- Riset Dedy Budiman pada Maret 2026 menunjukkan 74,6% konsumen Indonesia menggunakan teknologi AI untuk mencari informasi produk sebelum membeli.
- Konsumen berusia 55 tahun ke atas menjadi kelompok dengan tingkat adopsi AI tertinggi dalam membantu pengambilan keputusan pembelian.
- Rekomendasi brand oleh AI terbukti memengaruhi 52,7% konsumen, sehingga perusahaan perlu mengoptimalkan strategi pemasaran berbasis kecerdasan buatan tersebut.
Meskipun adopsi AI tumbuh pesat, Google masih menjadi platform dominan. Sebanyak 60,5% responden menyatakan masih lebih sering menggunakan Google dibanding AI, sementara 22,4% sudah menggunakan keduanya secara seimbang, dan 17,2% sudah lebih condong ke AI.
Alasan utama konsumen beralih atau menggunakan AI adalah karena jawaban yang lebih langsung dan ringkas tanpa perlu membuka banyak tautan (34,5%), lebih cepat dan hemat waktu (25,4%), serta lebih personal dan relevan dengan konteks mereka (19,5%). Namun, 18,5% responden mengaku belum beralih dan masih lebih nyaman menggunakan Google.
“Tren ini menunjukkan bahwa AI saat ini berfungsi sebagai akselerator keputusan — melengkapi proses pencarian, bukan sepenuhnya menggantikan. Tapi kecepatan pertumbuhannya luar biasa. Perusahaan yang menunggu sampai AI benar-benar menggantikan Google akan terlambat beradaptasi,” jelas Dedy Budiman.
“Penjaga Gerbang” Brand Baru
Riset ini menemukan bahwa ketika AI menyebutkan merek tertentu dalam jawabannya, hal tersebut berdampak signifikan terhadap pertimbangan konsumen.
Secara rinci, 45,5% responden menyatakan cukup berpengaruh sehingga akan mencari tahu lebih lanjut tentang merek tersebut, 7,2% menyatakan sangat berpengaruh sehingga merek tersebut langsung masuk pertimbangan utama, 32,5% menyatakan sedikit berpengaruh, dan hanya 14,9% yang menyatakan tidak berpengaruh sama sekali.

Secara keseluruhan, 52,7% responden cukup hingga sangat terpengaruh oleh rekomendasi brand dari AI. Di kalangan pengguna AI berat, angka ini melonjak menjadi 71,1%.
“Ini adalah perubahan fundamental. Dulu, konsumen datang ke toko atau membuka Google dan memilih sendiri dari daftar hasil pencarian. Sekarang, AI yang menyaring dan merekomendasikan brand tertentu. Perusahaan yang tidak terlihat di mata AI, tidak akan terlihat di mata konsumen,” tambah Dedy Budiman.
Meningkatkan Kepercayaan Diri Konsumen
Dampak AI terhadap proses pengambilan keputusan sangat positif. Sebanyak 79,8% responden menyatakan bahwa AI membuat proses memilih produk menjadi lebih cepat dan lebih mudah, dengan rincian 57,0% menilai lebih cepat dan mudah, serta 22,8% menilai jauh lebih cepat. Hanya 2,2% yang merasa AI membuat proses lebih lama dan rumit.
Dari sisi kepercayaan diri, 57,3% responden merasa lebih yakin atau jauh lebih yakin dalam keputusan pembelian mereka setelah berkonsultasi dengan AI. Hanya 4,0% yang justru merasa lebih ragu.
Sementara, kategori produk yang paling sering dicari konsumen melalui berbagai platform pencarian adalah elektronik/gadget (22,8%), fashion/pakaian (21,9%), kecantikan/kosmetik/skincare (14,5%), kesehatan (10,0%), dan kendaraan/otomotif (8,8%).
Profil Pengguna AI
Riset ini mengungkapkan pola segmentasi yang menarik berdasarkan jabatan dan pendidikan. Direktur dan C-Level menunjukkan tingkat adopsi AI-first tertinggi (25,9%), dengan penggunaan media sosial paling rendah (16,5%).
Sebaliknya, karyawan level staf menunjukkan ketergantungan media sosial tertinggi (48,1%) dengan adopsi AI terendah (11,9%).