- Presiden Prabowo Subianto dinilai berhasil menjaga stabilitas nasional serta persatuan bangsa di tengah ketidakpastian geopolitik global yang meningkat.
- Kepemimpinan inklusif Prabowo dan Sufmi Dasco memfasilitasi dialog konstruktif serta menghentikan praktik adu domba demi memperkuat demokrasi Indonesia.
- Pemerintah menanggapi kritik melalui perbaikan tata kelola program Makan Bergizi Gratis serta memastikan ketahanan energi dan pangan nasional.
Menurut Haris, Presiden telah mengambil langkah konkret untuk memastikan program ini tepat sasaran.
“Ini adalah bukti Presiden Prabowo tidak menutup mata dan telinga terhadap kritik dan koreksi terhadap tata kelola program pemerataan gizi nasional melalui MBG,” tegas Haris.
Ia menambahkan bahwa ribuan dapur yang melakukan penyimpangan telah ditutup setelah adanya investigasi dari Badan Gizi Nasional.
Haris membandingkan program baru yang baru berjalan satu tahun lebih tentu memerlukan penyempurnaan, sama halnya dengan program yang sudah lama ada seperti BLT atau subsidi pupuk yang hingga kini masih terus diperbaiki tata kelolanya.
“Apalagi program yang baru dirintis oleh Presiden Prabowo, dan baru berjalan satu tahun lebih, tentu kita akui belum sempurna dalam pelaksanaannya, masih membutuhkan perbaikan pada level tata kelola,” imbuhnya.
Ketahanan Pangan dan Energi di Tengah Perang Global
Salah satu pencapaian yang paling dirasakan masyarakat urban di kota-kota besar Indonesia adalah stabilitas harga dan pasokan energi.
Haris menggambarkan kontrasnya situasi Indonesia dengan negara lain yang terdampak perang Iran-Israel, di mana rakyat harus mengantre panjang untuk mendapatkan BBM.
“Namun, di dalam negeri, kita bersyukur kepada Tuhan, berkat kerja keras Presiden Prabowo berhasil memastikan pasokan energi yang stabil dan terjangkau. Memang terjadi beberapa titik kelangkaan gas elpiji, namun telah berhasil diatasi. Pemerintah melalui Menteri Keuangan bahkan memastikan tidak ada kenaikan harga BBM subsidi hingga akhir tahun,” tutur Haris.
Haris memperingatkan bahwa krisis energi bisa berdampak sistemik pada kelaparan jika distribusi pangan terhambat.
Beruntung, Presiden Prabowo telah mengantisipasi hal ini dengan mempercepat program swasembada pangan bahkan sebelum ketegangan di Timur Tengah meledak sepenuhnya.
“Bahkan sebelum meledak perang Iran versus Israel-Amerika, Presiden Prabowo telah menginstruksikan mempercepat program swasembada pangan. Kita saat ini bisa berdiri tegak tanpa kekuatiran kelangkaan beras, itu juga karena keberhasilan pemerintah dalam menjalankan program swasembada pangan. Kita tidak lagi bergantung pada impor pangan, ketika banyak negara di dunia berebut sumber pangan,” tegas Haris.
Persatuan untuk Menghadapi Ancaman Perang Dunia
Menutup pandangannya, Haris Rusly Moti mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk ASN, TNI, dan Polri, untuk tidak menyalahgunakan kebijakan pemerintah demi keuntungan pribadi atau rente.
Baginya, stabilitas nasional bukan sekadar alat pelindung kekuasaan, melainkan benteng pertahanan bagi keselamatan seluruh rakyat Indonesia dari malapetaka ekonomi global.