- Selat Hormuz dilaporkan masih ditutup total bagi mayoritas kapal tanker internasional per Kamis, 9 April 2026.
- Penutupan tersebut dipicu oleh serangan Israel di Lebanon dan dugaan pelanggaran kesepakatan oleh pihak Barat.
- Kapal tanker AUROURA terpaksa mengubah arah akibat ketegangan di jalur strategis antara Larak dan Musandam.
Suara.com - Gencatan senjata antara AS-Iran ternyata belum sepenuhnya membuat Selat Hormuz dibuka untuk lalu lintas kapal tanker.
Laporan media lokal Iran, Bartarinha.ir, Kamis (9/4/2026) menyebut bahwa Selat Hormuz masih ditutup total sampai hari ini.
Penutupan Selat Hormuz ini menurut laporan media Iran sebagai imbas serangan Israel ke Lebanon yang menewaskan ratusan orang.
Bartarinha menyebut bahwa pada hari ini, kapal tanker AUROURA yang tiba-tiba mengubah arah saat melintasi jalur strategis tersebut.
Berdasarkan data pelacakan maritim, kapal pengangkut produk minyak itu melakukan putaran 180 derajat di dekat pesisir Musandam, Oman, sebelum kembali masuk ke Teluk Persia.
Perubahan arah mendadak ini terjadi di salah satu titik paling sensitif, yakni antara Pulau Larak dan Semenanjung Musandam.

Kawasan tersebut dikenal sebagai jalur vital perdagangan energi dunia dengan kepadatan lalu lintas kapal yang tinggi.
Menurut laporan, kapal tersebut kini bergerak ke arah barat laut di dalam wilayah Teluk Persia di bawah pengawasan otoritas maritim Iran.
Media Iran menyebut menilai manuver seperti ini biasanya terjadi akibat instruksi langsung dari otoritas pengawas atau pertimbangan operasional di lapangan.
Media Iran juga mengklaim bahwa sekitar 99 persen kapal tidak dapat melintas di Selat Hormuz.
Hanya sejumlah kapal tertentu, termasuk milik Iran dan China, yang dilaporkan masih beroperasi di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa proses negosiasi dengan AS kini berada dalam ancaman serius.
Ghalibaf menilai pelanggaran terhadap poin-poin utama kesepakatan telah merusak fondasi dialog sejak awal.
“Dalam kondisi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi tidak masuk akal,” tegas Ghalibaf.
Menurut Teheran, terdapat tiga pelanggaran utama yang dilakukan pihak Barat dan Israel.