- Kebakaran besar di Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan, menghanguskan 552 kios pada 28 Juli 2025 tanpa korban jiwa.
- Sepuluh bulan pascakebakaran, ratusan pedagang masih bertahan berjualan di lapak darurat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
- Pedagang menagih janji revitalisasi dari Gubernur DKI Jakarta yang hingga kini belum terealisasi maupun dikomunikasikan secara resmi.
Suara.com - Senin siang, 25 Mei 2026, langit Jakarta seolah sedang menguji batas kesabaran. Matahari tegak lurus, memanggang aspal dan reruntuhan Pasar Taman Puring tanpa ampun.
Di bawah kepungan terpal biru yang mulai rapuh dan pudar warnanya, puluhan pedagang masih setia di balik tumpukan bata serta sisa abu yang belum sepenuhnya tersapu.
Tak ada kemewahan tembok beton, apalagi peneduh yang layak. Hanya ada lembaran plastik darurat yang justru menyekap hawa panas, mengubah tiap jengkal lapak menjadi tungku yang menyesakkan.
Keringat menderas, membasahi baju yang mulai lepek. Di sudut-sudut sempit itu, kipas angin kecil berputar kepayahan—hanya mengaduk udara gerah yang sama.
Namun, di tengah kepungan suhu yang membakar, langkah kaki para pedagang itu tetap kokoh, menolak menyerah pada keadaan yang mereka sebut 'seadanya'."
Sudah Sepuluh Bulan
Senin, 28 Juli 2025. Jarum jam baru menunjukkan pukul 18.02 WIB ketika asap tebal mulai mengepul dari sela-sela kios di blok D dan E Pasar Taman Puring, Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Selatan menerima laporan dari warga dan Kelurahan Gunung. Enam unit pemadam kebakaran dari Pos Kramat Pela segera diberangkatkan. Menyusul laporan yang terus masuk, total 118 personel akhirnya diterjunkan ke lokasi. Satu operasi pemadaman skala besar di tengah kawasan padat permukiman.
Pasar Taman Puring yang berdiri di atas lahan seluas 2.000 meter persegi itu menjadi lautan api. Kios-kios kecil yang mayoritas berbahan triplek dan seng, berdiri berdempetan, menjadi bahan bakar sempurna. Api bergerak terlalu cepat.
Pukul 20.30 WIB, setelah lebih dari dua jam berjibaku, petugas akhirnya berhasil mengendalikan kobaran api. Tidak ada korban jiwa.
Namun kerugian material sangat masif dengan 552 kios hangus terbakar. Ratusan pedagang, penjual sepatu, pakaian, aksesori, dan berbagai kebutuhan sehari-hari, kehilangan seluruh modal dan sumber penghidupan mereka dalam satu malam.
Asmun, salah satu perwakilan pedagang, kini berdiri di antara deretan "kios" darurat itu. Di belakangnya, terlihat gerbang tua pasar yang kini hanya berdiri sebagai rangka besi, tanpa bangunan di belakangnya. Di antara kedua pilar gerbang itu tergantung sebuah spanduk besar yang nadanya sekaligus permohonan dan tuntutan kepada Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung:
"Kami pedagang Taman Puring menagih janji. Itu adalah janji Bapak Gubernur yang terhormat!," begitu setidaknya, bunyi potongan kalimat yang tertera dalam spanduk.

Kebakaran yang menghanguskan sebagian besar Pasar Taman Puring terjadi sekitar sepuluh bulan lalu. Yang tersisa kini adalah hamparan puing kehitaman, tumpukan material bongkaran, dan genangan debu yang beterbangan setiap kali angin berhembus.
Di tengah reruntuhan itulah, kehidupan ekonomi kecil-kecilan tetap berdenyut gigih dan penuh harap.
"Kondisi saat ini, alhamdulillah, kami masih berdagang seperti biasa bersama teman-teman, meskipun dengan seadanya," ujar Asmun, suaranya tenang namun menyimpan lelah yang dalam.
Ingat Janji Akan Direvitalisasi
Menurut Asmun, sesaat setelah kebakaran, Pemprov DKI Jakarta sempat menyatakan secara terbuka bahwa Pasar Taman Puring, sebagai pasar rakyat yang dibutuhkan warga setempat, akan direvitalisasi dan diperbaiki fasilitasnya. Pernyataan itu diklaim tersebar di berbagai media.
Bagi para pedagang, kata-kata itu adalah pegangan. Namun janji itu, hingga kini, belum terwujud dalam satu pun tindakan nyata.
"Di media sosial kan ada. Di beberapa TV juga sudah ada, janji Pak Gubernur di situ. Bisa dicek di sana," kata Asmun.
Yang lebih menyakitkan, ungkapnya, bukan sekadar menunggu, tetapi menunggu tanpa kepastian. Tidak ada pertemuan resmi, tidak ada sosialisasi. Wali Kota Jakarta Selatan saat ini, M. Anwar, disebut belum pernah sekali pun meninjau langsung lokasi sejak peristiwa kebakaran.
Sementara itu, wacana relokasi ke Cidodol dan Mampang sempat berhembus. Para pedagang mengaku mendengarnya, tetapi hanya sebagai kabar angin, bukan kebijakan resmi yang dikomunikasikan kepada mereka.
"Sedangkan aslinya, faktanya di sini belum ada pertemuan. Masih seperti ini, jualan seperti biasa," ujar Asmun.
Ketika ditanya apakah mereka bersedia pindah jika diajak berdialog, Asmun tidak menolak mentah-mentah. Tetapi syaratnya jelas, harus ada pembicaraan langsung dengan Gubernur, dan apapun keputusannya harus sesuai dengan janji yang pernah diucapkan.
"Intinya kami tetap menagih janji Pak Gubernur, seperti yang sudah dijanjikan. Revitalisasi, dan akan membantu yang sudah akan diperbaiki," tegas Asmun.

Doa Untuk Pramono
Di penghujung wawancara, Asmun sejenak keluar dari nada tuntutan. Ia menitipkan doa untuk sang Gubernur, yang diketahui tengah menunaikan ibadah haji.
"Semoga mendapatkan bimbingan, dapat pertolongan Allah hingga hajinya sempurna. Dan titip doa untuk seluruh warga Jakarta, khususnya Pasar Taman Puring," tutupnya.
Kata-kata itu menggantung di udara panas Taman Puring, antara ketulusan dan harapan yang sudah terlalu lama dipendam.
Di luar tenda, matahari terus memanggang. Terpal biru bergetar ditiup angin kering. Dan para pedagang itu, masih di sana, masih menunggu. Melipat kembali kemeja mereka yang basah oleh keringat, lalu kembali melayani pembeli yang sesekali masih datang ke sana.
Sepuluh bulan, dan mereka masih menunggu.