- Riset Dedy Budiman pada Maret 2026 menunjukkan 74,6% konsumen Indonesia menggunakan teknologi AI untuk mencari informasi produk sebelum membeli.
- Konsumen berusia 55 tahun ke atas menjadi kelompok dengan tingkat adopsi AI tertinggi dalam membantu pengambilan keputusan pembelian.
- Rekomendasi brand oleh AI terbukti memengaruhi 52,7% konsumen, sehingga perusahaan perlu mengoptimalkan strategi pemasaran berbasis kecerdasan buatan tersebut.
Suara.com - Sebuah riset yang melibatkan 1.596 responden dari berbagai provinsi di Indonesia mengungkapkan bahwa 74,6% konsumen Indonesia sudah menggunakan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Google AI Mode, Gemini, dan Perplexity untuk mencari informasi produk sebelum melakukan pembelian.
Lebih dari seperempat di antaranya (26,4%) bahkan sudah menjadikan AI sebagai bagian rutin dalam proses pengambilan keputusan pembelian mereka.
Riset bertajuk “The Rise of AI-Assisted Consumer Information Search” ini dilakukan oleh Dedy Budiman, Champion Sales Trainer yang juga merupakan mahasiswa doktoral dari Universitas Prasetiya Mulya, melalui survei daring pada 3–13 Maret 2026.
Responden berasal dari jaringan profesional Sales Director Indonesia (SDI), Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI), Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI), serta jaringan korporasi yang tersebar di seluruh Indonesia.
Hampir Selalu Riset Sebelum Membeli
Riset ini mengkonfirmasi bahwa perilaku mencari informasi sebelum membeli sudah menjadi kebiasaan yang nyaris universal.
Sebanyak 98,7% responden menyatakan selalu atau kadang-kadang mencari informasi terlebih dahulu sebelum memutuskan pembelian produk atau jasa.
Ketika ditanya tentang platform pertama yang digunakan untuk mencari informasi produk, media sosial (TikTok, Instagram, YouTube) masih menjadi pilihan utama dengan 39,3%, disusul marketplace (Shopee, Tokopedia, Lazada) di 27,1%, dan Google di 15,7%.
Platform berbasis AI secara gabungan sudah mencapai 15,2% sebagai titik awal pencarian, terdiri dari Google AI Mode (8,6%) dan AI mandiri seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity (6,6%).
Konsumen Usia 55+ Paling Tinggi Adopsi AI
Salah satu temuan paling mengejutkan dari riset ini adalah fenomena yang disebut “Silver Surfer Paradox”, konsumen berusia 55 tahun ke atas menunjukkan tingkat adopsi AI-first tertinggi sebesar 24,2%, dibandingkan hanya 11,7% pada kelompok usia 25–34 tahun.
Temuan itu menantang asumsi umum bahwa generasi muda selalu menjadi pionir dalam adopsi teknologi baru.
Data penggunaan AI tinggi (pengguna yang sering atau hampir selalu menggunakan AI) juga menunjukkan pola serupa: kelompok usia 45–54 tahun mencatat tingkat penggunaan AI tinggi tertinggi (36,7%), diikuti kelompok 55+ (30,4%), sementara kelompok 17–24 tahun justru paling rendah (19,5%).
“Selama 30 tahun saya berkecimpung di dunia penjualan, belum pernah saya melihat pergeseran perilaku konsumen secepat ini. Yang menarik, justru para profesional senior dan pengambil keputusan yang lebih cepat mengadopsi AI karena mereka menghadapi keputusan pembelian yang lebih kompleks — mulai dari produk kesehatan, jasa keuangan, hingga properti. AI membantu mereka memproses informasi yang rumit dengan cara yang lebih efisien,” ujar Dedy Budiman dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).
AI Melengkapi, Belum Menggantikan Google
Meskipun adopsi AI tumbuh pesat, Google masih menjadi platform dominan. Sebanyak 60,5% responden menyatakan masih lebih sering menggunakan Google dibanding AI, sementara 22,4% sudah menggunakan keduanya secara seimbang, dan 17,2% sudah lebih condong ke AI.
Alasan utama konsumen beralih atau menggunakan AI adalah karena jawaban yang lebih langsung dan ringkas tanpa perlu membuka banyak tautan (34,5%), lebih cepat dan hemat waktu (25,4%), serta lebih personal dan relevan dengan konteks mereka (19,5%). Namun, 18,5% responden mengaku belum beralih dan masih lebih nyaman menggunakan Google.
“Tren ini menunjukkan bahwa AI saat ini berfungsi sebagai akselerator keputusan — melengkapi proses pencarian, bukan sepenuhnya menggantikan. Tapi kecepatan pertumbuhannya luar biasa. Perusahaan yang menunggu sampai AI benar-benar menggantikan Google akan terlambat beradaptasi,” jelas Dedy Budiman.
“Penjaga Gerbang” Brand Baru
Riset ini menemukan bahwa ketika AI menyebutkan merek tertentu dalam jawabannya, hal tersebut berdampak signifikan terhadap pertimbangan konsumen.
