-
Naftali Bennett dan Yair Lapid membentuk Partai Beyahad untuk menghadapi Benjamin Netanyahu.
-
Koalisi ini berkomitmen menyelidiki kegagalan pemerintah terkait serangan 7 Oktober 2023.
-
Penyatuan ini bertujuan membawa perubahan kepemimpinan melalui pemilu nasional bulan Oktober.
Naftali Bennett merupakan mantan perwira komando dan pengusaha teknologi sukses yang memiliki daya tarik bagi pemilih muda.
Meskipun pernah menjadi penasihat Netanyahu, Bennett kini bertransformasi menjadi rival terkuat yang konsisten mengkritik kebijakan mantan mentornya.
Sementara itu, Yair Lapid membawa latar belakang jurnalis senior yang memiliki pengaruh kuat di parlemen melalui Yesh Atid.
Rekam jejak mereka saat memimpin koalisi pelangi pada 2021 menjadi bukti nyata kapasitas mereka menggeser dominasi sayap kanan.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru, figur Bennett dianggap paling berpeluang besar untuk memenangkan kursi perdana menteri selanjutnya.
Persaingan ini memuncak setelah pemerintahan koalisi Bennett-Lapid runtuh pada akhir tahun 2022 dan digantikan kembali oleh Netanyahu.
Netanyahu sendiri adalah pemimpin terlama dalam sejarah Israel yang telah menjabat selama total 18 tahun di berbagai periode.
Ketegangan politik meningkat pasca serangan Hamas, di mana publik mulai mempertanyakan kompetensi kepemimpinan nasional dalam menjaga kedaulatan.
Pemilu yang dijadwalkan paling lambat akhir Oktober 2026 akan menjadi medan pertempuran antara status quo dan gerakan perubahan.
Partai Beyahad kini memposisikan diri sebagai solusi atas kebuntuan politik yang melanda Israel dalam beberapa tahun terakhir.