-
Tabrakan kereta api di Bekasi mengakibatkan tujuh korban tewas dan puluhan lainnya luka berat.
-
Kecelakaan dipicu oleh taksi yang menyerempet kereta sehingga rangkaian berhenti di jalur aktif.
-
Evakuasi berlangsung dramatis karena banyak penumpang terjepit di bawah tumpukan material gerbong rusak.
Suara.com - Tragedi kecelakaan kereta KRL di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) membuat media asing menyoroti soal kualitas transportasi umum di Indonesia.
Malam itu, tujuh nyawa melayang seketika akibat benturan keras antara kereta api jarak jauh dengan rangkaian kereta komuter yang sedang berhenti.
AFP, seperti dikutip dari SMP menilai insiden berdarah ini menambah daftar panjang potret kelam manajemen keselamatan perjalanan kereta api di wilayah metropolitan Jakarta.
![Petugas SAR gabungan mengevakuasi korban kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/app/agr]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/28/81151-evakuasi-korban-kecelakaan-kereta-argo-bromo-tabrak-krl-di-bekasi-timur-ka-argo-bromo-anggrek.jpg)
"Kecelakaan kereta api besar terakhir di negara Asia Tenggara ini menewaskan empat awak kereta dan melukai sekitar dua lusin orang di tempat lain di provinsi Jawa Barat pada Januari 2024," tulis AFP.
"Kecelakaan transportasi bukanlah hal yang jarang terjadi di Indonesia , sebuah negara kepulauan yang luas di mana bus, kereta api, dan bahkan pesawat terbang seringkali sudah tua dan kurang terawat."
"Enam belas orang tewas ketika sebuah kereta komuter menabrak sebuah minibus di perlintasan sebidang di Jakarta pada tahun 2015."
Kekacauan di lintasan rel tersebut dipicu oleh insiden kecil di perlintasan sebidang yang berujung pada malapetaka skala besar.
![Petugas mengevakuasi korban yang terjebak di dalam gerbong KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/app/agr]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/28/64182-evakuasi-korban-kecelakaan-kereta-argo-bromo-tabrak-krl-di-bekasi-timur-ka-argo-bromo-anggrek.jpg)
Struktur gerbong yang ringsek menjadi saksi bisu betapa rentannya keselamatan penumpang saat protokol darurat gagal diantisipasi tepat waktu.
Anna Purba, juru bicara perusahaan kereta api KAI, memberikan keterangan resmi mengenai jumlah korban dalam peristiwa tersebut.
“Tujuh orang tewas dalam kecelakaan itu dan 81 orang luka-luka,” ujar Anna Purba.
Tim penyelamat bekerja ekstra keras melawan waktu untuk menjangkau korban yang masih terhimpit di dalam potongan logam gerbong.
Dua orang dilaporkan masih dalam kondisi bernyawa namun terjebak di bawah reruntuhan material kereta yang hancur berantakan.
Upaya penyelamatan berlangsung dramatis di tengah kepanikan ratusan warga yang memadati lokasi kejadian di pinggiran Jakarta.
Sausan Sarifah, seorang penumpang berusia 29 tahun, menceritakan detik-detik mengerikan saat maut terasa sangat dekat di depan mata.
Ia mengalami patah tulang lengan dan luka robek yang sangat dalam pada bagian paha akibat hantaman benda tumpul.
Sausan sedang dalam perjalanan pulang kerja menuju rumah ketika kereta yang ia tumpangi berhenti mendadak di Stasiun Bekasi Timur.
Kejadian tersebut berlangsung dalam hitungan detik hingga seluruh penumpang tidak sempat menyelamatkan diri keluar dari rangkaian.
Penumpang sudah bersiap turun dari rangkaian kereta sebelum suara dentuman mesin lokomotif terdengar sangat memekakkan telinga.
“Ada dua pengumuman dari kereta komuter, semua orang siap turun dan tiba-tiba terdengar suara lokomotif, keras sekali,” kenang Sausan.
Kepanikan luar biasa pecah saat tubuh para penumpang saling tumpang tindih dan terjepit di dalam ruang gerbong yang menyempit.
Sausan menggambarkan situasi tersebut sebagai tumpukan manusia yang berjuang mendapatkan oksigen di tengah himpitan material besi.
“Tidak ada waktu untuk keluar dan semua orang akhirnya bertumpuk di dalam kereta, remuk satu sama lain,” lanjut Sausan.
Sausan merasa sangat beruntung karena posisi tubuhnya berada di tumpukan atas sehingga petugas bisa menariknya lebih cepat.
“Terima kasih Tuhan saya berada di atas sehingga saya bisa dievakuasi dengan cepat,” tutur Sausan dengan nada bicara yang masih bergetar.
Di sisi lain, petugas medis terus berteriak meminta tambahan tabung oksigen guna membantu pernapasan korban yang baru dikeluarkan.
Antrean ambulans mengular panjang dengan lampu sirine yang menyala di tengah kegelapan malam yang berubah menjadi mencekam.
Banyak penonton di lokasi kejadian tampak sangat terkejut melihat kondisi kereta yang sudah tidak berbentuk lagi di beberapa bagian.
Franoto Wibowo selaku juru bicara operator KAI menjelaskan dugaan awal penyebab rangkaian kereta komuter tersebut berhenti di jalur aktif.
Sebuah taksi diduga menyerempet badan kereta saat melewati perlintasan sebidang sehingga sistem pengoperasian kereta terpaksa berhenti total.
Posisi kereta yang tertahan di tengah lintasan inilah yang kemudian menjadi sasaran hantaman kereta api jarak jauh dari arah belakang.
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang hadir di lokasi memperingatkan bahwa jumlah korban kemungkinan besar akan terus bertambah.
“Menilai dari proses evakuasi yang masih berlangsung, kemungkinan jumlah korban masih bisa terus bertambah,” tegas Sufmi Dasco Ahmad.
Kecelakaan moda transportasi di Indonesia masih menjadi persoalan pelik yang belum menemukan solusi permanen bagi keselamatan publik.
Negara kepulauan ini sering mengalami insiden serupa karena faktor usia armada yang tua serta minimnya perawatan rutin pada infrastruktur.
Pada Januari 2024, tabrakan kereta serupa di Jawa Barat juga telah merenggut nyawa empat kru dan melukai puluhan orang lainnya.
Tragedi paling mematikan sebelumnya tercatat pada tahun 2015 ketika kereta komuter menghantam bus di Jakarta yang menewaskan 16 orang.
Kecelakaan di Bekasi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk melakukan audit menyeluruh terhadap sistem keamanan perlintasan sebidang.