Langkah serupa juga dilakukan masyarakat di Desa Igirmranak, Wonosobo, Jawa Tengah. Perwakilan masyarakat setempat, Harun Purwati, mengatakan perubahan iklim telah meningkatkan risiko tanah longsor dan kekeringan di wilayah pegunungan yang menjadi sumber penghidupan warga.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, masyarakat menjalankan program ketahanan pangan yang mendorong setiap keluarga menanam berbagai jenis tanaman yang dapat membantu menjaga kesuburan tanah sekaligus menjadi sumber pangan alternatif.
“Programnya mewajibkan setiap warga untuk menanam tanaman seperti ubi yakon dan kacang-kacangan untuk memulihkan dan menyuburkan tanah,” kata Harun.
Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya menjadi kelompok yang terdampak oleh krisis iklim, tetapi juga aktor penting dalam membangun strategi adaptasi di tingkat komunitas. Dari pengelolaan pangan keluarga hingga gerakan penghijauan dan ketahanan pangan desa, perempuan berperan menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat di tengah perubahan iklim yang semakin nyata.
Penulis: Natasha Suhendra