya dilaporkan menderita trauma fisik yang cukup serius akibat ledakan tersebut.

Kehadiran jet tempur Amerika Serikat di langit provinsi tersebut juga dilaporkan semakin intensif dalam beberapa hari terakhir.

Pihak militer AS diduga sedang menjalankan misi pencarian personel mereka yang hilang setelah pesawatnya dijatuhkan lawan.

Kekejaman perang ini juga merambah ke wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai destinasi wisata yang sangat tenang.

Sebuah kendaraan yang sedang melintas di area Kakan menjadi sasaran serangan udara yang sangat tidak terduga.

Dua orang yang berada di dalam kendaraan tersebut dilaporkan tewas di tempat tanpa sempat menyelamatkan diri mereka.

Selain itu, tiga warga lainnya juga kehilangan nyawa di dekat area pemukiman Vezg dalam serangan yang hampir bersamaan.

Laporan ini dikonfirmasi oleh stasiun televisi SNN yang memantau pergerakan pasukan udara di wilayah tersebut.

Pada akhir Februari, alasan utama penyerangan terhadap Teheran diklaim sebagai tindakan preventif demi keamanan global.

Pihak sekutu berdalih bahwa fasilitas nuklir Iran merupakan ancaman nyata yang harus segera dinetralisir sepenuhnya.

Namun seiring berjalannya waktu, tujuan utama dari agresi militer ini mulai bergeser ke arah politik praktis.

Kini AS dan Israel secara terang-terangan menyatakan keinginan mereka untuk meruntuhkan rezim yang sedang berkuasa.

Perubahan kepemimpinan di Iran dianggap sebagai solusi final untuk mengakhiri pengaruh negara tersebut di Timur Tengah.

Meskipun diklaim sebagai serangan presisi, fakta di lapangan menunjukkan banyaknya warga sipil yang menjadi korban.

Kerusakan infrastruktur publik di Teheran menyebabkan akses terhadap kebutuhan dasar bagi masyarakat menjadi sangat terhambat.

Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Aksi saling balas ini menciptakan lingkaran setan kekerasan yang sulit untuk diputus oleh jalur diplomasi.

Dunia kini hanya bisa menunggu apakah ancaman Trump pada hari Selasa mendatang akan benar-benar terwujud.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Serangan Israel di Jnah Beirut Tewaskan Warga hingga Iran Berhasil Tembak Jatuh Pesawat Militer AS

Serangan Israel di Jnah Beirut Tewaskan Warga hingga Iran Berhasil Tembak Jatuh Pesawat Militer AS

News | Senin, 06 April 2026 | 08:53 WIB

Wall Street Turun Tipis, Setelah Trump Kobarkan Genderang Perang Lagi

Wall Street Turun Tipis, Setelah Trump Kobarkan Genderang Perang Lagi

Bisnis | Senin, 06 April 2026 | 08:40 WIB

Puing Helikopter Black Hawk dan C-130 AS Berserakan di Gurun Iran

Puing Helikopter Black Hawk dan C-130 AS Berserakan di Gurun Iran

News | Senin, 06 April 2026 | 08:35 WIB

Terkini

Ketum GEKRAFT Salatiga, Dyah Ayu Pitaloka Dorong Ekosistem Inklusif dan Akses Global

Ketum GEKRAFT Salatiga, Dyah Ayu Pitaloka Dorong Ekosistem Inklusif dan Akses Global

Jawa Tengah | Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:11 WIB

Sesuai Kekhawatiran Awal, Ini Alasan Koalisi Sipil Minta Prabowo Batalkan Pelantikan Kepala BRAN?

Sesuai Kekhawatiran Awal, Ini Alasan Koalisi Sipil Minta Prabowo Batalkan Pelantikan Kepala BRAN?

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09 WIB

Apa Saja Tanda-Tanda Rumah Membawa Banyak Rezeki? Ini Kata Feng Shui

Apa Saja Tanda-Tanda Rumah Membawa Banyak Rezeki? Ini Kata Feng Shui

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:06 WIB

Batik Reimagined 2026 Hadirkan Eksplorasi Batik lewat Fashion dan Kreativitas

Batik Reimagined 2026 Hadirkan Eksplorasi Batik lewat Fashion dan Kreativitas

Foto | Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05 WIB

Perbedaan Sensor Pemantau Tidur HRV vs SpO2 pada Smartwatch

Perbedaan Sensor Pemantau Tidur HRV vs SpO2 pada Smartwatch

Tekno | Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:02 WIB

Angkat Sel Kulit Mati! Ini 5 Body Scrub Kelapa untuk Kulit Halus dan Lembap

Angkat Sel Kulit Mati! Ini 5 Body Scrub Kelapa untuk Kulit Halus dan Lembap

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:00 WIB

Cara Menata Uang di Dompet Menurut Feng Shui agar Rezeki Lancar

Cara Menata Uang di Dompet Menurut Feng Shui agar Rezeki Lancar

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:50 WIB

Kebakaran Gambut Jambi dan Perang Data: Citra Satelit vs Angka Resmi

Kebakaran Gambut Jambi dan Perang Data: Citra Satelit vs Angka Resmi

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:45 WIB

Apakah Jika Baterai Laptop Sudah Penuh Charger Harus Dicabut? Ini Penjelasannya

Apakah Jika Baterai Laptop Sudah Penuh Charger Harus Dicabut? Ini Penjelasannya

Tekno | Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:42 WIB

Mendengar 'Sambutlah' Denada: Saat Tren TikTok Bikin Lagu 90-an Candu Lagi

Mendengar 'Sambutlah' Denada: Saat Tren TikTok Bikin Lagu 90-an Candu Lagi

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:30 WIB

×