- Negosiasi 21 jam antara AS dan Iran di Islamabad berakhir buntu karena Teheran menolak keras tuntutan penghentian total program nuklirnya.
- Presiden AS Donald Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz dan menghancurkan setiap pasukan Iran yang berani melawan.
- Iran merespons tegas ancaman tersebut dengan menyiagakan armada militer untuk menyerang kapal perang asing yang mendekati wilayahnya.
Suara.com - Perundingan Islamabad yang buntu antara Amerika Serikat dan Teheran kini memicu eskalasi militer baru usai Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf secara terbuka menantang ancaman blokade Donald Trump di Selat Hormuz.
Menyitat Haberler, Senin (13/4/2026), kegagalan diplomasi maraton selama 21 jam di Pakistan tersebut memaksa Garda Revolusi Iran menyiagakan armada nirawaknya untuk memantau pergerakan musuh.
Alih-alih tunduk pada tekanan militer Washington, Teheran justru menegaskan bahwa setiap kapal perang asing yang mendekat akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata yang memicu balasan mematikan.
Diplomasi Buntu di Pakistan

Mohammad Bagher Qalibaf, yang memimpin delegasi Iran dalam negosiasi dengan AS di ibu kota Pakistan, memberikan pernyataan tegas sekembalinya ke tanah air.
Ia menyebut pembicaraan tersebut berjalan sangat intens, serius, dan memberikan kesulitan tersendiri bagi kedua belah pihak.
Rasa saling tidak percaya mendominasi meja perundingan lantaran delegasi Iran merasa pernah diserang dua kali di tengah proses diplomasi sebelumnya.
Menyikapi ancaman Presiden AS Donald Trump soal blokade jalur laut, Qalibaf menegaskan bahwa intimidasi semacam itu sama sekali tidak berdampak pada mental rakyat Iran.
Sang Ketua Parlemen menekankan bahwa AS hanya memiliki satu jalan keluar, yakni mengambil keputusan adil yang bisa memulihkan kembali kepercayaan publik Iran.
Saling Ancam di Jalur Minyak Dunia
Qalibaf mengirimkan pesan lugas kepada Washington bahwa Teheran akan membalas logika dengan logika, dan merespons peperangan dengan peperangan nyata.
Ketegangan ini berakar dari ancaman terbaru Donald Trump yang menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan segera memulai proses blokade militer di Selat Hormuz.
Pemimpin Gedung Putih tersebut bahkan bersumpah akan menghancurkan ranjau-ranjau yang ditanam Iran dan mengirim siapa pun yang menembaki kapal AS ke neraka.
Merespons retorika agresif Trump, Komando Angkatan Laut Garda Revolusi Iran langsung merilis rekaman udara dari pesawat tak berawak yang memantau perairan strategis tersebut.
Mereka mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap langkah keliru dari pihak musuh hanya akan menjebak AS ke dalam pusaran mematikan di perairan Timur Tengah.
Harga Mati Program Nuklir
Garda Revolusi Iran juga merilis pernyataan kedua yang membantah klaim pejabat musuh dengan menegaskan bahwa lalu lintas perairan sipil tetap aman dan terkendali.
Namun, mereka menggarisbawahi bahwa kehadiran kapal militer dengan dalih apa pun di wilayah tersebut akan memancing respons serangan balik yang sangat keras.
Kebuntuan negosiasi panjang ini terjadi karena AS bersikeras menyodorkan proposal sepihak yang menuntut penghentian total program nuklir Iran.
Permintaan tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh Teheran yang kemudian menyodorkan rancangan tawaran balasannya sendiri.
Wakil Presiden AS JD Vance mengklaim kegagalan diplomasi ini murni terjadi karena Iran menolak menerima batasan garis merah yang telah ditetapkan oleh Washington.
Jejak Kegagalan Tekanan Militer AS
Di sisi lain, media Iran melaporkan bahwa tuntutan AS yang terlalu berlebihan menjadi biang keladi runtuhnya kerangka kesepakatan bersama dalam pembicaraan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Iran melalui pernyataan resminya memastikan bahwa negara tersebut tidak akan pernah mundur selangkah pun terkait hak berdaulat atas program nuklirnya.
Kegagalan diplomasi ini seolah mengulang hasil nihil dari pembicaraan Jenewa pada bulan Februari lalu yang berakhir tanpa solusi konkret.
Tekanan militer besar-besaran AS selama 38 hari yang menghantam lebih dari 13.000 target rupanya tetap tidak mampu memaksa pemerintahan Teheran untuk menyerah.
Berdasarkan analisis The New York Times, sejarah krisis pasokan minyak global membuktikan bahwa peperangan terbuka di Selat Hormuz akan menghancurkan 20 persen jalur energi dunia jika AS gagal menyelesaikan masalah ini di meja perundingan.