Secara rinci, 45,5% responden menyatakan cukup berpengaruh sehingga akan mencari tahu lebih lanjut tentang merek tersebut, 7,2% menyatakan sangat berpengaruh sehingga merek tersebut langsung masuk pertimbangan utama, 32,5% menyatakan sedikit berpengaruh, dan hanya 14,9% yang menyatakan tidak berpengaruh sama sekali.

Secara keseluruhan, 52,7% responden cukup hingga sangat terpengaruh oleh rekomendasi brand dari AI. Di kalangan pengguna AI berat, angka ini melonjak menjadi 71,1%.
“Ini adalah perubahan fundamental. Dulu, konsumen datang ke toko atau membuka Google dan memilih sendiri dari daftar hasil pencarian. Sekarang, AI yang menyaring dan merekomendasikan brand tertentu. Perusahaan yang tidak terlihat di mata AI, tidak akan terlihat di mata konsumen,” tambah Dedy Budiman.
Meningkatkan Kepercayaan Diri Konsumen
Dampak AI terhadap proses pengambilan keputusan sangat positif. Sebanyak 79,8% responden menyatakan bahwa AI membuat proses memilih produk menjadi lebih cepat dan lebih mudah, dengan rincian 57,0% menilai lebih cepat dan mudah, serta 22,8% menilai jauh lebih cepat. Hanya 2,2% yang merasa AI membuat proses lebih lama dan rumit.
Dari sisi kepercayaan diri, 57,3% responden merasa lebih yakin atau jauh lebih yakin dalam keputusan pembelian mereka setelah berkonsultasi dengan AI. Hanya 4,0% yang justru merasa lebih ragu.
Sementara, kategori produk yang paling sering dicari konsumen melalui berbagai platform pencarian adalah elektronik/gadget (22,8%), fashion/pakaian (21,9%), kecantikan/kosmetik/skincare (14,5%), kesehatan (10,0%), dan kendaraan/otomotif (8,8%).
Profil Pengguna AI
Riset ini mengungkapkan pola segmentasi yang menarik berdasarkan jabatan dan pendidikan. Direktur dan C-Level menunjukkan tingkat adopsi AI-first tertinggi (25,9%), dengan penggunaan media sosial paling rendah (16,5%).
Sebaliknya, karyawan level staf menunjukkan ketergantungan media sosial tertinggi (48,1%) dengan adopsi AI terendah (11,9%).
Dari sisi pendidikan, lulusan sarjana (33,0%) dan pascasarjana (32,7%) menunjukkan penggunaan AI tinggi yang jauh lebih besar dibandingkan lulusan SMA/SMK (20,6%).
Menariknya, gender hampir tidak berpengaruh terhadap adopsi AI. Pengguna AI berat di kalangan laki-laki (26,8%) dan perempuan (25,9%) nyaris setara, menunjukkan bahwa AI untuk pencarian konsumen tidak mengenal perbedaan gender di Indonesia.
Secara geografis, Jabodetabek memimpin dengan 32,0% pengguna AI berat, diikuti Sumatera (25,9%) dan Jawa non-Jabodetabek (24,4%).
Implikasi bagi Dunia Bisnis Indonesia
Temuan riset ini menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia perlu segera memperluas strategi pemasaran digital mereka.
Tidak cukup hanya mengandalkan Search Engine Optimization (SEO), perusahaan kini harus mulai menerapkan Generative Engine Optimization (GEO), yaitu memastikan informasi brand mereka terstruktur, akurat, dan hadir di berbagai platform bereputasi tinggi yang menjadi sumber referensi bagi AI.
“Perusahaan yang hanya fokus pada website dan SEO tanpa membangun kehadiran di media pihak ketiga seperti artikel industri, ulasan profesional, dan publikasi akademik, akan semakin sulit ditemukan oleh konsumen yang kini mengandalkan AI. Strategi pemasaran harus disesuaikan berdasarkan target audiens, untuk menjangkau pengambil keputusan level atas, visibilitas di AI dan Google harus menjadi prioritas. Untuk konsumen level staf yang lebih muda, media sosial dan marketplace tetap esensial,” jelas Dedy.
Brando Tengdom, Ketua Umum Sales Director Indonesia (SDI), menyambut positif temuan riset ini.
“Temuan ini sangat bermanfaat bagi para member SDI yang merupakan para pengambil keputusan di perusahaan masing-masing. Data ini bisa membantu mereka dalam menyusun strategi penjualan yang lebih tepat di era perubahan perilaku pelanggan ini. Kami mengapresiasi kontribusi Dedy Budiman yang secara konsisten menghadirkan riset berbasis data untuk kemajuan profesi sales di Indonesia,” ujar Brando.
Senada dengan itu, Indra Hadiwidjaja, Ketua Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI), juga menyatakan dukungannya.
“Temuan ini menjadi sangat penting bagi para sales profesional di seluruh Indonesia. Di tengah perubahan perilaku konsumen yang begitu cepat, para tenaga penjualan harus memahami bahwa pelanggan mereka kini datang dengan informasi yang sudah dikurasi oleh AI. Sales yang tidak beradaptasi akan tertinggal,” kata Indra.