- Badan Gizi Nasional meluncurkan aplikasi Reviu Menu MBG untuk melibatkan guru dan kepala posyandu dalam pengawasan kualitas makanan.
- Pengguna aplikasi dapat menilai aspek ketepatan waktu, aroma, rasa, dan variasi menu guna mendeteksi masalah distribusi secara dini.
- Data per 23 Mei 2026 menunjukkan 1.707 laporan dengan tingkat kelayakan konsumsi mencapai 99,88 persen di berbagai wilayah Indonesia.
Suara.com - Badan Gizi Nasional (BGN) meluncurkan aplikasi Reviu Menu MBG atau Organoleptik. Lewat sistem tersebut, guru hingga kepala posyandu kini bisa langsung memberikan penilaian terhadap kualitas makanan yang diterima para penerima manfaat MBG di lapangan.
Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya mengatakan aplikasi itu dikembangkan sebagai langkah baru untuk meningkatkan kewaspadaan seluruh pelaksana program dalam menjaga mutu makanan.
Menurut Sony, pengawasan kualitas MBG tidak lagi hanya dilakukan secara internal oleh BGN, tetapi juga melibatkan pihak penerima manfaat secara langsung.
“Aplikasi ini dikembangkan agar penerima manfaat ikut terlibat dalam pengawasan kualitas MBG. Dengan demikian Ka SPPG dan seluruh mitra semakin serius menjaga kualitas makanan yang didistribusikan,” kata Sony dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).
Dalam praktiknya, pengguna aplikasi merupakan PIC Kelompok Penerima Manfaat MBG, yakni guru yang ditunjuk sekolah dan kepala posyandu atau Kaposyandu.
Saat paket MBG diterima, mereka bisa langsung memberikan penilaian melalui sejumlah parameter yang tersedia di aplikasi.
Beberapa indikator yang dinilai antara lain ketepatan waktu distribusi makanan, aroma makanan, rasa makanan, hingga variasi menu yang disajikan kepada penerima manfaat.
BGN menyebut sistem tersebut dirancang agar evaluasi kualitas makanan bisa dilakukan lebih cepat, terukur, dan menjadi sistem deteksi dini jika ditemukan persoalan di lapangan.
Sony mengatakan keterlibatan guru dan Kaposyandu diharapkan dapat memperkuat pengawasan sekaligus meningkatkan akurasi evaluasi program MBG.
“Keterlibatan guru dan Kaposyandu dalam proses evaluasi diharapkan mampu meningkatkan akurasi pengawasan sekaligus menjadi sistem deteksi dini apabila ditemukan potensi masalah dalam distribusi maupun kualitas makanan," imbuhnya.
Berdasarkan data Dashboard Reviu Menu MBG per Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 21.31 WIB, tercatat sebanyak 1.707 laporan telah masuk dari berbagai wilayah.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.705 laporan atau 99,88 persen menyatakan makanan dalam kondisi layak konsumsi. Sementara hanya dua laporan yang menyebut makanan tidak layak dikonsumsi.
Data lain juga menunjukkan tingkat ketepatan waktu distribusi makanan mencapai 97,95 persen. Sebanyak 1.672 laporan menyebut makanan diterima tepat waktu atau bahkan lebih awal, sedangkan 35 laporan mencatat adanya keterlambatan distribusi.
Pada aspek kualitas sensorik, aroma makanan dinilai layak dalam 1.702 laporan atau sekitar 99,71 persen. Sementara dari sisi tampilan makanan, sebanyak 1.697 laporan atau 99,41 persen menyebut kondisi makanan layak dan sesuai standar.
Adapun dari aspek rasa, sebanyak 1.688 laporan atau 98,89 persen menilai rasa makanan dalam kondisi normal dan dapat diterima dengan baik oleh penerima manfaat.