- Presiden Donald Trump menyoroti kematian dan hilangnya sepuluh pekerja teknologi nuklir serta luar angkasa Amerika dalam tiga tahun terakhir.
- Insiden terjadi di fasilitas pemerintah seperti NASA dan Los Alamos, namun otoritas terkait belum menemukan bukti adanya konspirasi besar.
- Penyelidik menyimpulkan kematian dan hilangnya para ilmuwan tersebut bersifat terpisah serta tidak menunjukkan pola sabotase maupun keterlibatan aktor asing.
Suara.com - Gelombang spekulasi menyelimuti serangkaian kematian dan hilangnya sejumlah ilmuwan di laboratorium nuklir pemerintah Amerika Serikat.
Isu ini semakin panas setelah Presiden Donald Trump memberi sinyal adanya kemungkinan sesuatu yang tidak biasa di balik kasus tersebut.
“Saya baru saja keluar dari pertemuan soal itu, ini hal yang cukup serius. Semoga hanya kebetulan,” kata Trump kepada wartawan, Kamis waktu setempat seperti dilansir dari CBS News.
Trump menambahkan, beberapa dari individu yang terlibat adalah sosok penting dan kasusnya akan ditelusuri lebih lanjut.
Dalam tiga tahun terakhir, sedikitnya 11 ilmuwa yang terkait dengan teknologi nuklir dan luar angkasa dilaporkan meninggal atau hilang.
Para korban emiliki hubungan dengan fasilitas seperti Jet Propulsion Laboratory milik NASA dan Los Alamos National Laboratory.
![Presiden AS, Donald Trump. [IG/@realdonaldtrump]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/17/13828-presiden-as-donald-trump.jpg)
Media sosial pun ramai dengan teori konspirasi, mulai dari dugaan sabotase hingga upaya melemahkan program nuklir dan antariksa AS.
Namun, para penyelidik dan pejabat yang terlibat dalam investigasi kasus ini menilai tidak ada indikasi keterkaitan antar kasus tersebut.
Sumber pemerintah menyebut FBI tidak melihat pola mencurigakan dalam insiden-insiden ini.
Penanganan kasus ini lebih banyak dilakukan oleh Departemen Energi AS, yang membawahi sejumlah fasilitas terkait.
“FBI mengetahui situasi ini dan memberikan bantuan jika diminta, tetapi biasanya bukan pihak utama dalam kasus seperti ini,” ujar juru bicara FBI, Ben Williamson.
Badan Keamanan Nuklir Nasional (NNSA) juga mengonfirmasi tengah mencermati kekhawatiran publik. “Kami mengetahui laporan terkait pegawai di fasilitas kami dan sedang meninjau masalah ini,” kata perwakilan NNSA.
Sejumlah pejabat mengakui pola kasus ini memang “mengundang tanda tanya”. Namun, mereka menegaskan belum ada bukti yang mengarah pada operasi spionase atau konspirasi besar.
“Orang memang bisa meninggal karena berbagai hal—stroke, penyakit jantung, bunuh diri, atau kejahatan jalanan,” ujar mantan pejabat Departemen Energi.
Pejabat itu bilang bahwa tidak semua pekerja di fasilitas nuklir memiliki akses ke informasi rahasia.