- Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam menyebabkan 15 orang meninggal dan puluhan lainnya terluka.
- Anggota DPR Kawendra Lukistian menuding taksi Green SM sebagai pemicu kecelakaan akibat sering mogok di perlintasan kereta api.
- Kementerian Perhubungan memanggil manajemen Green SM serta membentuk tim khusus untuk mengevaluasi izin operasional perusahaan taksi tersebut.
Suara.com - Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Kawendra Lukistian, bereaksi keras atas tragedi kecelakaan kereta api yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (27/4) malam.
Insiden maut yang merenggut belasan nyawa tersebut diduga kuat dipicu oleh keberadaan taksi Green SM asal Vietnam di perlintasan rel.
Kawendra menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada seluruh korban dan keluarga yang ditinggalkan.
“Tragedi kecelakaan Kereta yang merenggut 15 nyawa dan melukai puluhan orang lainnya benar-benar memilukan hati kita. InsyaAllah, para korban husnul khotimah dan yang terluka diberi kekuatan,” ujar Kawendra kepada wartawan, Rabu (29/4/2026).
Politisi Gerindra ini juga menyinggung upaya panjang PT KAI dalam membenahi kualitas transportasi publik di Indonesia.
Ia menyayangkan jika kemajuan tersebut harus terganggu oleh faktor eksternal yang dinilai lalai.
“Sebagai pengguna setia Kereta Jabodetabek di era 2006–2010, saya menyaksikan betapa panjang dan sulitnya transformasi yang telah dilakukan oleh PT KAI hingga menjadi seperti sekarang. Namun, dedikasi besar untuk meningkatkan layanan nasional itu tidak boleh dicederai oleh kelalaian pihak eksternal,” tuturnya.
Berdasarkan temuan di lapangan, Kawendra menuding armada taksi Green SM sebagai penyebab awal gangguan perjalanan yang berujung pada kecelakaan beruntun tersebut.
Ia menyebut bahwa kejadian kendaraan dari perusahaan tersebut mogok atau terhenti di perlintasan bukan kali pertama terjadi.
"Setelah mencermati fakta lapangan, saya menyoroti keterlibatan taksi hijau Green SM sebagai pemicu awal. Ini bukan sekadar insiden tunggal, sudah beberapa kali terhenti di perlintasan kereta api dan banyak aduan masyarakat terkait taksi ini,” terang Kawendra.
Melihat fatalnya dampak yang ditimbulkan, Kawendra secara tegas meminta pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan, untuk memberikan sanksi terberat bagi perusahaan taksi asal Vietnam tersebut.
“Rasanya tidak berlebihan bila kita meminta pemerintah untuk mengevaluasi dan mencabut izin operasional perusahaan taksi asal Vietnam tersebut!," pungkasnya.
Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memanggil manajemen taksi Green SM (Xanh SM) guna memberikan klarifikasi pasca-kecelakaan hebat yang melibatkan KRL Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur.
Langkah ini diambil untuk mendalami peran serta kepatuhan standar keselamatan dari armada taksi listrik yang menjadi pemicu awal tabrakan maut tersebut.
Dirjen Perhubungan Darat, Aan Suhanan menegaskan bahwa Kemenhub juga telah membentuk tim khusus untuk membedah seluruh aspek operasional perusahaan taksi tersebut.