-
Serangan udara Israel menghancurkan Akademi Musik Honiak di Teheran dan aset senilai 15 tahun.
-
Pemilik sekolah, Hamidreza Afarideh, kehilangan instrumen dan fasilitas akibat ledakan drone yang sangat kuat.
-
Konflik bersenjata ini mengancam mata pencaharian guru musik dan identitas budaya generasi muda Iran.
Setelah menunggu proses evakuasi otoritas setempat selesai, mereka baru diizinkan melihat unit sekolah yang berada di lantai empat.
Kondisi infrastruktur bangunan sangat memprihatinkan dengan tangga-tangga yang nyaris ambruk saat dipijak oleh mereka berdua.
“Dengan setiap lantai yang kami daki, tingkat kehancuran begitu parah sehingga tangga-tangga runtuh saat kami bergerak ke atas,” katanya.
Ruangan yang dulunya memiliki sistem kedap suara profesional kini hanya menyisakan tumpukan abu dan material bangunan.
Peralatan modern seperti sistem audio, televisi, hingga fasilitas belajar lainnya tidak ada satu pun yang bisa diselamatkan.
Beberapa sisa kayu dari gitar dan kecapi tradisional yang patah menjadi saksi bisu kekuatan ledakan drone tersebut.
“Tidak ada alat musik yang tersisa,” katanya.
“Tidak ada peralatan yang kami miliki — seperti TV, sistem audio, atau fasilitas apa pun yang seharusnya dimiliki oleh lembaga profesional — yang tersisa. Semua dinding yang telah dibangun dengan kedap suara akustik profesional hancur total,” lanjut Afarideh.
“Kekuatan ledakan drone itu begitu kuat sehingga seolah-olah semua barang ini tidak pernah ada,” tambahnya lagi.
Pihak Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memberikan pernyataan resmi mengenai operasional militer yang dilakukan di wilayah Teheran tersebut.
Mereka berdalih bahwa serangan itu merupakan tindakan terukur yang menyasar markas intelijen Pasukan Quds di dekat lokasi sekolah.
IDF mengklaim bahwa tindakan mereka tetap mematuhi hukum internasional meskipun berdampak pada bangunan sipil di sekitarnya.
“Dilakukan serangan tertarget pada markas besar intelijen Pasukan Quds di dekat lokasi yang ditentukan,” tegas pihak IDF.
Pihak militer menambahkan bahwa keuntungan militer dari serangan tersebut dinilai lebih signifikan dibandingkan dampak kerusakan kolateral yang terjadi.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat memilih untuk tidak memberikan detail informasi terkait peristiwa penghancuran gedung tersebut.