- Pakar geopolitik Dina Sulaeman memperingatkan konflik di Selat Hormuz dapat memicu krisis global pada sektor digital dan pangan.
- Iran menargetkan 17 korporasi teknologi besar Amerika Serikat yang diduga mendukung kepentingan militer dalam konflik di Gaza.
- Gangguan di Selat Hormuz berisiko mengguncang stabilitas ekonomi Amerika Serikat melalui ketergantungan pasar obligasi terhadap negara kawasan Teluk.
Jika ekonomi negara-negara tersebut terganggu akibat konflik di kawasan itu, maka stabilitas keuangan Amerika Serikat juga berpotensi ikut terdampak.
Dina bahkan mencatat bahwa dalam waktu lima minggu saja, negara-negara yang bergantung pada jalur Selat Hormuz sudah mulai merasakan tekanan ekonomi yang cukup signifikan.
Iran Disebut Terapkan Akses Selektif
Terkait akses jalur pelayaran, Dina menyebut Iran sebenarnya tidak menutup total Selat Hormuz. Namun negara tersebut disebut menerapkan kebijakan selektif terhadap kapal yang melintas.
“Sebenarnya kan Selat Hormuz itu tidak ditutup oleh Iran. Cuma Iran mengatakan yang boleh lewat itu teman kami saja. Artinya sebenarnya negara-negara kalau memang ingin barangnya lewat dan dengan selamat ya tinggal berteman saja,” pungkasnya.
Reporter: Tsabita Aulia