Banjir Rob di Semarang Bikin Tekor Rp848 Miliar: Bagaimana Cara Mengatasinya?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 09 April 2026 | 16:55 WIB
Banjir Rob di Semarang Bikin Tekor Rp848 Miliar: Bagaimana Cara Mengatasinya?
Banjir di Semarang (industriproperti.com/Istimewa)

Suara.com - Penanganan banjir di kota pesisir tidak lagi bisa dipandang semata sebagai persoalan teknis infrastruktur. Di balik genangan air, terdapat dampak yang lebih luas, mulai dari terganggunya mobilitas hingga kerugian ekonomi yang signifikan, serta persoalan keadilan sosial yang kerap terabaikan.

Hal ini mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan oleh World Resources Institute (WRI) bertajuk “Mengelola Risiko Banjir: Politik Kebijakan, Tata Ruang, dan Adaptasi di Kota-kota Pesisir di Indonesia” pada Rabu (8/4/2026).

Salah satu temuan kunci datang dari studi kasus banjir rob di Semarang yang dipaparkan oleh Sustainable Mobility Analyst WRI Indonesia, Afrizal Ma’arif. Ia menunjukkan bahwa dampak banjir rob telah meluas jauh melampaui isu lingkungan.

Sekitar 10 persen jaringan jalan di Semarang, setara dengan 11 persen aktivitas mobilitas masyarakat, berpotensi terdampak banjir rob. Genangan air dengan ketinggian 10 hingga 50 sentimeter tidak hanya memperlambat lalu lintas, tetapi juga mengganggu rantai aktivitas ekonomi kota.

“Banjir rob saat ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tapi sudah berdampak langsung terhadap mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Afrizal.

Gangguan tersebut berujung pada kerugian ekonomi yang tidak kecil. Riset memperkirakan, total kerugian akibat terganggunya transportasi di Semarang mencapai sekitar Rp848 miliar per tahun.

Angka ini dipicu oleh meningkatnya waktu tempuh perjalanan yang bisa membengkak hingga dua kali lipat, serta tingginya biaya perawatan kendaraan akibat paparan air yang memicu kerusakan mesin.

Temuan ini memperlihatkan bahwa pendekatan penanganan banjir yang selama ini bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik belum cukup menjawab kompleksitas persoalan.

Afrizal menekankan perlunya pergeseran menuju perencanaan transportasi yang lebih adaptif. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada perbaikan jalan, tetapi juga mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan kelembagaan secara bersamaan.

baca juga

“Strateginya tidak bisa hanya teknis di jalan. Harus dikombinasikan dengan aspek lingkungan, kelembagaan, dan sosial ekonomi,” jelasnya.

Dalam konteks ini, pembangunan infrastruktur pelindung seperti tanggul atau peninggian jalan perlu dikombinasikan dengan pendekatan green-grey infrastructure. Integrasi ini penting untuk memastikan akses menuju pusat ekonomi, seperti kawasan industri, permukiman, dan fasilitas pendidikan, tetap terjaga meski terjadi banjir.

Namun demikian, diskusi juga menyoroti pentingnya aspek keadilan dalam setiap kebijakan adaptasi. Pendekatan yang terlalu berfokus pada proyek infrastruktur skala besar berisiko mengabaikan kebutuhan masyarakat di tingkat bawah, yang justru menjadi kelompok paling rentan terdampak banjir.

“Apapun strateginya, harus tetap memperhatikan aspek keadilan. Infrastruktur besar tidak boleh mengabaikan masyarakat,” tegas Afrizal.

Solusi Multidisiplin

Ke depan, pengelolaan risiko banjir perlu dilakukan secara multidisiplin. Tidak hanya mengandalkan solusi teknis, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial, termasuk tekanan psikologis akibat banjir berulang, serta memastikan aksesibilitas bagi seluruh kelompok masyarakat.

Selain itu, keterlibatan sektor swasta dan penguatan tata kelola yang akuntabel juga menjadi kunci. Upaya ini perlu diiringi dengan perlindungan ekosistem di wilayah hulu dan pesisir agar fungsi alami lingkungan tetap mampu meredam risiko banjir.

Tanpa perubahan pendekatan yang lebih menyeluruh, kebijakan yang ada berisiko hanya menjadi solusi sementara. Sementara itu, dampak banjir akan terus berulang, dan biaya yang harus ditanggung masyarakat akan semakin besar.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Proyeksi Ekonomi RI Turun, Purbaya Tantang Balik World Bank Suruh Minta Maaf

Proyeksi Ekonomi RI Turun, Purbaya Tantang Balik World Bank Suruh Minta Maaf

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 14:10 WIB

Mimpi Besar Prabowo Terancam, World Bank Beri Catatan Ini

Mimpi Besar Prabowo Terancam, World Bank Beri Catatan Ini

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 13:37 WIB

Tak Cukup Satu Gaji, Fenomena 'Side Hustle' Picu Geliat Bisnis Franchise di FLEI 2026

Tak Cukup Satu Gaji, Fenomena 'Side Hustle' Picu Geliat Bisnis Franchise di FLEI 2026

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 08:50 WIB

Terkini

Jumlah Siswa Meledak 300 Persen, Sekolah Rakyat Lampung Desak Bantuan Nakes dan Armada

Jumlah Siswa Meledak 300 Persen, Sekolah Rakyat Lampung Desak Bantuan Nakes dan Armada

Lampung | Kamis, 22 Oktober 2026 | 07:27 WIB

Di Balik Aksi Greenpeace di Bundaran HI: Mengapa Dibawa ke Polda dan Bagaimana Aturan Hukumnya?

Di Balik Aksi Greenpeace di Bundaran HI: Mengapa Dibawa ke Polda dan Bagaimana Aturan Hukumnya?

News | Kamis, 22 Oktober 2026 | 07:25 WIB

4 Pelembap Calendula Jaga Kelembapan Kulit Kering dan Redakan Kemerahan

4 Pelembap Calendula Jaga Kelembapan Kulit Kering dan Redakan Kemerahan

Your Say | Kamis, 22 Oktober 2026 | 07:25 WIB

7 Tips Mencegah Garis Rambut atau Hairline Mundur, Hentikan Kebiasaan Mengikat Terlalu Kencang

7 Tips Mencegah Garis Rambut atau Hairline Mundur, Hentikan Kebiasaan Mengikat Terlalu Kencang

Lifestyle | Kamis, 22 Oktober 2026 | 07:10 WIB

7 Cara Mengatasi Makeup Luntur Terkena Keringat, Riasan Kembali Rapi dan Flawless

7 Cara Mengatasi Makeup Luntur Terkena Keringat, Riasan Kembali Rapi dan Flawless

Lifestyle | Kamis, 22 Oktober 2026 | 07:01 WIB

Review Sacrifice: Satir Kaum Superkaya dan Ambisi Selamatkan Bumi

Review Sacrifice: Satir Kaum Superkaya dan Ambisi Selamatkan Bumi

Your Say | Kamis, 22 Oktober 2026 | 06:37 WIB

RI Tak Mau Cuma Jadi Pasar Teknologi Global, Chip dan AI Jadi Taruhan

RI Tak Mau Cuma Jadi Pasar Teknologi Global, Chip dan AI Jadi Taruhan

Bisnis | Kamis, 22 Oktober 2026 | 06:27 WIB

Cara Mengubah Tumpukan Data Menjadi Keputusan Bisnis yang Menguntungkan

Cara Mengubah Tumpukan Data Menjadi Keputusan Bisnis yang Menguntungkan

Bisnis | Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:44 WIB

Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff

Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon

Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon

Sport | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:43 WIB

×