-
Iran dan Amerika Serikat berselisih tajam mengenai hak militer di wilayah Selat Hormuz.
-
Militer Iran mengancam akan menyerang kapal perang Amerika jika memasuki area Selat Hormuz.
-
Perundingan diplomatik di Islamabad terus berlanjut meski dibayangi ancaman konflik bersenjata di laut.
Suara.com - Kedaulatan wilayah perairan Selat Hormuz kini menjadi batu sandungan utama dalam dialog diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat.
Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Islamabad ini menghadapi jalan terjal karena perbedaan prinsip keamanan maritim.
Iran secara terbuka menolak segala bentuk pengurangan kehadiran militer mereka di jalur perdagangan minyak paling vital tersebut.
![Donald Trump. [Dok. Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/12/92143-donald-trump.jpg)
Sikap keras Teheran ini memicu perdebatan sengit dengan utusan Washington yang menginginkan stabilitas akses internasional.
Esensi dari konflik ini bukan sekadar soal jalur kapal, melainkan harga diri kedaulatan bangsa Iran.
Delegasi Iran secara konsisten menuntut pengakuan atas hak-hak rakyat mereka dalam menjaga wilayah teritorial laut.
Upaya mempertahankan dominasi militer di Selat Hormuz dianggap sebagai harga mati yang tidak dapat ditawar.
Sementara itu, Kantor Berita Tasnim melaporkan bahwa perbedaan pandangan ini telah muncul sejak putaran pertama pembicaraan dimulai.
Pihak Teheran merasa kehadiran angkatan bersenjata mereka adalah jaminan keamanan dari intervensi asing yang merugikan.
Sementara itu, pihak Amerika Serikat memandang dominasi sepihak tersebut sebagai ancaman bagi kebebasan navigasi dunia.
Ancaman Serangan Kapal Perusak
Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan sangat keras terkait aktivitas kapal asing.
Iran akan “secara tegas” mencegah setiap upaya kapal perang untuk melintasi Selat Hormuz, demikian pernyataan mereka.
Ketegangan sempat memuncak ketika sebuah kapal perusak milik Angkatan Laut AS terdeteksi bergerak menuju selat tersebut.
Militer Iran memantau ketat pergerakan kapal yang berangkat dari pelabuhan Fujairah itu dengan kesiagaan penuh.
Informasi pergerakan kapal ini segera diteruskan kepada delegasi di Islamabad untuk disampaikan kepada pihak Amerika Serikat.
Ancaman serangan fisik secara terbuka disampaikan melalui perantara diplomatik Pakistan guna menghindari eskalasi yang lebih luas.
“Setiap upaya kapal perang untuk melintasi Selat Hormuz akan dicegah secara tegas. Angkatan Laut IRGC saat ini memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Hanya kapal sipil yang diizinkan melintas dengan kondisi tertentu,” demikian pernyataan tersebut.
Teheran memberikan ultimatum bahwa kapal perang tersebut akan menjadi sasaran tembak jika nekat meneruskan perjalanan.
Waktu 30 menit diberikan sebagai batas toleransi sebelum tindakan militer diambil oleh pasukan penjaga pantai Iran.
Peringatan ini dimaksudkan agar proses negosiasi yang sedang berjalan tidak hancur akibat provokasi di lapangan.
Komposisi Delegasi Tingkat Tinggi
Dialog di Pakistan ini melibatkan tokoh-tokoh kunci dari struktur pemerintahan kedua negara yang saling bersitegang.
Delegasi Iran dipimpin langsung oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Di pihak seberang, Wakil Presiden J.D. Vance memimpin delegasi Amerika Serikat bersama tokoh berpengaruh Jared Kushner.
Kehadiran para pejabat tinggi ini menunjukkan betapa krusialnya kesepakatan yang sedang diupayakan di meja perundingan.
Meskipun intensitas ketegangan tinggi, kedua belah pihak masih mencoba mencari titik temu dalam putaran ketiga.
Konfrontasi ini bermula dari pengumuman gencatan senjata sementara selama dua minggu oleh Presiden Donald Trump.
Selat Hormuz merupakan titik sumbat strategis yang dilalui sepertiga dari total perdagangan minyak bumi melalui laut.
Perselisihan mengenai siapa yang berhak mengontrol lalu lintas militer di sana telah berlangsung selama puluhan tahun.
Iran menggunakan kendali selat ini sebagai posisi tawar politik yang kuat menghadapi sanksi ekonomi Barat.
Negosiasi di Islamabad diharapkan mampu meredam potensi perang terbuka di kawasan Teluk yang sangat sensitif.