-
Serangan proyektil menghantam kapal tanker dan kargo di kawasan strategis Selat Hormuz.
-
Iran mengklaim kendali atas selat dan menantang hukum kebebasan navigasi internasional.
-
Amerika Serikat menginstruksikan tindakan militer tegas terhadap kapal patroli Iran yang mengancam.
Suara.com - Keamanan jalur perdagangan global kembali terancam setelah serangan proyektil misterius menghantam kapal tanker di Selat Hormuz.
Eskalasi ini menandai kembalinya aksi kekerasan di wilayah perairan paling strategis di dunia sejak akhir April lalu.
Dikutip dari AP, insiden ini mempertegas risiko fatal bagi pelayaran internasional di tengah upaya pengamanan ketat oleh pasukan militer Amerika Serikat.
![Secara geopolitik, Selat Malaka jauh lebih strategis dari Selat Hormuz. Komoditas perdagangan yang melintasi Selat Malaka juga lebih banyak dan lebih penting ketimbang Hormuz. [Suara.com/Gemini/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/53700-selat-hormuz-vs-selat-malaka.jpg)
Dua kapal menjadi sasaran utama dalam rangkaian serangan yang melibatkan kapal cepat kecil dan proyektil tidak dikenal.
Meskipun kerusakan terjadi pada lambung kapal, otoritas terkait melaporkan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan kapal pertama dicegat oleh sejumlah perahu kecil di dekat wilayah Sirik, Iran.
Teheran secara sepihak mengklaim memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz dan memberlakukan aturan bayar tol bagi pelayar.

Aksi ini dianggap sebagai tantangan langsung terhadap hukum internasional yang menjamin kebebasan navigasi bagi seluruh negara dunia.
Namun, media lokal Iran membantah adanya serangan dan menyebut aksi tersebut hanyalah pemeriksaan dokumen rutin kapal.
Pihak Iran menyatakan, “Iran membantah adanya serangan, dan mengatakan sebuah kapal yang lewat telah dihentikan untuk pemeriksaan dokumen sebagai bagian dari pemantauan.”
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya telah menginstruksikan militernya untuk mengambil tindakan tegas terhadap kapal patroli yang menebar ranjau.
Mantan Presiden Trump bulan lalu memerintahkan militer AS untuk, “Menembak dan membunuh perahu kecil Iran yang menyebarkan ranjau di selat tersebut.”
Kapal kedua yang menjadi korban adalah sebuah tanker yang dihantam proyektil saat berada di lepas pantai Fujairah, UEA.
Kejadian yang berlangsung menjelang tengah malam tersebut meningkatkan status ancaman keamanan di wilayah Teluk ke level kritis.
Kapal-kapal di sekitar Ras al-Khaimah juga melaporkan adanya peringatan radio misterius yang memerintahkan mereka untuk segera pindah.