- Data GLOBOCAN 2022 mencatat ratusan ribu kasus kanker di Indonesia dengan mayoritas pasien terdiagnosis pada stadium lanjut.
- MRCCC Siloam Semanggi menyelenggarakan Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta pada 22–24 Mei untuk membahas kemajuan penanganan kanker.
- Para pakar mendorong penerapan pengobatan presisi, teknologi modern, dan kolaborasi multidisiplin demi meningkatkan kualitas hidup pasien kanker.
Suara.com - Kanker masih menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan Indonesia. Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 mencatat sekitar 408.661 kasus baru dan 242.099 kematian akibat kanker. Lebih mengkhawatirkan, sekitar 60–70% pasien baru terdiagnosis saat sudah memasuki stadium lanjut—kondisi yang membuat penanganan menjadi lebih kompleks.
Situasi ini mendorong para pakar untuk mengubah pendekatan pengobatan kanker, dari yang bersifat umum menjadi lebih personal, presisi, dan berbasis kolaborasi lintas disiplin.
Pendekatan ini menjadi sorotan dalam The 6th Siloam Oncology Summit 2026 yang digelar oleh Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Siloam Semanggi pada 22–24 Mei 2026 di Jakarta. Forum ini menghadirkan puluhan ahli nasional dan internasional untuk membahas perkembangan terbaru dalam penanganan kanker.
Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan, MARS, menegaskan bahwa masa depan terapi kanker tidak bisa lagi disamaratakan untuk semua pasien.
“Melalui Siloam Oncology Summit 2026, kami berharap dapat memperkuat kolaborasi multidisiplin dan menjembatani keahlian global dengan praktik klinis di Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan yang lebih personal memungkinkan setiap pasien mendapatkan terapi yang sesuai dengan kondisi biologis dan karakteristik penyakitnya.
“Kami percaya bahwa masa depan penanganan kanker terletak pada pendekatan yang semakin personal, presisi, dan berbasis tim, sehingga setiap pasien dapat memperoleh terapi yang paling tepat dan berkualitas,” lanjut dr. Edy.
Tidak semua kanker memiliki karakter yang sama, bahkan dalam jenis yang serupa sekalipun. Inilah yang melahirkan konsep precision oncology, yaitu penanganan berbasis profil genetik, kondisi tubuh, hingga respons pasien terhadap terapi.
Pendekatan ini biasanya dilakukan melalui kerja sama Multidisciplinary Team (MDT), yang melibatkan berbagai spesialis—mulai dari onkologi medik, bedah, radiologi, patologi, hingga kedokteran nuklir. Dengan kolaborasi ini, keputusan terapi bisa diambil lebih cepat dan akurat.
Peran Teknologi dalam Terapi Kanker
Kemajuan teknologi juga memainkan peran besar dalam meningkatkan keberhasilan terapi. Salah satunya adalah penggunaan CT-LINAC (Computed Tomography Linear Accelerator), teknologi radioterapi modern yang memungkinkan dokter melihat tumor secara real-time saat terapi berlangsung.
Dengan teknologi ini, terapi radiasi bisa disesuaikan secara langsung dengan perubahan kondisi tumor, sehingga lebih presisi dan meminimalkan kerusakan jaringan sehat di sekitarnya.
Pendekatan ini dikenal sebagai adaptive radiotherapy, yang kini semakin banyak digunakan dalam praktik onkologi modern.
Lebih dari Sekadar Pengobatan
Penanganan kanker saat ini tidak hanya fokus pada penyembuhan, tetapi juga kualitas hidup pasien. Karena itu, aspek lain seperti perawatan paliatif, dukungan psikologis, hingga peran perawat dan farmasi onkologi juga menjadi bagian penting dalam terapi.