-
Okupansi hotel di kota tuan rumah Piala Dunia 2026 merosot jauh di bawah target.
-
Kendala visa dan pembatalan kamar oleh FIFA menjadi penyebab utama rendahnya reservasi.
-
Kebijakan imigrasi yang ketat membuat wisatawan asing enggan berkunjung ke Amerika Serikat.
Suara.com - Sektor perhotelan di berbagai kota penyelenggara Piala Dunia 2026 kini sedang menghadapi ancaman krisis akibat angka pemesanan kamar yang terjun bebas.
Meskipun jutaan tiket pertandingan telah ludes terjual, data lapangan menunjukkan bahwa antusiasme tersebut tidak berbanding lurus dengan reservasi penginapan.
Dikutip dari NPR, ketimpangan ini memicu kekhawatiran besar bagi para pemilik aset properti yang sebelumnya berharap pada lonjakan devisa dari kunjungan internasional.
![Hasil pembagian grup Piala Dunia 2026 resmi dirilis. Grup I dipastikan jadi grup neraka yang berisikan Prancis, Norwegia, Senegal, dan Irak. Cek daftarnya! [Dok. Philadelphia Soccer 2026]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/01/42223-logo-piala-dunia-2026.jpg)
Kondisi lesu ini diperparah oleh kebijakan imigrasi yang ketat serta tingginya biaya perjalanan menuju Amerika Serikat bagi fans global.
Banyak calon penonton lebih memilih untuk membatalkan rencana perjalanan mereka karena rumitnya birokrasi masuk ke negara paman sam tersebut.
Laporan terbaru dari American Hotel and Lodging Association (AHLA) mengungkapkan bahwa pembatalan skala besar oleh FIFA menjadi pemicu utama kekosongan kamar.
Organisasi sepak bola dunia tersebut secara mendadak melepas kuota kamar yang sebelumnya telah dipesan, sehingga membuat hotel kehilangan potensi pendapatan.

“Terlepas dari lebih dari 5 juta tiket yang terjual (untuk pertandingan Piala Dunia), permintaan ini belum diterjemahkan ke dalam pemesanan hotel yang kuat,” ungkap AHLA dalam laporannya.
Kota seperti Kansas City mencatat penurunan drastis, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan tingkat okupansi pada musim panas tahunan biasanya.
Data survei menunjukkan bahwa sekitar 85 hingga 90 persen hotel di Kansas City melaporkan angka reservasi yang sangat mengecewakan.
Survei terhadap ratusan operator hotel menunjukkan bahwa citra Amerika Serikat sebagai destinasi yang ramah bagi turis asing mulai luntur.
Calon pengunjung internasional merasa terbebani dengan masa tunggu visa yang lama serta kenaikan biaya administrasi yang signifikan.
“Bahkan dengan antisipasi global yang meningkat, jalur menuju AS bagi banyak pelancong Piala Dunia terasa semakin kurang seperti sambutan karpet merah,” jelas pihak AHLA.
Ada persepsi kuat di kalangan pelancong bahwa mereka akan menghadapi ketidakpastian proses masuk serta pemeriksaan bandara yang sangat ketat.
“Ada persepsi bahwa pelancong internasional mungkin menghadapi waktu tunggu visa yang lama, kenaikan biaya visa, dan ketidakpastian yang berkepanjangan seputar pemrosesan masuk,” tambah AHLA.
Meski mayoritas kota lesu, Miami dan Atlanta justru menunjukkan tren positif dengan angka pemesanan yang stabil atau bahkan melampaui target.
Sekitar 55 persen responden di Miami menyatakan bahwa proyeksi kunjungan mereka masih berada di atas ekspektasi awal yang ditetapkan.
Sementara itu, panitia lokal di Kansas City tetap optimistis bisa menarik 650.000 pengunjung meski data hotel saat ini berkata sebaliknya.
Pemerintah Amerika Serikat melalui Gedung Putih juga terus menegaskan komitmennya untuk menyukseskan turnamen sepak bola paling bergengsi ini.
“Presiden Trump fokus untuk memastikan bahwa ini bukan hanya pengalaman yang luar biasa bagi semua penggemar dan pengunjung, tetapi juga yang paling aman dan terjamin dalam sejarah,” ujar juru bicara Davis Ingle.
Masalah ini mencuat hanya enam minggu sebelum turnamen dimulai, di tengah harapan besar terhadap peringatan 250 tahun deklarasi kemerdekaan AS.
Kombinasi antara kuatnya nilai tukar dolar dan ketidakpastian kebijakan visa menjadi tembok penghalang bagi suporter dari luar negeri.
Awalnya, 11 kota di Amerika Serikat diproyeksikan akan meraup keuntungan berlipat ganda dari durasi tinggal wisatawan asing yang biasanya lebih lama.
Namun, tanpa adanya relaksasi aturan masuk dan kemudahan akses, target pemecahan rekor kehadiran FIFA mungkin sulit dibarengi dengan kesuksesan finansial perhotelan.
Krisis ini menjadi peringatan bagi industri pariwisata bahwa status tuan rumah saja tidak cukup untuk menjamin penuhnya okupansi kamar hotel.