- Presiden Italia Sergio Mattarella mengecam serangan militer Israel terhadap markas UNIFIL di Lebanon yang menewaskan personel penjaga perdamaian.
- Serangan tersebut menewaskan tiga personel asal Indonesia, sehingga pemerintah menuntut penyelidikan transparan dan akuntabilitas penuh atas insiden.
- Italia mendesak penghentian segera tindakan agresif di Lebanon untuk mencegah eskalasi konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Suara.com - Presiden Italia, Sergio Mattarella, mengecam keras serangan militer Israel terhadap Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) yang turut menewaskan sejumlah personel penjaga perdamaian, termasuk asal Indonesia.
Mattarella menyebut tindakan yang menargetkan misi perdamaian internasional tersebut tidak dapat diterima dan harus segera dihentikan demi mencegah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kecaman ini disampaikan sebagai respons atas meningkatnya ketegangan dan serangan di wilayah operasi UNIFIL.
Serangan Berulang di Sekitar Pos UNIFIL
Laporan Sky TG24 pada Kamis (14/5) menyebutkan bahwa Mattarella telah menyampaikan protes langsung kepada Presiden Israel, Isaac Herzog, melalui sambungan telepon.
"Serangan terhadap pasukan PBB di Lebanon merupakan tindakan yang 'tidak dapat diterima'," tegas Mattarella.
UNIFIL sebelumnya menyatakan keprihatinan atas meningkatnya aktivitas pesawat nirawak di sekitar posisi pasukan penjaga perdamaian di Lebanon selatan.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di dekat markas besar UNIFIL di Naqoura.
Sebelumnya, pada 8 April, Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mengonfirmasi bahwa tembakan peringatan dari Pasukan Pertahanan Israel merusak kendaraan milik pasukan penjaga perdamaian Italia di Lebanon.
Pada 2 April, pangkalan kontingen Italia dalam misi UNIFIL juga dilaporkan menjadi sasaran serangan pihak tidak dikenal.
Indonesia Tuntut Penyelidikan
Serangan tersebut juga menewaskan tiga personel penjaga perdamaian asal Indonesia yang tergabung dalam Kontingen Garuda.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah melayangkan protes resmi dan menuntut penyelidikan menyeluruh atas insiden tersebut.
Dalam pernyataannya, Indonesia menyerukan investigasi yang segera, transparan, dan akuntabel untuk mengungkap fakta serta pihak yang bertanggung jawab.
“Indonesia menyerukan dilakukannya penyelidikan segera, menyeluruh, dan transparan untuk mengungkap fakta, termasuk kronologi kejadian serta pihak yang bertanggung jawab, dan menegaskan bahwa akuntabilitas penuh harus ditegakkan,” demikian bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri beberapa waktu lalu.
Dua personel Indonesia gugur pada Senin (30/3/2026) dalam insiden di dekat wilayah Bani Hayyan, Lebanon selatan.
Tragedi itu terjadi sehari setelah Praka Farizal Rhomadon gugur akibat serangan artileri di dekat Adchit Al Qusayr.
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa keselamatan personel PBB harus dijamin dan setiap tindakan yang membahayakan peacekeepers merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Seruan untuk Pencegahan Eskalasi
Dalam percakapan dengan Presiden Israel, Mattarella juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas kawasan dan kebebasan navigasi di perairan internasional.
Kantor kepresidenan Italia menyebut pembicaraan berlangsung terbuka dan langsung. Italia berharap konflik di Timur Tengah dapat segera diredakan demi stabilitas regional dan global.
Kecaman dari Italia dan tuntutan Indonesia mencerminkan meningkatnya perhatian internasional terhadap keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB serta perlunya perlindungan terhadap mandat UNIFIL, demikian Antara.