- Dua kapal perusak AS memasuki Teluk melalui misi Project Freedom untuk memecah blokade Iran di Selat Hormuz.
- Konflik bersenjata di Selat Hormuz menyebabkan ratusan kapal komersial terjebak serta memicu kenaikan harga minyak global.
- Pemerintah Iran mengeluarkan ancaman serangan terhadap militer asing, sementara upaya diplomasi sedang dikaji melalui proposal perdamaian Pakistan.
Para eksekutif pelayaran menilai bahwa konvoi militer saja tidak cukup; mereka membutuhkan penghentian permusuhan secara menyeluruh melalui jalur diplomasi agar lalu lintas normal dapat pulih.
Data Krisis di Selat Hormuz:
Kapal Terjebak: Ratusan kapal dagang tertahan di dalam Teluk selama berbulan-bulan.
Personel: Sekitar 20.000 pelaut tidak dapat keluar dari zona konflik.
Kekuatan Militer: AS mengerahkan 15.000 personel tambahan dan lebih dari 100 pesawat tempur untuk mendukung "Project Freedom".
Upaya Diplomasi di Tengah Tekanan Politik
Di tengah ketegangan senjata, jalur diplomasi dilaporkan masih terbuka meski tersendat. Pemerintah Pakistan saat ini tengah mengkaji respons Washington terhadap proposal perdamaian 14 poin yang diajukan Teheran. Proposal tersebut mencakup penghentian perang di semua lini, termasuk serangan Israel ke Lebanon, sebagai syarat penyelesaian kebuntuan pelayaran.
Presiden Trump kini berada di bawah tekanan besar untuk memecahkan blokade Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada November mendatang.