- Noorman Windarto melaporkan adanya penipuan fasilitas dan tindak kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta pada April 2026.
- Korban mengalami trauma psikologis serta gangguan kesehatan serius akibat lingkungan yang tidak manusiawi dan minim pengawasan pengelola daycare.
- Orang tua menuntut pihak kepolisian memberikan hukuman maksimal kepada manajemen dan pengasuh yang terbukti melakukan penganiayaan terhadap anak.
"Fasilitas kesehatan itu ternyata nggak ada, yang dijanjikan nggak ada. Anak saya yang nomor dua itu kan setiap bulan masuk rumah sakit, periksa ke dokter sakit terdiagnosis pneumonia dari usia 3 bulan," ujarnya.
"Itu hampir setiap bulan itu kita sakit, kita nggak nyangka kalau kondisi di sanalah yang menjadi penyebabnya," imbuhnya.
Kecurigaan Noorman sebenarnya sudah muncul saat menemukan luka fisik di punggung dan bibir anaknya. Namun, setiap kali dikonfirmasi, pihak daycare selalu memiliki alasan diplomatis.
Tak hanya itu, bahkan pihak daycare seolah melakukan serangan balik dengan menuduh bahwa luka tersebut sudah ada sejak dari rumah.
"Luka-luka di punggung, di bibir, kemudian ada di selangkangan, ada di tubuh ada, pasti ada. Terus sampai di daycare itu langsung kayak di-klarifikasi. Langsung difoto sama pihak sekolah, 'Ini adik sudah luka dari rumah lho.' Wah, sudah mulai janggal nih," tuturnya.
Psikologis Anak Tertekan
Secara psikologis, trauma anak-anak terlihat dari perilaku harian mereka. Noorman baru menyadari bahwa tangis histeris anaknya setiap pagi merupakan bentuk penolakan terhadap perlakuan di tempat penitipan tersebut.
Hal ini berbeda drastis ketika akhir pekan tiba, di mana sang anak tampak tenang dan natural. Sebab tak harus pergi ke tempat penitipan.
"Kalau adiknya itu hampir setiap pagi kalau mau berangkat itu kita mau mandiin itu pasti nangis. Tapi kalau Sabtu sampai Minggu, dia natural, tidak ada nangis, ketakutan, artinya mandi ya mandi gitu. Jadi itu dampak-dampak yang saya saat ini baru ngeh," ujarnya.
Puncaknya, Noorman melihat sendiri bukti rekaman dari kepolisian saat proses penggerebekan. Ia sangat terpukul melihat anak-anak diperlakukan secara tidak manusiawi.
Ada yang diikat di cagak pintu hingga diletakkan di lantai tanpa pengawasan dan perlakuan yang memadai.
"Yang saya lihat tadi dari kepolisian tuh yang pas anak-anak masih diikat dan tidak pakai baju hanya pakai popok dan ada yang masih berdiri di cagak pintu ya," tandasnya.
"Saya kalau sudah melihat yang diikat itu udah miris. Nangis, ya pasti. Itu udah kayak saya salah lah menitipkan anak," sambungnya.
Apalagi, kata Noorman kondisi di dalam daycare tersebut ternyata sangat tidak manusiawi. Mengingat jumlah anak yang dititipkan mencapai puluhan orang di satu lokasi yang pengap.
Ditambah lagi tak ada akses untuk orang tua masuk memeriksa langsung anak mereka.
"Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih anak pada usia bayi sampai balita tuh wah luar biasa ternyata nggak manusiawi kalau sama Kamp Guantanamo aja lebih sadis kamp ini ternyata," ujarnya.
Tuntut Pelaku Dihukum Berat
Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi orang tua lain agar tidak mudah percaya hanya pada tampilan luar sebuah lembaga. Terlebih yang berkaitan dengan tempat penitipan anak.
Kini, Noorman menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak berwajib dan menuntut hukuman maksimal bagi pihak yang terlibat di dalamnya.
Baginya, penegakan hukum yang setimpal adalah satu-satunya cara untuk menebus rasa bersalahnya sebagai orang tua yang sempat terlena oleh janji-janji manis.
"Saya percayakan kepada polisi untuk dihukum yang seberat-beratnya. Untuk pelaku ataupun tersangka, dari semuanya manajemen dan pengasuh yang ada di sana ya dihukum sesuai dengan ketentuan yang berlakulah," tegasnya.