- Upaya penyelamatan ekosistem Sungai Musi mulai menunjukkan hasil nyata.
- Salah satu pencapaian paling signifikan datang dari keberhasilan program Belida Musi Lestari dalam mengonservasi empat jenis ikan Belida khas Sumatera Selatan yang sebelumnya berada di ambang kepunahan.
- Ikan Belida bukan sekadar komoditas perikanan, tetapi bagian dari identitas budaya masyarakat Sumsel.
Suara.com - Upaya penyelamatan ekosistem Sungai Musi mulai menunjukkan hasil nyata. Salah satu pencapaian paling signifikan datang dari keberhasilan program Belida Musi Lestari dalam mengonservasi empat jenis ikan Belida khas Sumatera Selatan yang sebelumnya berada di ambang kepunahan.
Ikan Belida bukan sekadar komoditas perikanan, tetapi bagian dari identitas budaya masyarakat Sumsel. Selama ratusan tahun, ikan ini menjadi bahan baku utama pempek otentik. Namun, eksploitasi berlebihan dan kerusakan lingkungan membuat populasinya terus menurun drastis.
“Sungai Musi bukan hanya ikon Provinsi Sumatera Selatan, tapi juga menjadi urat nadi kehidupan, jejak sejarah dan identitas budaya masyarakat di sana. Termasuk Ikan Belida yang sudah ratusan tahun menjadi bagian jati diri warga Sumsel,” ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun.
Program Belida Musi Lestari hadir sebagai respons atas krisis tersebut, dengan pendekatan yang tidak hanya fokus pada konservasi, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sejak dijalankan pada 2022 oleh Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju, program ini mengusung konsep ekosistem perikanan berkelanjutan berbasis kemandirian.
Melalui lima pilar utama—berdikari benih, proses, pakan, produk, dan pengetahuan—program ini membangun sistem dari hulu ke hilir. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat tidak lagi bergantung pada bantuan sementara, melainkan memiliki kapasitas untuk mengelola sumber daya secara mandiri.
Hasilnya mulai terasa. Selain berhasil menjaga keberlangsungan empat spesies ikan Belida, program ini juga membentuk 30 sentra perikanan terintegrasi yang menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
Dampak ekonominya pun signifikan. Program ini melibatkan 307 jiwa dari delapan kelompok rentan, dengan lonjakan nilai penjualan ikan hingga 809 persen atau sekitar Rp750 juta. Kondisi yang sebelumnya ditandai dengan fenomena “gulung waring”—kegagalan usaha perikanan—perlahan berbalik menjadi peluang pertumbuhan.
Di sisi lingkungan, inovasi juga dilakukan dengan mengolah 36 ton sampah makanan menjadi pakan ikan. Langkah ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga membantu mengurangi limbah di sekitar sungai.
“Program ini tidak memberikan bantuan instan yang bersifat sementara, melainkan membangun sistem yang mandiri dari hulu hingga ke hilir. Hasilnya pun nyata,” jelas Roberth.
Keberhasilan ini turut diperkuat dengan pembentukan pusat pembelajaran masyarakat yang menyediakan 18 kelas edukasi perikanan. Upaya ini memastikan transfer pengetahuan berjalan berkelanjutan dan bisa diwariskan ke generasi berikutnya.
Tak hanya berdampak secara langsung, program ini juga mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat. Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) tercatat mencapai 98,26 persen, sementara skor Exit Readiness & Sustainability berada di angka 81,77—menunjukkan kesiapan masyarakat untuk melanjutkan program secara mandiri.
“Program Belida Musi Lestari adalah bukti nyata bahwa kerusakan lingkungan dapat diatasi melalui kolaborasi dan inovasi. Dengan menyatukan aspek konservasi Ikan Belida dan pemberdayaan ekonomi berbasis kemandirian, program ini tidak hanya menyelamatkan ekosistem Sungai Musi, tetapi juga membangun benteng ketahanan ekonomi masyarakat lokal,” tutup Roberth.
Keberhasilan menghidupkan kembali ikan Belida menjadi penanda bahwa upaya konservasi yang terintegrasi dengan pemberdayaan ekonomi bisa berjalan beriringan—dan memberi dampak nyata, baik bagi lingkungan maupun kehidupan masyarakat.