-
Donald Trump menghapus foto AI yang dianggap menyerupai Yesus untuk menghindari kebingungan masyarakat.
-
Aktivis Kristen dan tokoh konservatif mengecam penggunaan simbol agama dalam konten digital politik.
-
Trump membela diri dengan mengklaim gambar tersebut menggambarkan dirinya sebagai seorang dokter profesional.
Reaksi keras segera bermunculan dari tokoh-tokoh yang selama ini dikenal memiliki hubungan dekat dengan lingkaran kekuasaan Trump.
Aktivis Kristen terkemuka, Sean Feucht, secara terbuka meminta agar konten tersebut segera dihilangkan dari ruang publik digital karena dianggap tidak pantas.
"Ini harus segera dihapus," tulis Sean Feucht, seorang aktivis Kristen yang sedang mempersiapkan rangkaian acara berbasis iman untuk memperingati HUT ke-250 Deklarasi Kemerdekaan AS tahun ini.
"Tidak ada konteks apa pun di mana hal ini bisa diterima," tambahnya dengan nada tegas.
Sentimen serupa juga diungkapkan oleh Riley Gaines yang menekankan bahwa nilai-nilai ketuhanan tidak boleh dijadikan bahan candaan atau simulasi digital.
"Tuhan tidak boleh diperolok," tulis Riley Gaines, seorang aktivis konservatif yang sangat menonjol di Amerika Serikat.
Kritik tajam bahkan datang dari jurnalis media keagamaan yang biasanya mendukung garis kebijakan politik sang presiden.
"Ini sudah terlalu jauh. Ini melampaui batas," tulis David Brody, seorang jurnalis dari Christian Broadcasting Network.
"Seorang pendukung dapat mendukung misinya namun tetap bisa menolak hal ini," tegas David dalam pernyataannya.
Unggahan kontroversial ini muncul hanya berselang satu jam setelah Trump melayangkan kritik pedas terhadap pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Fransiskus.
Trump menyebut Paus sebagai sosok yang lemah dalam penegakan hukum dan memiliki kebijakan luar negeri yang buruk bagi kepentingan Amerika.
Kritik tersebut muncul sebagai balasan atas sikap Paus Leo XIV yang secara konsisten mengecam operasi militer Amerika Serikat di Iran.
Paus menegaskan bahwa konflik bersenjata tersebut hanya membawa kekerasan yang tidak manusiawi bagi penduduk sipil di wilayah konflik.
Meskipun mendapatkan serangan secara verbal, Paus Leo menyatakan tidak memiliki kekhawatiran terhadap tekanan politik dari pemerintahan Trump.
Paus mengungkapkan pada hari Senin bahwa ia "tidak takut" terhadap pemerintahan Trump atau "menyuarakan pesan Injil dengan lantang, yang menurut saya adalah alasan saya berada di sini".