“Kalau kita ingin mengurangi uncertainty information, ada dua cara. Pertama memastikan model PMT akurat dan sederhana (melalui) tim dan peer review process atau panel ahli pemodelan PMT secara lebih scientific. Ada keterbukaan, transparency dan peer review process,” kata Prof Arief.
Ia menambahkan kualitas data yang mutakhir menjadi faktor penting dalam memperbaiki akurasi bansos. Menurutnya, pembaruan data secara mandiri melalui mekanisme self-registration seperti digitalisasi bansos yang diuji coba di Banyuwangi perlu terus diperluas.
“Pastikan datanya paling mutakhir melalui self-registration yang dipilotkan di Banyuwangi dan 42 (daerah lainnya),” ujarnya.
Hadir dalam pertemuan tersebut, Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo Harmadi, Plt. Direktur Statistik Ketahanan Sosial BPS Budi Santoso, Tenaga Ahli Mensos Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis Andy Kurniawan, Tenaga Ahli DEN Rahmat Danu Andika serta Kepala Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial Kemensos Joko Widiarto. ***