Ancaman Keras Parlemen Iran ke Donald Trump, Intervensi Selat Hormuz Pelanggaran Gencatan Senjata

Pebriansyah Ariefana

Senin, 04 Mei 2026 | 12:31 WIB
Ancaman Keras Parlemen Iran ke Donald Trump, Intervensi Selat Hormuz Pelanggaran Gencatan Senjata
Kapal Perang Amerika Serikat (CENTROM)
baca 10 detik
  • Iran menyebut keterlibatan Amerika Serikat di Selat Hormuz melanggar kesepakatan gencatan senjata antar negara.

  • Parlemen Iran menolak mentah-mentah klaim Donald Trump terkait pengelolaan navigasi di Teluk Persia.

  • Ketegangan meningkat akibat perbedaan persepsi mengenai bantuan kemanusiaan dan kedaulatan wilayah perairan strategis.

Suara.com - Ketegangan diplomatik meningkat setelah Iran melabeli rencana keterlibatan Amerika Serikat di Selat Hormuz sebagai tindakan ilegal.

Langkah Washington yang ingin mengatur lalu lintas kapal dianggap merusak stabilitas kesepakatan damai yang sedang berjalan saat ini.

Dikutip dari Anadolu, Pemerintah Iran menekankan bahwa kendali penuh atas jalur perairan strategis tersebut berada di bawah otoritas rezim maritim regional.

Kapal perang Amerika Serikat USS Miguel Keith terdeteksi mondar-mandir di Selat Malaka dekat perairan Indonesia. AS perluas blokade untuk incar tanker minyak Iran di Indo-Pasifik. [Dok. usni.org]
Kapal perang Amerika Serikat USS Miguel Keith terdeteksi mondar-mandir di Selat Malaka dekat perairan Indonesia. AS perluas blokade untuk incar tanker minyak Iran di Indo-Pasifik. [Dok. usni.org]

Ibrahim Azizi selaku Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran memberikan peringatan yang sangat serius.

Beliau menegaskan bahwa campur tangan pihak luar dalam skema maritim baru akan membawa konsekuensi hukum internasional yang berat.

“Setiap campur tangan Amerika dalam rezim maritim baru di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata,” tegas Ibrahim Azizi.

Pernyataan ini muncul sebagai respon langsung terhadap narasi yang berkembang di media sosial mengenai kontrol wilayah perairan.

Mulai Senin (14/3) pukul 10.00 waktu Washington, Angkatan Laut AS bertindak sebagai polisi lalu lintas di Selat Hormuz dan bisa memicu perang terbuka dengan negara lain [Suara.com/AI]
Mulai Senin (14/3) pukul 10.00 waktu Washington, Angkatan Laut AS bertindak sebagai polisi lalu lintas di Selat Hormuz dan bisa memicu perang terbuka dengan negara lain [Suara.com/AI]

Azizi menyatakan bahwa masa depan Teluk Persia tidak akan ditentukan oleh opini subjektif pemimpin negara lain.

Pihak Iran menilai pernyataan dari Washington hanya merupakan upaya untuk menyudutkan posisi politik Teheran di mata dunia.

baca juga

Azizi secara eksplisit menolak gagasan bahwa keamanan jalur perdagangan dunia di wilayahnya harus dipandu oleh kekuatan barat.

“Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan dikelola oleh unggahan delusi Trump,” ujar Azizi melalui platform X miliknya.

Ia juga menambahkan kritik tajam mengenai upaya provokasi yang sering dilakukan melalui pernyataan publik yang tidak berdasar.

“Tidak ada yang akan percaya pada skenario permainan menyalahkan!” tambah Azizi dalam pernyataannya tersebut.

Sebelumnya, Donald Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat perlu memandu kapal-kapal yang terjebak di zona terbatas tersebut.

Langkah ini disebut oleh pihak Gedung Putih sebagai sebuah inisiatif bantuan untuk negara-negara netral di kawasan.

Donald Trump melalui platform miliknya mengeklaim bahwa bantuan navigasi ini adalah bentuk aksi kemanusiaan yang mendesak.

“Untuk kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberitahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal mereka dengan aman keluar dari perairan terlarang ini,” tulis Trump.

Namun, Iran tetap melihat tawaran bantuan tersebut sebagai upaya infiltrasi militer dan politik ke wilayah kedaulatan mereka.

Konflik ini berakar pada perselisihan panjang mengenai hak navigasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur energi dunia.

