- Dompet Dhuafa dan pelaku usaha berencana menghadirkan ibadah qurban menggunakan hewan unta di Indonesia mulai tahun depan.
- Penerapan kurban unta memerlukan pemenuhan regulasi ketat terkait kesejahteraan hewan serta kesiapan fasilitas Rumah Pemotongan Hewan.
- Pemerintah diharapkan mendukung kebijakan teknis pengadaan dan penyembelihan unta impor yang rencananya didatangkan dari negara Australia.
Suara.com - Ibadah qurban di Indonesia berpotensi mengalami perkembangan baru dengan munculnya rencana penyediaan hewan kurban berupa unta.
Hal tersebut juga dihadirkan oleh salah satu lembaga Filantropi Islam sekaligus lembaga kemanusiaan, Dompet Dhuafa, dalam program Tebar Hewan Kurban (THK) 1447 Hijriah dengan memperkenalkan kurban unta untuk pertama kalinya.
Meski saat ini kurban unta lebih lazim dilakukan di luar negeri, sejumlah pihak mulai melirik potensi ini untuk diterapkan di tanah air, termasuk pemilik Mall Hewan Qurban, Haji Doni.
Haji Doni mengonfirmasi bahwa dirinya telah mendengar rencana terkait pengadaan hewan unta untuk kurban tahun depan.
Namun, ia menekankan bahwa rencana tersebut masih harus melewati berbagai tahapan regulasi yang ketat, terutama menyangkut kesejahteraan hewan (animal welfare) dan kesiapan fasilitas pemotongan.
"Di Indonesia animal welfare-nya kan harus ada. Untuk sementara ini hewan unta kan harus cukup umur ya. Jadi Insya Allah mungkin tahun depan ya," ujar Haji Doni saat ditemui Suara.com di Outlet Mall Hewan Qurban, Kelapa Dua, Depok, pada Kamis (21/5/2026).
"Izin-izin apa semuanya karena animal welfare-nya juga harus ikut juga, abattoir-nya juga harus ikut," katanya menambahkan.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya aturan mengenai lokasi penyembelihan.
Menurutnya, pemerintah memegang peranan kunci dalam menentukan apakah unta boleh disembelih di tempat umum atau wajib melalui Rumah Pemotongan Hewan (RPH) khusus.
"Apakah boleh nanti dia potong di sembarang tempat, apakah dia itu harus dipotong di RPH tertentu. Jadi mungkin Insya Allah ya kita lihat ya tahun 2027 ini pemerintah akan membantu kita untuk hewan kurbannya unta itu bisa disembelih di Indonesia ya," kata dia.
Terkait teknis pengadaan, Haji Doni melirik Australia sebagai negara asal impor yang paling realistis dibandingkan wilayah Afrika karena pertimbangan jarak.

Namun, mengenai harga jual di pasar domestik, ia mengaku masih harus menghitung variabel kurs mata uang dan biaya logistik lainnya.
"Nanti kita lihatlah (kisaran harga jual) begitu kan unta itu yang kita bisa impor ada dari Australia ya mungkin yang terdekat ya. Kalau dari Afrika itu terlalu jauh, mungkin dari Australia ya mungkin nanti kita lihatlah harganya kurs dolar-nya ini berapa itunya berapa begitu," jelasnya.
Saat ini, populasi unta memang sudah ada di Indonesia, namun mayoritas diperuntukkan bagi sektor pariwisata dan belum memenuhi kriteria umur untuk disembelih secara syariat.
"Ada sih ada sekarang unta kita lihat ya begitu, tapi dia tuh belum cukup umur ya untuk dia disembelih begitu. Adapun ada yang cukup umur itu untuk pariwisata ya, yang mana itu saya lihat itu untuk pariwisatanya, mungkin nanti ya bisa ya (untuk qurban). Semoga pemerintah bisa membantu ya minat hewan unta itu biar bisa disembelih di Indonesia," ungkap Doni.
Reporter: Tsabita Aulia