-
Iran menyebut keterlibatan Amerika Serikat di Selat Hormuz melanggar kesepakatan gencatan senjata antar negara.
-
Parlemen Iran menolak mentah-mentah klaim Donald Trump terkait pengelolaan navigasi di Teluk Persia.
-
Ketegangan meningkat akibat perbedaan persepsi mengenai bantuan kemanusiaan dan kedaulatan wilayah perairan strategis.
Suara.com - Ketegangan diplomatik meningkat setelah Iran melabeli rencana keterlibatan Amerika Serikat di Selat Hormuz sebagai tindakan ilegal.
Langkah Washington yang ingin mengatur lalu lintas kapal dianggap merusak stabilitas kesepakatan damai yang sedang berjalan saat ini.
Dikutip dari Anadolu, Pemerintah Iran menekankan bahwa kendali penuh atas jalur perairan strategis tersebut berada di bawah otoritas rezim maritim regional.
![Kapal perang Amerika Serikat USS Miguel Keith terdeteksi mondar-mandir di Selat Malaka dekat perairan Indonesia. AS perluas blokade untuk incar tanker minyak Iran di Indo-Pasifik. [Dok. usni.org]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/20/77491-kapal-perang-amerika-serikat-uss-miguel-keith.jpg)
Ibrahim Azizi selaku Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran memberikan peringatan yang sangat serius.
Beliau menegaskan bahwa campur tangan pihak luar dalam skema maritim baru akan membawa konsekuensi hukum internasional yang berat.
“Setiap campur tangan Amerika dalam rezim maritim baru di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata,” tegas Ibrahim Azizi.
Pernyataan ini muncul sebagai respon langsung terhadap narasi yang berkembang di media sosial mengenai kontrol wilayah perairan.
![Mulai Senin (14/3) pukul 10.00 waktu Washington, Angkatan Laut AS bertindak sebagai polisi lalu lintas di Selat Hormuz dan bisa memicu perang terbuka dengan negara lain [Suara.com/AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/23543-ilustrasi-perang-terbuka-di-selat-hormuz.jpg)
Azizi menyatakan bahwa masa depan Teluk Persia tidak akan ditentukan oleh opini subjektif pemimpin negara lain.
Pihak Iran menilai pernyataan dari Washington hanya merupakan upaya untuk menyudutkan posisi politik Teheran di mata dunia.
Azizi secara eksplisit menolak gagasan bahwa keamanan jalur perdagangan dunia di wilayahnya harus dipandu oleh kekuatan barat.
“Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan dikelola oleh unggahan delusi Trump,” ujar Azizi melalui platform X miliknya.
Ia juga menambahkan kritik tajam mengenai upaya provokasi yang sering dilakukan melalui pernyataan publik yang tidak berdasar.
“Tidak ada yang akan percaya pada skenario permainan menyalahkan!” tambah Azizi dalam pernyataannya tersebut.
Sebelumnya, Donald Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat perlu memandu kapal-kapal yang terjebak di zona terbatas tersebut.
Langkah ini disebut oleh pihak Gedung Putih sebagai sebuah inisiatif bantuan untuk negara-negara netral di kawasan.
Donald Trump melalui platform miliknya mengeklaim bahwa bantuan navigasi ini adalah bentuk aksi kemanusiaan yang mendesak.
“Untuk kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberitahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal mereka dengan aman keluar dari perairan terlarang ini,” tulis Trump.
Namun, Iran tetap melihat tawaran bantuan tersebut sebagai upaya infiltrasi militer dan politik ke wilayah kedaulatan mereka.
Konflik ini berakar pada perselisihan panjang mengenai hak navigasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur energi dunia.
Ketegangan semakin memuncak menyusul keterlibatan militer di kawasan yang melibatkan kepentingan banyak negara besar di Timur Tengah.
Status gencatan senjata yang ada saat ini bersifat sangat rapuh dan bergantung pada penghormatan terhadap batas-batas wilayah laut.
Upaya pengelolaan maritim secara mandiri oleh Iran merupakan langkah Teheran untuk memperkuat posisi tawarnya di kancah internasional.
Setiap pergeseran kontrol di Selat Hormuz memiliki dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan pasokan minyak global.