Ketegangan semakin memuncak menyusul keterlibatan militer di kawasan yang melibatkan kepentingan banyak negara besar di Timur Tengah.

Status gencatan senjata yang ada saat ini bersifat sangat rapuh dan bergantung pada penghormatan terhadap batas-batas wilayah laut.

Upaya pengelolaan maritim secara mandiri oleh Iran merupakan langkah Teheran untuk memperkuat posisi tawarnya di kancah internasional.

Setiap pergeseran kontrol di Selat Hormuz memiliki dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan pasokan minyak global.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

AS Luncurkan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz, Klaim Jamin Stabilitas Pasokan Minyak Mentah

AS Luncurkan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz, Klaim Jamin Stabilitas Pasokan Minyak Mentah

News | Senin, 04 Mei 2026 | 12:22 WIB

Proposal Iran Desak Penarikan Pasukan AS dan Pencabutan Blokade Selat Hormuz

Proposal Iran Desak Penarikan Pasukan AS dan Pencabutan Blokade Selat Hormuz

News | Senin, 04 Mei 2026 | 11:46 WIB

Kapal Kargo di Selat Hormuz Mulai Diserang, Dihantam Proyektil Misterius

Kapal Kargo di Selat Hormuz Mulai Diserang, Dihantam Proyektil Misterius

News | Senin, 04 Mei 2026 | 11:31 WIB

Terkini

Kecelakaan Beruntun di Pasaman, Dua Penumpang Luka-luka dan Sejumlah Kendaraan Rusak

Kecelakaan Beruntun di Pasaman, Dua Penumpang Luka-luka dan Sejumlah Kendaraan Rusak

Sumbar | Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Tragedi Proyek Sekolah Rakyat, 3 Pekerja Hanyut di Sungai Ogan Saat Menyeberang

Tragedi Proyek Sekolah Rakyat, 3 Pekerja Hanyut di Sungai Ogan Saat Menyeberang

Sumsel | Minggu, 02 Agustus 2026 | 22:50 WIB

Anak Kembali Aktif Bersekolah, Jangan Lupakan Perlindungan dari Demam Berdarah Dengue

Anak Kembali Aktif Bersekolah, Jangan Lupakan Perlindungan dari Demam Berdarah Dengue

Health | Minggu, 02 Agustus 2026 | 22:27 WIB

Bypass Jantung Kini Tak Perlu Belah Tulang Dada, Teknik Minimal Invasif Percepat Pemulihan

Bypass Jantung Kini Tak Perlu Belah Tulang Dada, Teknik Minimal Invasif Percepat Pemulihan

Health | Minggu, 02 Agustus 2026 | 22:04 WIB

Polisi Ungkap Plot Twist Kasus Jesslyn Wijaya, Dugaan Penculikan Terpatahkan

Polisi Ungkap Plot Twist Kasus Jesslyn Wijaya, Dugaan Penculikan Terpatahkan

News | Minggu, 02 Agustus 2026 | 21:33 WIB

IHSG Diproyeksi Menguat Besok, Ini Saham yang Bisa Dipantau

IHSG Diproyeksi Menguat Besok, Ini Saham yang Bisa Dipantau

Bisnis | Minggu, 02 Agustus 2026 | 20:47 WIB

Produk RI Makin Dilirik Asing, UMKM Perak Lokal Tembus Tiga Negara

Produk RI Makin Dilirik Asing, UMKM Perak Lokal Tembus Tiga Negara

Bisnis | Minggu, 02 Agustus 2026 | 20:41 WIB

Lowongan 94 Nakes di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rekrutmen Dibuka Agustus

Lowongan 94 Nakes di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rekrutmen Dibuka Agustus

Riau | Minggu, 02 Agustus 2026 | 20:32 WIB

BNI Wujudkan Mimpi Pasangan Miliki Rumah Pertama Setelah 14 Tahun Menikah

BNI Wujudkan Mimpi Pasangan Miliki Rumah Pertama Setelah 14 Tahun Menikah

Bisnis | Minggu, 02 Agustus 2026 | 20:28 WIB

Kevin Hardino dan Rachel Kesyah Aurellia Terpilih Jadi Bujang Gadis Palembang 2026

Kevin Hardino dan Rachel Kesyah Aurellia Terpilih Jadi Bujang Gadis Palembang 2026

Sumsel | Minggu, 02 Agustus 2026 | 20:27 WIB

×