- Perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat di Pakistan pada 12 April 2026 berakhir tanpa mencapai kesepakatan.
- Penasihat senior Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa negaranya kini memegang kendali penuh atas wilayah Selat Hormuz.
- Kontrol strategis atas Selat Hormuz digunakan Iran sebagai alat tawar utama dalam menghadapi konflik berkelanjutan dengan pihak Amerika.
Suara.com - Kegagalan perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Pakistan langsung direspons dengan pernyataan tegas dari Teheran.
Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati menegaskan bahwa negaranya kini memegang kendali penuh atas jalur pelayaran strategis, Selat Hormuz.
Melalui sebuah pernyataan di platform media sosial X pada Minggu, (12/4/2026), Velayati menyatakan bahwa diplomasi Iran selalu berlandaskan pada perlindungan kepentingan nasional dan kontrol atas selat tersebut adalah bagian dari strategi itu.
“Hari ini Selat Hormuz sepenuhnya berada di tangan kami,” ujarnya, dilansir dari Anadolu Agency.
Pernyataan keras ini muncul tepat setelah putaran terbaru negosiasi di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Sikap tegas Iran ini datang di saat pihak Amerika Serikat justru memandang kegagalan negosiasi sebagai kerugian bagi Teheran.

Wakil Presiden AS, JD Vance mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak gagal mencapai titik temu.
“Kami tidak mencapai kesepakatan, itu kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk dibandingkan bagi Amerika Serikat,” ujarnya.
Perundingan di Islamabad ini merupakan upaya untuk mengakhiri konflik antara Iran dengan AS dan Israel yang telah menewaskan lebih dari 3.300 orang sejak 28 Februari, sebelum gencatan senjata dua pekan yang rapuh tercapai.
Selama konflik berlangsung, Iran secara efektif membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz, sebuah koridor vital bagi 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, yang berdampak besar pada stabilitas energi global.
Dengan berakhirnya perundingan tanpa hasil, pernyataan dari Velayati ini menjadi sinyal kuat bahwa Iran tidak akan ragu menggunakan kontrolnya atas Selat Hormuz sebagai alat tawar strategis dalam konfrontasi yang masih berlanjut.