- Pemerintah China membantah tuduhan memasok senjata ke Iran yang memicu ancaman tarif tambahan sebesar 50 persen dari Amerika Serikat.
- Beijing menegaskan akan mengambil langkah balasan jika Amerika Serikat tetap memberlakukan kebijakan tarif tersebut di tengah memanasnya konflik.
- Konflik di Iran sejak Februari 2026 telah menewaskan 1.400 orang serta menyebabkan lonjakan harga minyak akibat blokade Selat Hormuz.
Suara.com - Pemerintah China menegaskan tidak pernah menyuplai senjata ke Iran, sekaligus membantah tuduhan yang menjadi dasar ancaman tarif tambahan dari Amerika Serikat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut laporan media terkait tudingan tersebut tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa China menjalankan kontrol ketat terhadap ekspor militer sesuai hukum nasional dan kewajiban internasional.
“China selalu bertindak bijaksana dan bertanggung jawab dalam ekspor produk militer. Laporan media terkait sepenuhnya dibuat-buat,” ujar Guo dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (14/4).
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 50 persen terhadap produk China jika terbukti memasok senjata ke Iran. Menanggapi hal itu, Beijing memperingatkan akan mengambil langkah balasan jika kebijakan tersebut tetap diberlakukan.
“Jika AS melanjutkan kenaikan tarif berdasarkan tuduhan ini, China akan merespons dengan tindakan balasan,” tegas Guo.
Di tengah memanasnya situasi, Iran juga menunjukkan kesiapan militernya. Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Hossein Mohebbi, menyatakan pihaknya masih menyimpan sejumlah kemampuan militer yang belum digunakan.
“Kami belum menggunakan seluruh kemampuan kami. Jika perang berlanjut, kami akan mengungkap kemampuan yang tidak diketahui musuh,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaeinik, yang menegaskan kesiapan angkatan bersenjata Iran dengan dukungan rudal, drone, hingga amunisi untuk operasi ofensif maupun defensif.
Sementara itu, kebijakan blokade Selat Hormuz yang diperintahkan Presiden Trump dinilai China sebagai langkah berbahaya yang justru memperburuk ketegangan.
“Langkah ini akan melemahkan gencatan senjata yang rapuh dan membahayakan jalur vital perdagangan global,” kata Guo.
China menekankan bahwa gencatan senjata menyeluruh merupakan satu-satunya solusi untuk meredakan konflik. Beijing juga mendesak semua pihak untuk kembali ke jalur diplomasi dan menjaga stabilitas kawasan.
Konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel sejak akhir Februari 2026 telah memicu dampak besar, termasuk lonjakan harga minyak dunia akibat gangguan di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi global.
Selain itu, konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.400 orang dan menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur Iran, dengan nilai kerugian mencapai ratusan miliar dolar AS.
Meski sempat tercapai gencatan senjata sementara selama dua pekan, upaya negosiasi damai belum membuahkan hasil. Perbedaan pandangan terkait pengelolaan Selat Hormuz menjadi salah satu hambatan utama dalam perundingan.