- Presiden AS Donald Trump menunda serangan militer ke Iran setelah menerima desakan diplomatik dari para pemimpin negara-negara Teluk.
- Penundaan ini dipicu kekhawatiran sekutu terhadap potensi serangan balasan Iran menggunakan drone serta rudal yang mengancam fasilitas vital.
- Keputusan Trump juga dipengaruhi penurunan dukungan publik Amerika Serikat terhadap kebijakan perang di Timur Tengah menjelang pemilu sela.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menunda rencana serangan militer terhadap Iran setelah mendapat desakan langsung dari para pemimpin negara-negara Teluk.
Penundaan tersebut disebut berkaitan dengan kekhawatiran sekutu Arab Washington terhadap potensi balasan militer Iran menggunakan drone dan rudal jarak jauh.
Langkah itu juga terjadi di tengah menurunnya tingkat dukungan publik Amerika Serikat terhadap kebijakan perang Trump di Timur Tengah menjelang pemilu sela.
Desakan Negara Teluk dan Ancaman Washington
Trump mengumumkan melalui platform Truth Social bahwa operasi militer yang sebelumnya direncanakan pada hari Selasa ditunda untuk sementara waktu.
Ia menyebut keputusan tersebut diambil setelah adanya komunikasi dan negosiasi yang melibatkan pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Menurut Trump, pembicaraan itu bertujuan mencari kesepakatan baru terkait isu keamanan kawasan dan program nuklir Iran.
"TIDAK ADA SENJATA NUKLIR UNTUK IRAN!" tulis Trump dalam unggahannya.
Meski menunda operasi militer, Trump tetap menegaskan bahwa militer AS siap melancarkan serangan jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan.
Iran Beri Peringatan Keras
Menanggapi pernyataan Trump, seorang komandan senior militer Iran memperingatkan Washington agar tidak melakukan “kesalahan strategis dan salah perhitungan”.
Negara-negara Teluk disebut khawatir terhadap potensi balasan Iran yang dinilai mampu mengganggu fasilitas vital di kawasan, termasuk bandara, kilang petrokimia, dan pabrik desalinasi air.
Kekuatan rudal dan drone Iran menjadi faktor utama yang membuat sekutu AS di Timur Tengah memilih jalur diplomasi dibanding eskalasi militer terbuka.
Di sisi lain, posisi politik Trump di dalam negeri juga disebut mulai tertekan akibat meningkatnya penolakan publik terhadap konflik baru di Timur Tengah.
Dukungan Publik terhadap Trump Menurun