-
Peluang gencatan senjata Rusia-Ukraina 2026 diprediksi mencapai lebih dari 50 persen tahun ini.
-
Ukraina berhasil memproduksi 70 persen kebutuhan militer secara mandiri di tengah krisis suplai Barat.
-
Tekanan ekonomi dan instabilitas domestik memaksa Kremlin mulai mempertimbangkan opsi penghentian perang.
Laksamana Giuseppe Cavo Dragone menekankan bahwa meski ekonomi Rusia melambat, kekuatan militer mereka tidak bisa diremehkan.
Moskow mungkin tidak akan pernah bersedia menandatangani dokumen perdamaian permanen yang mengakui kedaulatan penuh wilayah Ukraina. Namun, Volker meyakini bahwa kesepakatan untuk berhenti menembak adalah solusi paling realistis yang bisa dicapai tahun ini.
Waktu dianggap tidak lagi memihak pada Putin seiring dengan memburuknya situasi internal dan meningkatnya beban biaya perang.
Konflik ini berakar dari invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina yang dimulai sejak awal tahun 2022 silam. Setelah empat tahun pertempuran berdarah, situasi geopolitik 2026 berubah total akibat eskalasi perang di Timur Tengah yang melibatkan AS-Israel melawan Iran. Hal ini memaksa Ukraina melakukan diversifikasi produksi senjata domestik untuk mengurangi ketergantungan pada sekutu Barat.