- Menteri Energi Filipina Sharon Garin menunggu respons Amerika Serikat terkait permohonan tambahan pembelian minyak Rusia pada 14 April 2026.
- Pemerintah Filipina mengajukan pengecualian embargo minyak guna mengatasi status darurat energi akibat tantangan pasokan minyak global yang kritis.
- Filipina sangat bergantung pada impor energi luar negeri sehingga memerlukan langkah strategis untuk menjamin ketersediaan pasokan minyak nasional.
Suara.com - Negara tetangga Filipina masih menunggu respons dari Amerika Serikat terkait permintaan peningkatan pembelian minyak dari Rusia, menurut Menteri Energi, Sharon Garin, kepada wartawan di Manila, Selasa (14/4/2026).
Garin menyebut pemerintah Filipina telah melakukan komunikasi dengan United States Department of State untuk memperoleh peluang tambahan atau perpanjangan pengecualian dari embargo yang berlaku.
“Kami telah berkomunikasi dengan Departemen Luar Negeri (AS) untuk mendapatkan kesempatan lagi atau perpanjangan pencabutan embargo,” kata Garin, dilansir dari Anadolu.
Ia menegaskan Filipina optimistis terhadap permohonan resmi yang telah diajukan ke Washington, sebagai langkah untuk mengatasi situasi darurat energi di negara tersebut.
Di tengah dinamika global terkait konflik antara AS dan Israel dengan Iran, Amerika Serikat sebelumnya memberikan pengecualian selama 30 hari untuk pembelian minyak Rusia yang masih berada di bawah sanksi Barat akibat perang di Ukraina.
Filipina menjadi negara pertama yang menetapkan status darurat energi untuk menghadapi potensi kekurangan pasokan minyak akibat kondisi geopolitik tersebut.
Pada Maret, Filipina tercatat membeli sekitar 2,48 juta barel minyak mentah dari Rusia.
Negara Asia Tenggara itu diketahui sangat bergantung pada impor energi, dengan sekitar 90 persen kebutuhan minyak berasal dari kawasan Timur Tengah. Pada 2024, Filipina menghabiskan sekitar 16 miliar dolar AS (sekitar Rp274,03 triliun) untuk impor minyak.
(Antara)