Suara.com - Emisi karbon dioksida (Co2) terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2024, kadar emisi Co2 global mengalami peningkatan sebesar 0,8 persen, sebagaimana dilaporkan oleh Earth.org(6/4/2026). Peningkatan dari emisi lebih banyak terjadi di negara-negara berkembang, seperti Indonesia.
Berdasarkan data dari Climate Trace, emisi Indonesia memang mengalami penurunan sekitar 0,87 juta ton CO2e atau 0,72 persen dari tahun sebelumnya.
Meskipun mengalami penurunan, Indonesia tetap termasuk dalam lima negara penghasil emisi terbesar di dunia. Hal ini mendorong pemerintah untuk menargetkan Net Zero Emission pada tahun 2060.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan inovasi, salah satunya dengan mengubah limbah Co2 menjadi sesuatu yang dapat dimanfaatkan melalui berbagai cara dan proses, sepert valorisasi Co2.
Meski terdengar tidak masuk akal, dengan adanya kemajuan teknologi limbah sekalipun bisa menjadi hal yang bernilai.
Apa itu Valorisasi Co2 ?
Valorisasi Co2 merupakan proses penangkapan emisi Co2 dan kemudian mengolahnya menjadi produk yang bermanfaat, sehingga Co2 tidak langsung dilepaskan ke atmosfer. Proses valorisasi Co2 biasanya diawali dengan teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture).
Saat ini, teknologi tersebut bukan merupakan solusi tunggal, melainkan gabungan dari berbagai teknologi yang masih terus dikembangkan. Teknologi ini banyak digunakan pada sektor industri dengan tingkat emisi tinggi, seperti kilang minyak dan pembangkit listrik.
Dalam praktiknya, teknologi penangkapan karbon bekerja dengan cara menangkap Co2 dari sumber industri maupun secara langsung dari udara. Setelah dikumpulkan, Co2 akan diproses melalui berbagai cara, seperti absorpsi kimia yang mengikat Co2, sistem pelarut cair yang dapat menyerap Co2, dan sistem penyerap padat yang menggunakan filter untuk menghadang Co2.
Selanjutnya, Co2 yang telah diproses dapat dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk yang bernilai, seperti bahan bakar sintetis, biopolimer yang dapat menggantikan plastik konvensional, serta material konstruksi. Selain itu, mikroorganisme seperti alga juga dapat memanfaatkan Co2 untuk mengahsilkan sebuah produk yang bermanfaat. Produk-produk tersebut antara lain, pupuk hayati, pakan ternak, senyawa yang digunakan dalam kosmetik dan farmasi, serta bahan makanan.
Tantangan dari Valorisasi Co2
Meskipun memiliki potensi besar, dalam mempraktikkan strategi valorisasi Co2 juga memiliki tantangannya tersendiri. Salah satunya adalah kebutuhan energi yang tinggi, terutama dalam proses mengubah Co2 menjadi bahan bakar sintesis. Selain itu, biaya teknologi yang masih mahal serta keterbatasan penerapan dalam skala besar juga menjadi hambatan dalam pengembangannya.
Oleh karena itu, strategi ini masih terus dalam dikembangkan agar dapat menjadi solusi yang lebih efektif untuk mengurangi jumlah emisi karbon. Pemerintah Indonesia juga bisa melihat valorisasi Co2 sebagai peluang untuk mengatasi masalah emisi karbon sekaligus mendukung upaya pencapaian target Net Zero Emission secara berkelanjutan.
Penulis: Natasha Suhendra