-
Perang di Iran meninggalkan trauma mendalam bagi jutaan anak meskipun gencatan senjata dilakukan.
-
Perekrutan anak di bawah umur oleh milisi Iran memicu kecaman keras dunia internasional.
-
Dampak psikologis jangka panjang mengancam masa depan generasi muda akibat paparan kekerasan perang.
Suara.com - Gencatan senjata mungkin telah menghentikan dentuman bom, namun kerusakan psikologis pada jutaan anak Iran diprediksi akan bertahan seumur hidup.
Keresahan akibat perang ini ini bukan sekadar statistik, melainkan kenyataan pahit yang merobek ruang privat keluarga di seluruh negeri.
Dikutip dari BBC, Ali, remaja berusia 15 tahun, menjadi representasi nyata bagaimana bisingnya perang kini berpindah ke dalam kepalanya sendiri.
![Warga Iran memegang foto Ayatollah Mojtaba Khamenei. [Khamenei News]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/07/72982-warga-iran-memegang-foto-ayatollah-mojtaba-khamenei.jpg)
Ia kerap terperanjat hebat hanya karena suara pintu yang terbanting atau peralatan makan yang jatuh ke lantai.
"Sebelum perang, saya tidak merasa stres sama sekali," ungkap Ali menggambarkan perubahan drastis kondisi mentalnya.
Bagi Ali, ketakutan yang muncul akibat suara serangan udara Amerika Serikat dan Israel telah menetap secara permanen dalam ingatannya.
"Tetapi sekarang bahkan suara terkecil pun menyebabkan otak saya bereaksi sangat buruk," jelas Ali mengenai sensitivitas pendengarannya saat ini.
Lebih dari 20 persen penduduk Iran merupakan anak-anak di bawah usia 14 tahun yang kini rentan mengalami trauma.
Kondisi Ali dikenal oleh para ahli psikologi sebagai hyper arousal, sebuah sinyal peringatan dini munculnya gangguan stres pascatrauma (PTSD).
"Suara ledakan, gelombang kejut, dan suara jet tempur yang terbang di atas kota dapat memberikan efek yang sangat serius," tuturnya.
Rumah Bukan Lagi Tempat yang Aman
Ali kini terus mengamati perubahan perilaku kedua orang tuanya yang turut hancur akibat dampak ekonomi dan keamanan.
Ayahnya kehilangan pekerjaan akibat konflik, sementara ibunya terjebak dalam kecemasan akut yang tak kunjung reda.
"Ibu saya tetap di rumah, dan setiap kali jet tempur terbang di atas kepala, dia menjadi ketakutan dan stres serta menunjukkan tanda-tanda kecemasan dan ketakutan yang jelas. Adapun saya sendiri, saya sangat takut," akunya.
Interaksi sosial Ali dengan teman sebaya terputus total seiring menyusutnya dunia yang ia tinggali selama ini.