- Mohsen Rezaei mengancam menjadikan Teluk Oman pemakaman kapal perang Amerika Serikat akibat berlanjutnya blokade maritim terhadap pelabuhan Iran.
- Presiden Donald Trump merespons tekanan tersebut dengan mempertimbangkan opsi militer bersama jajaran keamanan nasional pasca kunjungan dari Tiongkok.
- Konflik di Selat Hormuz ini mengancam stabilitas ekonomi dunia karena jalur tersebut merupakan akses utama bagi 20 persen pasokan minyak global.
Suara.com - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran melontarkan ancaman keras terhadap Amerika Serikat.
Mohsen Rezaei, mantan komandan Garda Revolusi Islam (IRGC) yang kini duduk di badan penasihat tertinggi Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, menyebut bahwa Teluk Oman bisa berubah menjadi “pemakaman” bagi kapal perang AS.
Ancaman ini muncul jika blokade maritim terhadap pelabuhan Iran terus berlanjut.
Iran Kehilangan Kesabaran atas Blokade
Dalam wawancara di televisi nasional, Rezaei menegaskan bahwa kesabaran Iran semakin menipis setelah berminggu-minggu aktivitas pelayaran terganggu.
"Semakin lama mereka melanjutkan blokade, semakin besar kerusakan terhadap ekonomi dunia," ujarnya.
Ia menilai blokade laut di luarnya Selat Hormuz yang diumumkan Presiden Donald Trump pada 13 April adalah bentuk nyata tindakan perang, sehingga Iran merasa berhak merespons secara militer.
Ancaman ini muncul di tengah situasi diplomasi yang rapuh. Upaya mediasi Pakistan sebelumnya sempat menghasilkan gencatan senjata pada 8 April, namun kedua pihak tetap menolak syarat satu sama lain untuk penyelesaian lebih luas.
Trump Perketat Tekanan Lewat Media Sosial

Trump sendiri tak tinggal diam. Lewat unggahan di media sosial, ia memperingatkan bahwa “the Clock is Ticking” bagi Iran.
Ia bahkan membagikan gambar yang menggambarkan Iran seolah dikepung oleh negara-negara tetangga, termasuk yang selama ini netral.
Tekanan ini memperlihatkan bahwa Washington tidak berniat melonggarkan blokade, meski dampaknya terhadap perdagangan global semakin terasa.
Menurut laporan Axios dan CNN, Trump baru saja menggelar rapat dengan jajaran keamanan nasional, termasuk Wakil Presiden J.D. Vance, Menlu Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, dan utusan khusus Steve Witkoff.
Pertemuan itu berlangsung beberapa jam setelah Trump kembali dari kunjungan kenegaraan ke Tiongkok, dengan agenda membahas opsi militer lanjutan.
Krisis Energi dan Jalur Vital Hormuz
Konflik ini berakar dari kampanye pengeboman AS-Israel terhadap infrastruktur Iran, yang dibalas dengan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Iran juga membatasi pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Penutupan jalur ini menambah tekanan pada pasar energi global, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut.
Dengan ancaman Iran yang semakin eksplisit dan tekanan AS yang terus meningkat, Teluk Oman kini menjadi simbol pertarungan geopolitik yang bisa berujung pada eskalasi militer lebih besar.
Dunia pun menunggu apakah blokade ini akan berakhir dengan kompromi diplomatik, atau justru membuka babak baru konfrontasi di perairan paling strategis di Timur Tengah.